RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Era kerja modern yang serba cepat, multitasking sering dianggap sebagai keterampilan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan banyak pekerjaan secara bersamaan.
Namun, bukti ilmiah menunjukkan bahwa persepsi ini seringkali tidak sesuai dengan realitas performa kerja manusia.
Berdasarkan berbagai penelitian akademik, multitasking justru cenderung menurunkan efisiensi dan kualitas kerja, terutama ketika tugas-tugas menuntut pemrosesan kognitif yang tinggi.
Multitasking dan Biaya Kognitif: Temuan Empiris
Sebuah studi dari Memory & Cognition yang dipublikasikan pada tahun 2025 menunjukkan bahwa ketika individu melakukan tiga tugas sekaligus (triple-task), performa mereka lebih buruk dibandingkan ketika fokus pada tugas tunggal atau dual-task, meskipun mereka telah berlatih sebelumnya.
Penelitian ini menegaskan bahwa penambahan jumlah tugas yang harus dikerjakan secara bersamaan membawa biaya multitasking yang nyata terhadap waktu respon dan akurasi kinerja.
Lebih jauh, analisis dari Experimental Economics menemukan bahwa ketika subjek diberi kebebasan untuk menjadwalkan multitasking mereka sendiri, performa tetap lebih buruk dibandingkan pekerjaan yang dilakukan secara berurutan (sequential execution).
Hal ini memperlihatkan bahwa bahkan kontrol atas jadwal kerja tidak sepenuhnya mengatasi efek negatif switching cost, yaitu biaya waktu dan energi mental yang dibutuhkan saat berpindah dari satu tugas ke tugas lain.
Konsep “Switching Cost” dan Dampaknya pada Produktivitas
Para ahli psikologi kognitif sering menyoroti fenomena task-switching cost: ketika otak berpindah antara tugas yang berbeda, dibutuhkan energi mental tambahan untuk menyimpan, menghapus, dan mengambil informasi terkait tugas sebelumnya.
Proses ini bukan hanya memakan waktu tetapi juga meningkatkan kemungkinan kesalahan serta menurunkan kualitas hasil. Konsep ini diperkuat dalam berbagai kajian psikologi dan neuroscience yang melihat multitasking sebagai pembagi sumber daya perhatian (attentional resources) yang terbatas, yang pada akhirnya menurunkan efisiensi kognitif.
Dampak pada Perhatian, Memori, dan Efisiensi Kerja
Selain menurunkan performa langsung dalam tugas, multitasking juga terbukti memengaruhi elemen mendasar fungsi kognitif seperti memori kerja (working memory) dan kontrol eksekutif (executive control).
Sebagai contoh, studi Media-multitasking and cognitive control yang diterbitkan di Scientific Reports menunjukkan bahwa ketika peserta terlibat dalam kondisi multitask, akurasi dan waktu reaksi mereka menurun dibandingkan ketika melakukan tugas tunggal saja, yang mengindikasikan bahwa multitasking dapat membebani fungsi kognitif secara nyata.
Kapan Multitasking Dapat Terlihat “Efektif”?
Beberapa peneliti memberikan konteks bahwa dalam tugas-tugas sederhana atau yang sudah sangat terlatih, multitasking mungkin tidak terlalu merugikan.
Dalam tinjauan literatur jurnal Jurnal Psikologi Mandala, dikutip beberapa penelitian yang menemukan bahwa individu yang terbiasa melakukan multitasking dan dapat menetapkan prioritas tugas dapat mempertahankan performa yang tidak terlalu berbeda dibandingkan tugas tunggal, meski secara umum tidak berarti multitasking meningkatkan kinerja secara konsisten.
Ini mencerminkan pandangan nuansa dalam riset kognitif: performa saat multitasking bergantung pada kompleksitas tugas, kemampuan individu, dan konteks pekerjaan. Meski demikian, bukti empiris umumnya menunjukkan bahwa multitasking bukanlah strategi yang paling efisien dalam pekerjaan yang menuntut konsentrasi tinggi atau keputusan kompleks.
Fokus Lebih Efektif daripada Multitasking
Berdasarkan bukti dari jurnal ilmiah:
-
Multitasking sering menyebabkan penurunan performa kerja baik dari segi waktu penyelesaian maupun tingkat kesalahan, terutama ketika tugas memerlukan pemrosesan kognitif tinggi.
-
Proses multitasking sebenarnya sering kali adalah task-switching, yang membawa biaya kognitif nyata dan mengurangi efisiensi kerja.
-
Hasil penelitian pada fungsi kontrol kognitif dan kecepatan reaksi menunjukkan bahwa semakin banyak tugas yang dilakukan bersamaan, semakin rendah akurasi serta semakin lambat respon.
-
Hanya dalam konteks tertentu, seperti tugas otomatis atau sangat sederhana, multitasking bisa tampak tidak terlalu merugikan, namun itu bukan bukti bahwa multitasking meningkatkan performa secara umum.
Untuk pekerja dan manajer saat ini, hasil-hasil ini menekankan pentingnya mengatur beban kerja secara sekuensial (monotasking) dan mengurangi gangguan jika tujuan utamanya adalah kualitas, efisiensi, dan konsentrasi tinggi. (kam/bgs)
Editor : Hakam Alghivari