Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Gelisah Saat Bayi Tidur? Mengupas Sisi Psikologis Mengapa Orang Tua Baby Blues Kehilangan 'Rasa Aman' Sendirian

Bhagas Dani Purwoko • Selasa, 19 Mei 2026 | 21:29 WIB
BAYI: Ada rasa cemas yang dirasakan orang tua baru ketika melihat bayinya sedang tidur.
BAYI: Ada rasa cemas yang dirasakan orang tua baru ketika melihat bayinya sedang tidur.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Perasaan waswas yang tak berkesudahan saat mengasuh anak baru lahir, seperti dorongan impulsif untuk terus mengecek napas bayi saat ia tertidur lelap, bukanlah sekadar bentuk kasih sayang alami, melainkan sering kali merupakan alarm hilangnya kemampuan seseorang untuk merasa aman dalam kesendirian.

Dilansir dari media Psyche.co, para pakar psikoanalisis menyimpulkan bahwa ketidakmampuan orang tua untuk beristirahat ini bukanlah sebuah kegagalan pribadi yang harus diatasi dengan "disiplin" atau "kesadaran penuh", melainkan akibat dari beban mental kumulatif (seperti duka cita dan krisis sistemik) yang melampaui batas kewajaran.

Pada intinya, manusia membutuhkan "pelukan" dan kehadiran orang lain yang dapat diandalkan secara konsisten agar pikirannya benar-benar bisa merasa aman saat sedang sendirian.

Ilusi Kedewasaan dan Kewaspadaan Tanpa Henti

Banyak ibu atau ayah baru mungkin merasa sangat familier dengan rutinitas sunyi ini yang sering disebut baby blues: membungkuk di atas keranjang bayi, menempelkan tangan di dada si kecil secara perlahan hanya untuk memastikan masih ada kehangatan dan denyut kehidupan, bahkan sampai tanpa sengaja membuatnya terbangun karena kaget. 

Baca Juga: Perempuan & Kesehatan Mental Pascamelahirkan: Lebih dari Sekadar Baby Blues

Tidurnya sang bayi seolah menjadi satu-satunya prasyarat untuk mulai merasa aman, namun ironisnya, momen itu justru diisi dengan rentetan ketidakpercayaan.

Dunia medis sering melabeli kondisi ini dengan istilah klinis seperti baby blues atau bahkan post-partum depression yang mengakibatkan muncul rasa kecemasan, depresi, atau gangguan penyesuaian pascapersalinan. 

Namun, pengalaman mendalam dari banyak orang tua menunjukkan bahwa hal yang paling menyiksa bukanlah sekadar rasa takut, melainkan kenyataan pahit bahwa waktu sendirian tidak lagi menjadi momen pemulihan (restoration).

Kondisi psikologis ini jarang berdiri sendiri. Ia kerap diperparah oleh rentetan beban kehidupan eksternal, mulai dari duka akibat kehilangan anggota keluarga, merawat orang tua yang menua, hingga hilangnya struktur dukungan komunal di tengah situasi darurat seperti pandemi global.

Saat beban tugas menumpuk tanpa jeda, kesendirian berubah wujud menjadi giliran kerja baru untuk sekadar merancang strategi bertahan hidup.

Skrip pengasuhan yang dihafal dengan kaku sering kali disalahartikan sebagai "kedewasaan", padahal itu hanyalah wujud dari tekanan luar biasa yang mengeras menjadi kewaspadaan ekstrem.

Kacamata Psikoanalisis: Mengapa Kita Butuh Orang Lain untuk Bisa Sendiri?

Untuk memahami runtuhnya rasa percaya pada kesendirian ini, kita dapat menelusuri pemikiran para tokoh psikoanalisis terkemuka abad ke-20 yang mengkaji bagaimana pikiran manusia memproses tekanan:

Baca Juga: 25 Inspirasi Nama Bayi Perempuan Islami 2 Kata yang Bermakna Pembawa Rezeki: Bawa Keberuntungan Seumur Hidup!

Jalan Keluar: Mendistribusikan Beban untuk Kembali 'Bermain'

Wawasan psikologis di atas kertas tidak akan cukup untuk mengubah keadaan. Perubahan sejati hanya bisa terjadi melalui pergeseran radikal dalam situasi material dan hubungan sosial. Kewaspadaan ekstrem pascapersalinan baru akan mereda ketika beban fisik dan mental didistribusikan secara nyata.

Mendelegasikan tanggung jawab pengasuhan sepenuhnya kepada pasangan saat memungkinkan, atau bahkan melibatkan tenaga bantuan berbayar, adalah intervensi krusial.

Ketika beban untuk memastikan kelangsungan hidup tidak lagi dipikul sendirian secara absolut, pikiran akhirnya memiliki kelonggaran untuk berhenti memantau. Barulah pada titik ini, proses berduka yang sehat dapat berjalan, dan rasa aman internal perlahan kembali bersemayam.

Baca Juga: 100 Nama Bayi Perempuan Islami 2 Kata yang Bermakna Pembawa Rezeki dan Keberkahan

Ketika orang tua akhirnya merasa didukung secara kolektif, mereka akan berhenti bersiap menghadapi bencana buatan pikirannya sendiri. Kehidupan rumah tangga akan kembali memiliki ruang untuk hal-hal konyol, keluguan, dan keberanian untuk membiarkan segala sesuatunya sedikit goyah tanpa harus terburu-buru menstabilkannya.

Pada akhirnya, kesendirian yang sejati bukanlah kebalikan dari keterikatan sosial. Kemampuan untuk menyendiri dengan damai hanyalah salah satu cara yang lebih tenang agar keterikatan dan kasih sayang itu terus mengalir.

(Catatan: Referensi teori klinis dalam artikel ini d19isarikan dari literatur klasik psikoanalisis karya Donald Winnicott, Wilfred Bion, dan Melanie Klein). (*)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
#baby blues #psikologi #Aman #orang tua #Bayi