Oleh:
Reyta N.O
Warga Jalan K.S Tubun Bojonegoro, Jawa Timur
SUARA adzan subuh seketika membangunkan tidurku. Kupaksakan tubuhku yang masih terlena di atas balai bambu beralas tikar untuk segera bangun. Jika rasa malas ini aku turuti, sama saja aku tidak akan makan hari ini dan bersiap menerima bogem mentah dari laki-laki brengsek itu. Ya, siapa lagi kalau bukan suamiku. Setiap hari aku harus bisa menyisihkan uang untuk membelikannya rokok dan menyediakan makanan untuknya. Malam ini dia tidak pulang ke rumah, entahlah aku pun tak peduli dia ada dimana.
Aku berjalan menuju kamar mandi beratap langit di belakang rumah, kubasahi wajahku dengan air wudhu. Udara pagi dan air sumur terasa menyegarkan dan membuat wajahku terasa dingin. Kuambil mukena yang tergantung di tembok, lalu perlahan kuhadapkan diriku pada sang pencipta. Sholat selalu membuatku merasa damai dan betah berlama-lama untuk mencurahkan segala keluh kesah dan penderitaanku.
Selesai sholat subuh, aku segera menyiapkan sepeda dan perlengkapanku. Setiap hari aku harus berkeliling dari satu desa ke desa lainnya untuk memungut padi. Ya, pekerjaanku adalah mengasak padi. Aku mencari sisa-sisa padi di sawah yang habis dipanen. Bulir demi bulir padi aku kumpulkan dalam wadah, kemudian aku pisahkan gabah (padi yang masih terbungkus kulit) yang isi dan yang tidak. Karena jika masih bercampur harga jualnya lebih murah. Gabah yang terkumpul aku jual, kadang aku tukarkan dengan beras atau barang kebutuhan lainnya, dan yang pasti harus ada rokok satu bungkus.
Aku mengayuh pedal sepeda bututku menyusuri sepanjang jalan desa, tiap hari kutempuh jarak puluhan kilometer untuk mencari sawah-sawah yang sedang panen. Hufff..... Matahari sudah berada tepat di atas kepalaku, terik sinarnya terasa menyengat, kulit tubuhku terasa terbakar. Aku fokus memunguti bulir bulir padi yang masih menempel di batang sisa ngedos (pemisahan antara biji padi dengan batang menggunakan alat) tak terkecuali bulir-bulir padi yang berjatuhan di tanah. Bagiku satu bulir padi adalah rejeki yang tak boleh ku lewatkan. Tak ku hiraukan panas matahari yang membakar tubuhku. Sesekali kudengar canda tawa dan gurauan sesama pengasak padi.
Hari ini hasil ngasak padi yang kudapat tidak seberapa. Dulu sehari aku bisa mendapatkan gabah sekitar 4-5 kg per hari, kini maksimal aku hanya bisa mengumpulkan 2-3 kg per hari. Ngasak padi sudah menjadi pekerjaanku sejak aku menikah. Ya, kehidupanku setelah menikah ternyata tak seindah yang kubayangkan. Karena himpitan keadaan dan kebutuhan untuk bertahan hidup aku terpaksa harus ngasak, dengan hanya berbekal ijazah SD, tak ada pekerjaan lain yang bisa kuharapkan.
Meskipun ngasak padi pekerjaan yang kasar dan melelahkan, aku justru merasa nyaman ketika ngasak padi, daripada tinggal dirumah yang sudah seperti neraka. Aku muak melihat kelakuan suamiku, kerjaannya hanya mabuk mabukan dan judi sabung ayam. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa, rumah itu satu satunya tempatku kembali untuk mengistirahatkan tubuhku. Entah sampai kapan aku menjalani kehidupan seperti ini.
Kumandang adzan maghrib sayup-sayup terdengar di kejauhan. Aku segera mengemas barang-barang dan gabah hasil ngasak hari ini. Tak banyak gabah yang berhasil aku kumpulkan. Hanya dua sawah yang berhasil aku singgahi untuk ngasak, sementara pengasak padi kini semakin banyak. Jadi kami harus berbagi bulir-bulir padi yang tidak seberapa itu dengan beberapa pengasak. Sebelum sampai ke rumah aku mampir ke toko mak ijah untuk menukarkan gabah hari ini.
