Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Nyonggo, Sendang, dan Sungai

Hakam Alghivari • Minggu, 12 November 2023 | 21:30 WIB

 

Ilustrasi: (AINUR OCHIEM/RDR.BJN)
Ilustrasi: (AINUR OCHIEM/RDR.BJN)

 

Karya: Muhammad Azhar Adi Mas’ud

Malam itu, Lastri menangis tersedu-sedu. “Semua ini salah Lastri. Semua ini karena Lastri tidak becus jadi ibu. Lihat, sekarang akibatnya ditanggung sendiri” batin Lastri. Di kamarnya yang dingin dan sepi, Lastri menangis sendiri. Di luar, semua orang menyalahkan Lastri. Sedangkan aku terbujur kaku di tengah ruang tamu, ditutup kain jarit yang menutup tubuhku serupa batu, dingin dan kaku. Aku tak bisa lagi merasakan tubuhku, tapi aku masih bisa memandang sekeliling, mendengar dari mata hati dan jiwa ku yang entah di mana aku tak tahu.

Aku hanya anak kecil yang tergeletak beku, dikelilingi pelayat yang berdatangan satu persatu. Perempuan yang namanya Lastri itu ibuku. Sejak aku masih bayi dan kerjaku hanya bisa mengoek, Lastri tak pernah membenciku. Berbeda dengan orang lain yang selalu memasang topeng marah dan hatinya selalu menyulutkan amarah. Lastri berbeda, ia selalu menerimaku dengan caranya.

***

Makane, ojo nikah karo Darso, uripmu bakal soro, saiki, piye? Rasakno, rasakno dewe!

Perempuan tua itu selalu saja ngomel, dia Inem. Nenek ku, yang sangat benci Lastri, juga tak menyukaiku. Semua bermula dari malam yang gersang di pertengahan kemarau. Warga desa sudah muak dengan kering kemarau, mereka hanya butuh hujan, ya hujan. Maka mereka menggelar sandur, upacara sekaligus kesenian para petani. Mereka ingin melepas bala dan sengsara, paceklik saat kemarau tiba. Desa yang letaknya di kelilingi gunung-gunung kapur ini memang mengandalkan air untuk bercocok tanam padi. Maklum, tanah di bawah pegunungan kapur ini tak menyimpan banyak air, mereka harus mengandalkan air sungai yang mengalir dari sendang atau tadah hujan untuk irigasi. Sendang dan sungai serupa denyut nadi yang menghidupi desa. Sendang ibunya, dan sungai anaknya. Dulu, kesenian sandur sangat digemari dan di situ Lastri jadi penari sandur memeriahkan malam.

Ibuku cantik, bak Dewi Sri. Makanya, ibuku jadi kembang desa. Sampai-sampai Pak Lurah yang sudah beristri dua itu ingin menjadikan ibuku istri ketiga. Ibuku tak mau, Inem marah dengan kelakuan anaknya, mulutnya melontarkan sumpah serapah. Di malam sandur itu pula, Lastri bertemu dengan Darso. Pemuda dari desa di lereng pegunungan kapur itu sudah lama menyukai Lastri. Begitu pun Lastri, ia juga diam-diam memendam rasa kepada Darso. Sepulang mentas tari, Lastri pulang bersama Darso. Mereka berjalan kaki melewati jalan setapak, bantaran sungai menuju hilirnya di sendang, sejenak mereka menatap air yang memantulkan purnama. Di sana, Lastri bercerita pada Darso tentang kegelisahannya akibat menolak lamaran Pak Lurah.

Piye Las, kamu beneran tetep kekeh ndak jadi menerima lamarannya Pak Lurah?” ucap Darso memecah keheningan.

“Aku ndak mau mas, aku ndak mau jadi istri ketiga”

“Aku ngerti Las, tapi kamu bisa hidup enak lo Las!”

Opo gunane hidup enak mas, nek orang karo wong seng disenengi. Emang Mas Darso mau Lastri kawin sama Pak Lurah?” Lastri balik bertanya.

 “Makannya jangan nikah sama Darso, hidupmu akan sengsara, sekarang, bagaimana? Rasakan, rasakan sendiri akibatnya!”

 “Apa gunanya hidup enak mas, kalau bukan dengan orang yang dicintai, memangnya Mas Darso mau Lastri kawin sama Pak Lurah?”

