Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Layang-Layang Tanpa Kepala

M. Yusuf Purwanto • Minggu, 29 Januari 2023 | 21:49 WIB
Ilustrasi (AINUR OCHIEM/RDR.BJN)
Ilustrasi (AINUR OCHIEM/RDR.BJN)
PULANG sekolah dengan tas masih di pundak, Alit memegangi rok ibunya dan merengek minta diizinkan ke rumah ayahnya.

“Tidak usah ke sana,“ kata ibu.

Selama ini Alit tidak pernah berhasil meminta izin kepada ibunya untuk pergi ke rumah ayahnya, padahal rumah ayahnya tidak jauh, di dusun sebelah, jaraknya sekitar dua kilometer. Alit hanya bisa bertemu ayahnya bila ayahnya datang ke rumah Alit ketika lebaran atau ketika ayahnya diam-diam menemuinya di jalan ketika Alit pulang sekolah atau pulang mengaji. Dalam pertemuan yang diam-diam itu Alit sering diberi uang saku.

"Simpan baik-baik, jangan sampai ibumu tahu," pesan ayahnya setiap memberi uang saku, dan Alit tidak pernah kesulitan menyembunyikan uang saku itu dari ibunya karena ayahnya tidak pernah memberinya banyak. Alit pernah kesulitan menyembunyikan ketika ayahnya memberinya topi. Sampai di rumah, topi itu dimasukkan bersama kayu bakar ke dalam tungku oleh ibunya.

Sudah lama ayahnya tidak diam-diam menemuinya lagi. Alit juga tidak berani lagi diam-diam ke rumah ayahnya karena pernah ketahuan. Alit dihukum ibunya dengan tiga hari berangkat sekolah tanpa uang saku. Dia tidak akan ketahuan ibunya seumpama ayahnya tidak memaksa mengantar Alit sampai rumah. Padahal sebenarnya Alit berani pulang sendiri.

*

“Teman-temanku dibuatkan layang-layang ayahnya, Bu,” kata Alit.

“Dibuatkan ayahmu atau beli sama saja,” kata ibunya.

Alit menurunkan tasnya dari pundak kemudian mengambil salah satu buku tulis. “Aku ingin layang-layang seperti ini, Bu.” Alit menunjuk gambar layang-layang di sampul bagian dalam buku tulisnya. Hampir semua halaman di buku tulis itu digambari layang-layang, dan Alit menunjuk gambar layang-layang berbentuk manusia.

“Iya, nanti biar dibuatkan Om Redi,” jawab ibunya sambil membungkuk melepas ikat pinggang Alit. “Dia bagus kalau membuat layang-layang. Kamu bisa minta bentuk apa saja. Semua bentuk layang-layang yang kamu gambar di buku tulis itu bisa dibuatnya.” Ibu melepas seragam Alit kemudian mengambil buku dari tangan Alit dan memasukkannya ke dalam tas terus berjalan ke kamar.

“Teman-temanku dibuatkan layang-layang ayahnya dan menerbangkannya bersama, Bu.” Alit yang memakai singlet dan celana dalam mengikuti ibunya ke kamar.

Ibunya meletakkan tas di meja kamar dan mecantelkan seragam Alit di balik pintu. “Sana mandi kemudian berangkat Jumatan.” Alit yang masih di belakang ibunya dengan kaos dan celana dalam langsung lari menuju kamar mandi.

Sepulang Jumatan Alit masuk kamar untuk ganti pakaian. Diambilnya kaos dan celana pendek dari tumpukan pakaian di kasur yang habis dijemur kemarin. Dia diam-diam pergi ke rumah ayahnya ketika ibunya tidur pulas di kamar. Diambilnya buku tulis dari dalam tasnya yang tergeletak di atas meja kamar kemudian diselipkan di celana pendeknya bagian belakang. Ia mengambil sepeda yang disandarkan di tiang teras rumah kemudian ia mengayuhnya menuju rumah ayahnya.

Selama perjalanan dia membayangkan layang-layang manusia yang diterbangkan bersama ayahnya seperti yang diceritakan teman-temannya di sekolah. Dia juga membayangkan betapa teman-temannya kagum mendengar ceritanya menerbangkan layang-layang manusia bersama ayahnya nanti.

Ketika Alit sampai di rumah ayahnya ia mendapati ayahnya masih tidur kemudian Alit membangunkannya dengan mengoncang-goncang tubuhnya.

“Ada apa, nak?” tanya ayah dengan mata baru separuh terbuka.

“Buatkan Alit layang-layang, Yah. Seperti ini,” kata Alit sambil mengeluarkan buku yang terselip di celana di punggungnya dan menunjuk gambar layang-layang manusia.

“Iya, tapi jangan sekarang. Ayah harus memotong bambu dulu. Nanti kalau sudah jadi, kamu ke sini lagi.”

“Buku ini aku tinggal di sini saja, Yah, nanti Ayah buatkan persis seperti yang aku gambar di buku itu,” kata Alit. Bukunya ditaruh di samping ayahnya yang masih duduk di atas tempat tidur.

*

“Aku dibuatkan layang-layang ayahku. Layang-layang manusia.” Kata Alit kepada teman-temannya yang duduk melingkar di teras kelas ketika jam istirahat. “Nanti sore layang-layang itu jadi dan akan aku terbangkan bersama ayah.”

Alit ke rumah ayahnya lagi tanpa sepengetahuan ibunya. “Kamu ke sini naik sepeda, Alit?” tanya ayahnya.

“Iya, Yah. Apakah layang-layangnya sudah jadi?” Alit bertanya sambil melihat-lihat ke seluruh bagian rumah. Dia tidak menemukan layang-layang.

“Kalau kamu ke sini naik sepeda, kamu akan kesulitan membawanya. Besok saja layang-layangnya ayah antar ke rumahmu.”

“Diterbangkan di sini saja, Yah. Teman-temanku juga menerbangkan layang-layang mereka bersama ayahnya,” kata Alit dan pandangan matanya masih mencari-cari layang-layang itu disimpan di mana sama ayahnya.

“Di sini tidak ada tanah lapang, Alit, kamu terbangkan di rumahmu saja, besok ayah antar layang-layangnya sampai di rumahmu,” Kata ayah.

“Aku mau melihat layang-layangnya, Yah.”

“Tinggal sedikit lagi jadi. Besok saja ayah antar. Buku tulismu jangan kamu bawa pulang dulu, biarkan di sini, ayah mau melihat semua bentuk layang-layang yang kamu gambar. Sekarang kamu pulang saja dulu.”

Alit pulang. Ia terkejut melihat ibunya di depan pintu. “Dari mana kamu?” tanya ibunya sambil berkacak pinggang. Alit tidak mengeluarkan satu kata pun.

“Ibu sudah bilang kamu tidak boleh ke sana. Ayahmu tidak seperti ayah teman-temanmu. Mana buku tulismu? Biar ibu antar ke rumah Om Redi. Dia bisa membuatkanmu layang-layang seperti yang kamu gambar itu.

“Besok kamu tidak usah ke sana lagi. Sampai kapan pun jangan pernah ke sana. Kalau kamu diam-diam ke sana lagi, jangan hanya bawa buku tulis, bawa semua pakaian dan bukumu-bukumu. Tidak usah kembali lagi ke sini. Tinggal saja bersama ayahmu,” mata ibunya berkaca-kaca. “Mana buku tulismu?” Lanjut ibunya.

“Besok ayah akan ke sini mengantarkan layang-layang dan buku tulisnya.” Jawab Alit. Ibunya diam. Dia sudah hafal tabiat mantan suaminya itu. Besok ayah Alit tidak akan datang.

Benar, ayah Alit tidak datang. “Gambar lagi layang-layang yang kamu mau di buku tulis. Ibu akan membuatkanmu layang-layang, Alit.” Kata ibu.

“Ibu bisa?” tanya Alit tidak percaya. Teman-temannya tidak ada yang dibuatkan layang-layang ibu mereka.

“Ibu bisa. Gambar saja layang-layang yang kamu inginkan.”

Alit mengambil buku tulis dari tasnya. Dia menggambar layang-layang berbentuk manusia. Dia menggambar tanpa menghapus. Dia seperti sudah hafal, garis demi garis dibuat dan sebentar saja gambar itu sudah jadi. Ibu memperhatikan Alit dengan seksama. Dia memikirkan apa saja yang harus dipersiapkan untuk membuat layang-layang. “Aku pasti bisa,” katanya dalam hati.

Diambilnya pucuk bambu yang tergeletak di belakang rumah. Dipotong dan diraut kemudian di tiap persilangan antar bambu ditali dengan rafia. Simpul-simpul rafia dirapikan dengan gunting. Setelah rangka jadi, dioleskannya lem ke rangka bambu itu kemudian menempelinya dengan kertas. Warna merah dan hijau menggunakan kertas minyak sedangkan warna coklat menggunakan kertas merang. Kertas merang untuk bagian kaki, kertas merah untuk bagian badan dan kepala, kertas hijau untuk tangan. Layang-layang manusia itu jadi pada hari berikutnya. Tinggal membeli kenur dan membuat tali goci dan layang-layang manusia itu siap diterbangkan.

Alit membeli kenur dua rol warna kuning di tempat yang sama dengan dia membeli kertas. Dua rol kenur itu digulung di dua bilah kayu yang dipotong sejengkal dan dipaku dengan bentuk seperti tanda tambah. Gulungan kenur kuning itu sebesar kepalan orang dewasa. Layang-layang manusia itu akan terbang tinggi bila menghabiskan gulungan kenur itu.

Angin sore itu bagus. Alit memegangi layang-layang sebesar laki-laki dewasa itu dengan susah payah. Ibunya merentangkan kenur dengan berjalan mundur menjauhi Alit. Gulungan kenur kuning itu berputar di kedua genggaman tangan ibu. Setelah kurang lebih sepuluh meter di depan Alit, ibunya berhenti. Ibu alit menarik kenur dan Alit melepaskan layang-layang manusia. Ibu Alit berlari sampai ke jalan.

Layang-layang itu melesat ke udara. Setelah beberapa meter di atas kepala, layang-layang itu seperti orang pusing. Miring ke kanan kemudian berputar-putar ke bawah. Kenur kuning menebas ranting-ranting pohon mahoni di tepi jalan dan merontokan daun-daunnya. Kepala layang-layang manusia itu menghantam tanah. Mereka menerbangkannya lagi, tetapi hasilnya sama, kepala layang-layang itu menghantam tanah lagi. Kepala layang-layang itu hampir putus dan sobek di beberapa bagian tubuhnya.

"Kita harus memanggil Om Redi, Nak," kata ibu.

"Kita ambil saja kepalanya dan menambal bagian yang sobek kemudian kita terbangkan lagi," kata Alit

Layang-layang manusia itu tidak lagi seperti orang pusing, mungkin karena tidak memiliki kepala. Meskipun tidak bisa terbang tinggi, seperti keberatan kenur, paling tidak layang-layang itu sudah terbang dan membuat Alit bisa bercerita dengan teman-temannya di sekolah.(*)

 

 

*SUWITO ADI PRASETYO
Lahir di Bojonegoro. Setiap hari berdinas sebagai Kepala Sekolah di SDN Sumuragung I Kec. Baureno.

  Editor : M. Yusuf Purwanto
#Pendidikan #cerpen. layangan #anak #orang tua #Sekolah