"Sum, ini gabahnya 3 kg karena masih banyak campuran gabah yang nggak ada isinya jadi ini per kilo cuma 5.000, piye sum mau ndak? ", tanya mak ijah
"Iya mak, nggak apa-apa yang penting laku" sahutku
Dengan uang 15.000 aku bergegas pulang ke rumah, seingatku masih ada ketela di rumah nanti bisa aku rebus untuk makan malam.
"Sontoloyo, kamu pergi seharian cuma dapat uang lima belas ribu? " Ocehan suamiku tak ku hiraukan lagi. Aku tetap saja melanjutkan merebus ketela. Jika kuladeni, omongannya tambah tidak karu-karuan.
"Heh, perempuan keparat aku sedang bicara denganmu !" suaranya meninggi menandakan amarahnya semakin memuncak
Bau anyir tuak yang keluar dari mulutnya, membuatku terasa mual. Praang.....!! Dia menendang panci yang masih di atas tungku, seketika ketela yang sedang aku rebus berserakan di lantai tanah dapur, air rebusan ketela yang mendidih mengenai punggung kakiku sebelah kanan. Tangan kekarnya mencengkeram lenganku, "Heh... Perempuan bodoh kemana saja kamu seharian ini, kenapa cuma ini uang yang kau dapat. Jangan-jangan uangnya kamu sembunyikan, awas kalau kamu berani macam-macam sama aku " ancamnya.
Aku berusaha melepaskan cengkeramannya, akupun tidak bisa menghindar karena kakiku yang tersiram air panas, perihnya sampai menusuk tulang kakiku. Dengan terbata-bata aku menjawab,"hari ini hanya ada dua sawah yang panen, itupun yang satu pakai mesin. pengasaknya juga banyak, jadi cuma dapat sedikit” sahutku.
"Aah.... Omong kosong" plaaak.. sebuah tamparan membuat pipi kiriku terasa panas. Kini rambutku yang menjadi sasaran amarahnya, dia jambak rambutku lalu mendorongku ke arah belakang. Bruuk.... kepalaku sepertinya membentur benda keras.
Perlahan-lahan kubuka mataku, tampak sekelilingku sangat berantakan. Tampak tungku dengan bara kayu yang masih memerah, panci dan ketela berserakan bercampur abu, rak piring roboh dengan segala isinya, pecahan piring dan gelas rata berserakan di lantai. Perlahan aku berusaha bangun, lalu kuseret tubuhku sedikit ke belakang. Kusandarkan tubuhku di tiang kayu yang menopang atap dapur. Sepertinya tadi aku sempat tidak sadarkan diri, karena aku tidak mengingat beberapa kejadian yang telah memporak porandakan dapur ku. Yang kuingat hanya cengkeraman keras tangan suamiku diatas rambut yang membuat rambutku terasa mau lepas dari kepalaku. Ah... Sudahlah. Bukankah ini sudah biasa bagiku.
***
Hari tampaknya sudah mulai berganti, guratan warna jingga dilangit menandakan mentari yang bersiap bangun dari peraduannya. Aku bergegas menyiapkan peralatan mengasak dan sepedaku, tak ku hiraukan rasa ngilu di seluruh badan dan pening di kepalaku. Sebelum berangkat kubebat kaki kananku yang tersiram air panas kemarin, supaya terlindungi dan tidak terasa perih. Aku memilih untuk tetap berangkat mengasak padi, daripada meratapi nasib ku di rumah ini. Kukayuh sepedaku, ku ikuti kemanapun arah angin akan membawaku pergi menuju sawah- sawah sumber rejekiku hari ini.
"Sum, kenapa badanmu lebam-lebam gitu, kamu dipukuli Surono lagi ?" Parti bertanya dengan wajah cemas. Aku hanya diam. "Oalah Sum.. Sum, laki-laki brengsek gitu kok masih kamu pelihara. Kamu itu masih muda, masih banyak laki-laki yang mau sama kamu. Apa yang bisa kamu andalkan dari Surono. Klo aku jadi kamu, sudah sejak dulu kutinggalkan laki-laki pengangguran dan tukang mabok itu" raut wajah Parti tampak kesal.
Aku menghela nafas panjang. Jika bukan karena baktiku pada orang tua, aku pun tak sudi menikah dengan Surono. Bapak punya hutang banyak dengan Surono gara-gara judi sabung ayam, untuk menebusnya aku harus mau menikah dengan Surono. Aku tak bisa berbuat banyak, aku hanya gadis lulusan SD yang tak punya pengalaman apa-apa. Kemana ibuku? Aku tak bisa mengingat dengan jelas wajah ibuku, kata bapak ibu meninggal ketika usiaku 1 tahun, selanjutnya aku dibesarkan oleh bapak dan ibu tiriku. Namun pada usia 8 tahun, ibu tiriku meninggalkan rumah karena sudah tidak betah dengan kelakuan bapakku. Aku menerima untuk dikawinkan dengan Surono, sebagai bentuk rasa terima kasihku pada bapak yang telah merawatku. Bagaimanapun kelakuan bapakku, nyatanya aku masih hidup sampai sekarang.
***
Aku menatap dengan penuh senyuman seonggok karung bekas yang berada di boncengan sepedaku, hampir setengahnya sudah terisi gabah kering. Alhamdulillah, ini adalah sawah keempat tempatku mengasak. Ditambah lagi, tidak banyak perempuan yang mengasak hari ini katanya mereka memilih untuk melihat perayaan agustusan di desanya masing-masing.
"Sum, kamu nggak pulang ? sebentar lagi gelap, ini jauh banget loh sama rumahmu" teriakan Parti membuatku tersadar bahwa hari sudah mulai sore.
"Nanggung mbak, tinggal dikit lagi " jawabku. "Yo wes aku duluan ya.." kulihat Parti melambaikan tangan.
Aku bahkan sampai lupa dengan rasa sakit di tubuhku, karena tertutupi dengan semangat dan rasa senang dengan hasil ngasak hari ini. Ah...akhirnya selesai juga. Sinar matahari perlahan mulai menghilang dari langit. Sayup-sayup terdengar lantunan bacaan Al Qur'an dari toa masjid, menandakan sebentar lagi adzan maghrib akan berkumandang. Segera ku masukkan gabah dari wadah ke dalam karung, aku ikat dengan tali bekas ban di boncengan belakang.
Benar juga kata Parti, aku ngasaknya terlalu jauh hari ini. Aku harus melewati dua desa lagi untuk bisa sampai ke desaku. Jalanan yang kulewati kadang ramai kadang sepi, aku memilih lewat jalan desa supaya tidak berpapasan dengan kendaraan besar. Memang agak sepi, hanya sesekali aku bertemu kendaraan lain. Tapi menurutku ini lebih aman untuk aku yang tidak begitu terampil naik sepeda.
Adzan sholat isya sudah berkumandang, sebentar lagi aku akan memasuki wilayah desaku. Aku melewati jalan yang sangat sepi, tidak ada lampu jalan karena kanan kiri jalan ini hanya sawah yang membentang luas, tapi ini jalur terpendek untuk bisa segera sampai ke rumahku. Dari arah belakang tampak sebuah sorot lampu. Ah, sepertinya ada orang lewat juga rupanya, aku akan minta tolong orang tersebut untuk memberikan sorot lampunya setidaknya sampai melewati jalan sawah ini, tinggal sedikit lagi.
Tapi aku heran, kenapa sorot lampunya berpindah dari kanan ke kiri tidak beraturan. Sinarnya semakin mendekat, tapi aku tidak bisa mengikutinya dengan jelas, karena sebentar berpindah ke kanan sebentar kekiri. Tampaknya motor itu jalannya tidak stabil. Aku menoleh ke arah belakang, dan aaargghhh... Sinarnya begitu menyilaukan mataku, tanganku oleng dan braaaaak.... seketika semuanya menjadi gelap.
***
Surono memegang gundukan tanah basah dihadapannya. Wajahnya tampak tertunduk lesu. matanya merah, pandangannya tertuju pada nisan kayu di sebelah kirinya. Surono baru menyadari, jika istrinya itu sebenarnya telah berbuat banyak untuknya. Dan yang paling dia sesali dan paling menyakitkan, istrinya pergi dengan penuh luka lahir maupun bathin akibat perbuatannya. Tiga tahun berumah tangga, hanya neraka dunia yang dia berikan kepada istrinya. Nasi sudah menjadi bubur, penyesalan di akhir pun tiada guna. Selamat jalan Sum, pulanglah ke rumahmu yang baru, semoga kehidupanmu jauh lebih menyenangkan disana.
Editor : Yuan Edo Ramadhana