RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Saat menikmati sambal, banyak orang sering mengira bahwa biji cabai adalah bagian yang membuat rasa pedas semakin membakar lidah.
Namun, fakta ilmiah membuktikan hal berbeda. Bukan biji, melainkan plasenta cabai yang terdapat dibagian putih tipis di dalam buah, yang menyimpan rahasia kepedasan.
Bagian Cabai yang Paling Pedas
Rasa pedas pada cabai berasal dari senyawa bernama capsaicin. Senyawa inilah yang memicu sensasi panas di mulut dan tubuh.
Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Agronomy (2023), plasenta cabai mengandung kadar capsaicin jauh lebih tinggi dibandingkan daging buah maupun bijinya.
Baca Juga: Resep Tempe Krispi Cabai Garam: Camilan Gurih Pedas yang Bikin Susah Berhenti Ngemil
Jadi, anggapan bahwa biji adalah sumber kepedasan hanyalah mitos. Biji cabai memang terasa pedas, tetapi itu terjadi karena biji bersentuhan langsung dengan plasenta.
Artinya, pedas pada biji hanya “numpang” dari lapisan putih di dalam cabai tersebut.
Apa Itu Plasenta Cabai?
Plasenta adalah urat putih tipis yang menempel di bagian dalam dinding cabai dan menjadi tempat melekatnya biji.
Dari sinilah capsaicin diproduksi dalam jumlah besar. Penelitian lain dalam jurnal Molecules (2016) menegaskan bahwa sel-sel epidermal plasenta bertanggung jawab memproduksi capsaicin. Jika bagian ini dibuang, tingkat kepedasan cabai akan turun drastis.
Cara Mengukur Tingkat Pedas Cabai
Kadar capsaicin pada cabai biasanya diukur dengan Skala Scoville (Scoville Heat Unit/SHU). Skala ini pertama kali diperkenalkan oleh Wilbur Scoville pada tahun 1912.
Baca Juga: Resep Sambal Tempoyak Khas Sumatera Selatan, Perpaduan Gurihnya Durian dan Bara Pedas Cabai
Semakin tinggi nilai SHU, semakin pedas cabainya. Contohnya, cabai rawit bisa mencapai 50.000–100.000 SHU, sementara paprika manis hampir tidak memiliki capsaicin.
Metode modern kini menggunakan High Performance Liquid Chromatography (HPLC) untuk menghitung kadar capsaicinoid secara akurat, lalu dikonversi ke SHU.
Faktor yang Mempengaruhi Pedas Cabai
Selain plasenta, ada beberapa faktor lain yang memengaruhi tingkat kepedasan cabai, di antaranya:
- Varietas cabai (cabai rawit, cabai keriting, hingga jalapeno memiliki tingkat pedas berbeda).
- Kondisi tumbuh (suhu, cahaya matahari, dan kesuburan tanah).
- Umur buah saat dipetik (cabai muda biasanya lebih pedas daripada cabai yang terlalu matang).
- Bagian plasenta yang disertakan dalam masakan.
Jadi, ketika makan sambal atau lalapan, tingkat pedas bisa lebih “nendang” jika plasenta masih menempel dan ikut diolah.
Baca Juga: Harga Cabai di Bojonegoro Masih Belum Normal: Turun Jelang Lebaran, Namun Masih Pedas Membara
Kesimpulan
Kini jelas bahwa bagian cabai yang paling pedas bukanlah biji, melainkan plasenta. Biji hanya ikut pedas karena bersentuhan dengan lapisan putih tersebut.
Informasi ini penting, terutama bagi pecinta pedas maupun ibu rumah tangga yang ingin mengatur tingkat kepedasan masakan.
Jadi, kalau ingin sambal yang super pedas, biarkan plasenta cabai tetap ada. Sebaliknya, jika ingin sedikit lebih ringan, pisahkan bagian putih itu sebelum diolah. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko