Oleh:
Slamet Widodo
Guru MTs Negeri 3 Bojonegoro
Namanya Nayla. Seorang perempuan berparas cantik. Senyumnya mengembang di bibir mungilnya dengan sorot mata yang tenang, namun menyimpan kisah yang tak pernah benar-benar selesai. Usianya dua puluh empat tahun. Lulusan S-1 dari Universitas ternama di Jawa Timur. Kini ia mengabdikan dirinya sebagai guru di sebuah SMA di Jawa Timur yang jauh dari rumahnya.
HARI itu rumahnya ramai. Bunga segar menghiasi pelaminan, suara rebana dan selawat berpadu dengan senyum para tamu. Tapi bagi Nayla, hari itu tak hanya tentang kebahagiaan. Ada satu kursi yang kosong di dalam dirinya. Sebuah tempat yang dulu pernah diisi oleh seseorang bernama Wildan.
Zayyan, adik lelakinya, baru saja menikah. Usianya lima tahun lebih muda dari Nayla. Pengantin baru yang wajahnya bersinar dengan doa dan harapan. Nayla tersenyum melihat adiknya bahagia. Tapi ada ruang di hatinya yang tiba-tiba terasa sunyi.
Beberapa bulan sebelumnya, Zayyan pernah menghampiri Nayla di teras rumah menjelang magrib. Langit menjingga, angin sore lembut berhembus.
"Mbak... kumohon restumu, izinkan aku menikah," tutur Zayyan pelan, sambil menunduk. Suaranya nyaris tersapu angin sore yang melintasi teras rumah mereka.
Nayla terdiam sejenak. Senyumnya masih ada, tapi matanya berubah. Hening. Ia menatap jauh ke arah sawah yang mulai temaram.
"Aku tahu… seharusnya kamu lebih dulu. Tapi, kalau menunggu, aku takut justru menyakiti perempuan yang kini sedang aku perjuangkan. Aku cuma… nggak ingin kamu merasa didahului."
Nayla menghela napas perlahan. Ia menatap adiknya, lalu tersenyum pelan. “Kebahagiaan itu bukan soal urutan, Yan… tapi soal kesiapan. Kalau kamu sudah siap, maka jalani. Kakak ridha.”
Zayyan mengangkat wajahnya. Matanya berkaca-kaca. "Terima kasih, Mbak… aku nggak akan pernah lupa restu ini."
Bertahun lalu, Nayla pernah mencintai diam-diam. Wildan, teman seangkatannya di madrasah. Mereka bertumbuh dalam lorong-lorong kecil desa Laraswangi, menyusuri jalan pulang sekolah yang tahu persis rasa suka pertama itu. Tapi kisah mereka kandas di tengah jalan. Bukan karena mereka menyerah, tapi karena restu yang tak turun dari langit rumahnya.
Ayah Nayla, seorang tokoh ternama, menilai Wildan tidak sekufu. Terlalu banyak jurang antara mereka. Dari latar keluarga, pekerjaan, hingga pandangan hidup. Wildan hanyalah anak petani biasa. Sementara Nayla, putri seorang tokoh masyarakat. Kata ayahnya, cinta saja tidak cukup.
Wildan akhirnya menikah dengan perempuan lain. Sudah lama. Bahkan kini telah memiliki anak. Sedang Nayla, masih sendiri. Bukan karena tak ada yang datang, tapi karena hatinya belum menemukan tempat baru untuk berlabuh.
"Belum siap," jawabnya setiap kali ada yang bertanya tentang pernikahan.
Sebagian orang Jawa percaya, jika adik lelaki menikah duluan, maka kakak perempuannya akan kesulitan menikah. Tapi orang tua Nayla tak pernah percaya pada mitos. Mereka percaya pada takdir.
Siang itu, di antara antrean tamu yang mengular, sosok familiar muncul dari kejauhan. Wildan. Bersama istrinya yang anggun dan anak laki-laki kecil yang menggenggam jarinya erat. Langkah mereka pelan, tapi cukup menusuk diam Nayla yang berdiri berjejer menyambut para tamu.
Wajah Nayla berias cantik hari itu. Bibirnya tersenyum ramah pada semua yang datang. Tapi di balik senyum itu, dadanya bergemuruh. Seolah ada petir kecil yang meletik dalam diam. Ia menahan napas sejenak, lalu membungkukkan badan menyambut mereka seperti tuan rumah yang baik. Mata mereka bertemu sekilas. Hanya sekilas, tapi cukup membuat waktu berhenti sejenak.
"Assalamu’alaikum, Nayla," sapa Wildan pelan, suaranya terdengar hati-hati.
"Wa’alaikumussalam, Wildan. Silakan masuk," jawab Nayla dengan suara lembut, namun terdengar sedikit tertahan.
Wildan tersenyum singkat, lalu memalingkan wajahnya ke arah perempuan di sampingnya. "Ini istriku, Yumna. Dan ini anak kami, Rayyan," ujarnya sambil mengelus kepala bocah kecil di sampingnya.
Nayla tersenyum ramah. Matanya menatap Yumna dengan hangat. "Selamat datang, Mbak Yumna. Senang sekali bisa bertemu. Dan kamu lucu sekali, Rayyan," ucap Nayla sambil menunduk menyapa si kecil.
Yumna tersenyum sopan, "Terima kasih, Mbak Nayla. Selamat ya untuk adiknya. Semoga menjadi keluarga sakinah."
"Aamiin. Terima kasih sudah datang," balas Nayla. Lalu sejenak ia menatap Wildan, dan kembali tersenyum, "Salam untuk orang tuamu, ya."
"Pasti kusampaikan," jawab Wildan.
Ada jeda hening sejenak. Wildan menatap Nayla, kali ini sedikit lebih lama. “Kamu terlihat bahagia hari ini.”
Nayla menatap balik, tersenyum, lalu menunduk pelan. “Bahagia itu kadang bukan karena apa yang kita punya, tapi karena kita belajar menerima.”
Wildan terdiam. Matanya mencari kata. Tapi tak ada lagi yang perlu diucap.
“Senang kamu datang, Wildan,” ucap Nayla lagi.
Wildan mengangguk pelan, lalu menggandeng tangan istri dan anaknya masuk ke dalam tenda resepsi.
Mereka bertukar sapa selayaknya dua keluarga biasa. Tapi di dalam hati Nayla, ada gemuruh yang tak bisa ia tenangkan. Ia menahan napas. Ia menahan air mata. Karena hari itu, di tengah banyaknya senyuman dan ucapan selamat, hanya ia sendiri yang tahu betapa hancur dan penuh haru dadanya.
Entah perasaan apa yang menyelimuti hatinya saat itu. Antara ikhlas dan luka yang belum benar-benar sembuh. Namun ia tahu, dirinya harus kuat. Harus tetap berdiri. Karena cinta, kadang tak harus dimiliki, cukup disimpan dalam doa yang tak pernah putus.
Malam setelah pesta usai, Nayla duduk sendiri di teras rumah. Memandang langit Laraswangi yang bersih dan tenang. Di sana, bintang-bintang menggantung seperti doa-doa yang belum sampai ke bumi.
"Jika memang harus menunggu lebih lama," ucapnya pelan, "semoga hatiku tak kehilangan sabar dan harap."
Pelaminan telah dibongkar. Bunga telah layu. Tapi satu kursi kosong itu masih ada—bukan di panggung pesta, tapi di dalam hati Nayla. Dan barangkali, seseorang di tempat lain, sedang menyisakan satu ruang pula untuknya. Suatu saat nanti.
Dan jika suatu hari, seseorang datang… duduk di kursi kosong itu dengan hati penuh penerimaan, mungkin saat itulah Nayla akan tahu: takdir memang tak pernah salah arah.
Malam itu, sebelum masuk ke kamar, Nayla menatap pantulan dirinya di cermin. "Untukmu yang belum kutemui," bisiknya, "aku masih menyisakan satu ruang. Meski lama, aku percaya kamu sedang menujuku—pelan, tapi pasti." Sambil menggenggam erat sekuntum melati putih yang diambil dari sanggul melati adik iparnya. (*)
Laraswangi, 11 April 2025
Editor : Yuan Edo Ramadhana