Yo emoh Las, tapi piye maneh, aku cuma wong gunung, kerjaku cuma golek watu, opo awak mu gelem urip karo aku?” 

Lastri hanya tersenyum, Darsa memandang bening mata Lastri, mereka tersenyum bersama. Malam semakin dingin, mereka memutuskan duduk bersama di gubuk yang sering digunakan para petani beristirahat. Tanpa sadar malam semakin pekat, mereka larut dalam hangat.

Paginya, Inem mboknya Lastri geger perawannya tak pulang semalam, bersamaan dengan itu ditemukan Lastri dan Darso tertidur bersama di gubuk dekat sendang. Warga gempar, mereka berdua diarak menuju balai, dicecar pertanyaan. Inem marah besar, ia mengutuki Lastri dan Darso bergantian. Pak Lurah yang kesal menyimpan dendam pada keduanya. Sesuai keputusan bersama, Lastri dan Darso harus dinikahkan secepatnya, sebelum Lastri keburu mengandung anak haram. Mereka percaya anak haram membawa bencana, kelaparan dan pagebluk bagi desa. Telah diputuskan, tiga hari setelahnya mereka menikah. Sehari sebelum pernikahan itu, Lastri ternyata positif hamil, warga desa langsung menyimpulkan bahwa itu akibat Lastri tidur bersama Darso. Mereka menganggap bayi dalam kandungan Lastri, sebagai anak haram. Seisi desa menyimpan marah di hati mereka, tak ada brokohan setelah Lastri melahirkanku. Aku dianggap darah kotor, hanya membawa sial dan musibah saja.

Puncaknya, ketika aku berumur 8 tahun, saat Darso bapakku ditemukan mati akibat tertimpa gundukan batu kapur saat melakoni pekerjaannya menambang batu. Warga mengaitkannya sebagai sial yang terjadi akibat aku, kesalahan Darso dan Lastri di masa lalu. Beberapa hari setelah bapakku dimakamkan, Pak Lurah datang ke rumah. Ia tahu kini Lastri tak lagi bersuami, ia iming-imingi Lastri dengan sejumlah tawaran dan bantuan. Lastri menolak karena ia yakin dibalik bantuan itu pasti ada harga yang harus ia bayar. Lastri terpaksa jadi buruh cuci. Menjadi penari kini sudah tak bisa ia lakoni sebab, semenjak kejadian dulu, Lastri dianggap telah menodai kesakralan upacara itu.

***

“Anakmu mati digondol Nyonggo” ucap Inem ibu Lastri tiada henti. Sedangkan aku melihat Lastri terus saja menangis, kadang dengan jeritan kadang tanpa suara dari dalam kamarnya. Inem di depan pintu kamar Lastri terus saja berceloteh tanpa menghiraukan para pelayat di sekelilingnya.

Aku ingat tragedi itu. Siang hari, Lastri tergesa-gesa membawa pakaian yang harus ia cuci di sungai. Aku pun ikut. Tumbuh di dekat bantaran sungai membuatku akrab dengannya, aku bisa berenang tapi tak terlalu mahir. Sehingga, Lastri selalu saja melarangku agar tak berlama-lama main di sungai. “Ojo bluron, awas digondol Nyonggo” katanya. Aku tak begitu paham apa itu “Nyonggo” dalam pikiran kanak-kanak ku, Nyonggo mungkin semacam binatang buas yang berdiam diri di sungai, semacam buaya barang kali. Tetapi Lastri selalu menjelaskan bahwa Nyonggo adalah makhluk halus penunggu sungai yang suka memangsa anak-anak kecil ketika mereka mandi siang hari atau terlalu lama bermain di air sungai. Aku tak percaya, mungkin itu hanya bualan Lastri agar aku tak berani main di sungai tanpa pengawasannya. Namun hari itu, Lastri harus kembali ke rumah karena ia lupa membawa sabun cuci. Lastri memintaku agar keluar dari air dan menunggunya dipinggir sungai

 “Ya nggak mau Las, tapi bagaimana lagi, aku cuma orang gunung, kerjaku cuma menambang batu,apa kamu mau hidup sama aku?”

 Upacara selamatan yang dilakukan masyarakat Jawa kepada ibu yang baru melahirkan, selamatan ini hanya dihadiri oleh ibu-ibu atau perempuan.

 Dibawa Nyonggo, Nyonggo adalah makhluk halus mitologi yang dipercaya menghuni air (makhkuk air) seperti sungai, danau, dan daerah air lainnya, makhluk ini dipercaya mampu menyamar menjadi apapun untuk mengecoh mangsanya, yakni suka menculik anak-anak yang berlama-lama main air di sungai atau danau pada siang hari.

sambil menjaga baju-baju cucian agar tak hanyut. Aku menunggu Lastri dengan bosan, ia tak kunjung datang. Aku kembali memikirkan tentang Nyonggo, apakah ia benar-benar ada? Dalam pikiranku Nyonggo mungkin berbentuk seperti Monggo (laba-laba). Tiba-tiba ada seekor burung kolibri cantik terbang, lalu menghisap nektar bunga-bunga di sekitar bibir sungai.  Aku pun menghampirinya hendak melihat lebih dekat. Aku berjalan hati-hati di bantaran bibir sungai itu, langkah kecilku tak kenal takut. Ku lihat kolibri cantik itu terbang di sekitar teratai. Namun tiba-tiba kaki kecilku terpeleset dan tubuhku jatuh ke dalam sungai, air sungai itu tidak deras, namun lumpur di bawahnya dan beragam ganggang-ganggang mempersulitku berenang. Aku tetap berusaha berenang dan menggapai kembali permukaan air, namun lumpur dikakiku semakin menyulitkanku, aku terperangkap. Sesaat kulihat burung kolibri itu terbang di permukaan air, dan aku tenggelam. Aku terpejam, gelap dan hitam.

Aku bangun dan menemukan tubuhku telah di tutup jarik. Anehnya aku bisa melihat tubuhku sendiri, lalu aku mencari Lastri, aku kira aku hanya mimpi, tapi tangis Lastri di kamarnya membuatku tersadar bahwa ini nyata. Dimana aku? Aku di rumah tapi tak satupun yang tahu!. Ku dengar Lastri bergumam, matanya terpejam tapi terus meneteskan air mata, sedangkan tubuhnya lemas, sepertinya Lastri setengah sadar.

Anakku digondol Nyonggo, anakku digondol Nyonggo, harunya aku nggak meninggalkannya sendiri, sekarang anak ku mati, gara-gara Lastri.”

Lalu aku melihat kilatan peristiwa dimata Lastri. Aku berjalan melewati waktu, ku temukan Lastri mencuci di sendang, di bilik yang terbuat dari besek anyaman bambu itu, Lastri mandi dan mencuci, sore itu sepi tak ada perempuan lain selain Lastri. Saat mencuci sambil melamun menatap air sendang, ia tak tahu dari belakang ada sosok hitam yang bersiap membekapnya. Siapa dia? Apa dia Nyonggo seperti yang orang-orang katakan?.

Menengo, utowo tak gorok koe, meneng, sopo wani ngelawan aku yo iki akibat e, wani-wani ne koe nolak aku, rasakno Lastri

Dia menikmati tubuh Lastri, mengakhirinya dengan desahan panjang. Dan Lastri tak bisa berbuat apa-apa dalam cengkramannya. Tapi Lastri masih sadar. Saat itu, aku melihat kilat api di mata Lastri. Belum pernah ku lihat mata lastri membara seperti itu, api di mata Lastri menjalar membakar hatinya. Seluruh tubuhnya menyimpan amarah dan siap ia ledakkan. Ketika si sosok itu lengah Lastri memberontak, dengan sigap, batu hitam sendang yang berada di dekatnya, yang ukurannya sebesar dua kepalan tangan orang dewasa ia pukulkan kepada sosok itu berkali-kali sampai sosok itu mati. Ku lihat Lastri tersenyum sesaat tapi kemudian ia menangis. Ku hampiri Lastri, ku sentuh tangannya, entah mengapa, saat itu Lastri mampu merasakan kehadiranku. Semua sepertinya nyata. Ku gandeng tangan Lastri, kubimbing ia berenang bersamaku, mengarungi sendang dan sungai, mencari Nyonggo.

Keesokan harinya, warga menemukan mayat Pak Lurah dengan kepala pecah. Sedangkan Lastri entah kemana. Warga geger, kematian tragis Pak Lurah dan hilangnya Lastri, apa hubungannya? Hanya sendang dan sungai yang tahu semua, samar-samar terdengar suara kolibri terbang di atas air sendang dan sungai.(*)

Editor : Hakam Alghivari
#Pelayat #sunyi #Desa #Sungai #ibu #Sendang #dingin #amarah