RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Perasaan waswas yang tak berkesudahan saat mengasuh anak baru lahir, seperti dorongan impulsif untuk terus mengecek napas bayi saat ia tertidur lelap, bukanlah sekadar bentuk kasih sayang alami, melainkan sering kali merupakan alarm hilangnya kemampuan seseorang untuk merasa aman dalam kesendirian.
Dilansir dari media Psyche.co, para pakar psikoanalisis menyimpulkan bahwa ketidakmampuan orang tua untuk beristirahat ini bukanlah sebuah kegagalan pribadi yang harus diatasi dengan "disiplin" atau "kesadaran penuh", melainkan akibat dari beban mental kumulatif (seperti duka cita dan krisis sistemik) yang melampaui batas kewajaran.
Pada intinya, manusia membutuhkan "pelukan" dan kehadiran orang lain yang dapat diandalkan secara konsisten agar pikirannya benar-benar bisa merasa aman saat sedang sendirian.
Ilusi Kedewasaan dan Kewaspadaan Tanpa Henti
Banyak ibu atau ayah baru mungkin merasa sangat familier dengan rutinitas sunyi ini yang sering disebut baby blues: membungkuk di atas keranjang bayi, menempelkan tangan di dada si kecil secara perlahan hanya untuk memastikan masih ada kehangatan dan denyut kehidupan, bahkan sampai tanpa sengaja membuatnya terbangun karena kaget.
Baca Juga: Perempuan & Kesehatan Mental Pascamelahirkan: Lebih dari Sekadar Baby Blues
Tidurnya sang bayi seolah menjadi satu-satunya prasyarat untuk mulai merasa aman, namun ironisnya, momen itu justru diisi dengan rentetan ketidakpercayaan.
Dunia medis sering melabeli kondisi ini dengan istilah klinis seperti baby blues atau bahkan post-partum depression yang mengakibatkan muncul rasa kecemasan, depresi, atau gangguan penyesuaian pascapersalinan.
Namun, pengalaman mendalam dari banyak orang tua menunjukkan bahwa hal yang paling menyiksa bukanlah sekadar rasa takut, melainkan kenyataan pahit bahwa waktu sendirian tidak lagi menjadi momen pemulihan (restoration).
Kondisi psikologis ini jarang berdiri sendiri. Ia kerap diperparah oleh rentetan beban kehidupan eksternal, mulai dari duka akibat kehilangan anggota keluarga, merawat orang tua yang menua, hingga hilangnya struktur dukungan komunal di tengah situasi darurat seperti pandemi global.
Saat beban tugas menumpuk tanpa jeda, kesendirian berubah wujud menjadi giliran kerja baru untuk sekadar merancang strategi bertahan hidup.
Skrip pengasuhan yang dihafal dengan kaku sering kali disalahartikan sebagai "kedewasaan", padahal itu hanyalah wujud dari tekanan luar biasa yang mengeras menjadi kewaspadaan ekstrem.
Kacamata Psikoanalisis: Mengapa Kita Butuh Orang Lain untuk Bisa Sendiri?
Untuk memahami runtuhnya rasa percaya pada kesendirian ini, kita dapat menelusuri pemikiran para tokoh psikoanalisis terkemuka abad ke-20 yang mengkaji bagaimana pikiran manusia memproses tekanan:
-
Donald Winnicott dan Paradoks Kesendirian - Analis asal Inggris, Donald Winnicott, mencetuskan sebuah paradoks brilian mengenai perkembangan psikologis:
"Dasar dari kemampuan untuk menyendiri adalah pengalaman menyendiri di hadapan seseorang." Menurutnya, kemampuan untuk rileks, bermain, dan berpikir dalam kesendirian bukanlah sifat bawaan (personality trait). Kita baru bisa merasa aman sendiri jika kita memiliki "penyediaan lingkungan yang cukup baik" dan merasakan "penyesuaian progresif yang adaptif terhadap kebutuhan individu". Kehadiran orang yang penuh perhatian dan minim kecemasan akan terinternalisasi ke dalam batin, mengubah rasa rentan menjadi rasa aman.
-
Wilfred Bion dan Pikiran yang Meluap - Pemikir psikoanalitik Inggris lainnya, Wilfred Bion, menjelaskan apa yang terjadi ketika rentetan trauma atau pengalaman datang lebih cepat daripada kemampuan otak untuk memahaminya. Ketika tidak ada dukungan (containment) yang cukup untuk mengubah tekanan menjadi pemikiran reflektif, pengalaman itu akan meledak menjadi tindakan kewaspadaan (hyper-vigilance). Akibatnya, pikiran tidak pernah bebas mengembara; ia terus berpatroli seolah sedang bertugas.
-
Melanie Klein dan Ruang untuk Berduka - Psikoanalis Melanie Klein menekankan pentingnya mencapai "posisi depresif", yang dimaknainya bukan sebagai kesedihan, melainkan kapasitas untuk menoleransi ambivalensi, menyatukan aspek baik dan buruk kehidupan tanpa harus memisahkannya secara ekstrem (aman vs. tidak aman, hidup vs. mati). Namun, posisi seimbang ini mustahil dicapai jika seseorang ditunjuk sebagai penjaga tunggal tanpa bantuan.
Jalan Keluar: Mendistribusikan Beban untuk Kembali 'Bermain'
Wawasan psikologis di atas kertas tidak akan cukup untuk mengubah keadaan. Perubahan sejati hanya bisa terjadi melalui pergeseran radikal dalam situasi material dan hubungan sosial. Kewaspadaan ekstrem pascapersalinan baru akan mereda ketika beban fisik dan mental didistribusikan secara nyata.
Mendelegasikan tanggung jawab pengasuhan sepenuhnya kepada pasangan saat memungkinkan, atau bahkan melibatkan tenaga bantuan berbayar, adalah intervensi krusial.
Ketika beban untuk memastikan kelangsungan hidup tidak lagi dipikul sendirian secara absolut, pikiran akhirnya memiliki kelonggaran untuk berhenti memantau. Barulah pada titik ini, proses berduka yang sehat dapat berjalan, dan rasa aman internal perlahan kembali bersemayam.
Baca Juga: 100 Nama Bayi Perempuan Islami 2 Kata yang Bermakna Pembawa Rezeki dan Keberkahan
Ketika orang tua akhirnya merasa didukung secara kolektif, mereka akan berhenti bersiap menghadapi bencana buatan pikirannya sendiri. Kehidupan rumah tangga akan kembali memiliki ruang untuk hal-hal konyol, keluguan, dan keberanian untuk membiarkan segala sesuatunya sedikit goyah tanpa harus terburu-buru menstabilkannya.
Pada akhirnya, kesendirian yang sejati bukanlah kebalikan dari keterikatan sosial. Kemampuan untuk menyendiri dengan damai hanyalah salah satu cara yang lebih tenang agar keterikatan dan kasih sayang itu terus mengalir.
(Catatan: Referensi teori klinis dalam artikel ini d19isarikan dari literatur klasik psikoanalisis karya Donald Winnicott, Wilfred Bion, dan Melanie Klein). (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko