RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Anggapan bahwa terlalu sering makan makanan pedas bisa menyebabkan usus buntu masih cukup populer. Namun, bukti medis yang tersedia belum menunjukkan makanan pedas sebagai penyebab langsung apendisitis atau peradangan pada usus buntu.
Menurut National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK), apendisitis terjadi ketika saluran di dalam apendiks mengalami penyumbatan dan kemudian meradang. Penyumbatan dapat berkaitan dengan tinja yang mengeras, pertumbuhan jaringan, pembengkakan jaringan akibat infeksi, hingga penyakit radang usus.
Baca Juga: Alasan Mengapa Sound Horeg Bisa Picu Ketulian Permanen
Dengan demikian, rasa pedas dari makanan tidak dapat begitu saja dianggap sebagai penyebab usus buntu.
Mengapa Makan Pedas Sering Dikaitkan dengan Usus Buntu?
Anggapan tersebut bisa muncul karena makanan pedas memang dapat menimbulkan keluhan pada saluran pencernaan pada sebagian orang.
Setelah mengonsumsi makanan yang sangat pedas, seseorang bisa mengalami rasa tidak nyaman di perut atau perubahan pola buang air besar. Keluhan semacam itu kemudian dapat disalahartikan sebagai tanda awal usus buntu.
Padahal, sakit perut memiliki banyak kemungkinan penyebab. Lokasi, intensitas, dan perkembangan nyeri menjadi bagian penting dalam membedakan keluhan pencernaan biasa dengan kondisi yang membutuhkan pemeriksaan medis.
Baca Juga: Mitos atau Fakta? Sering Masturbasi Bikin Otak Tidak Fokus dan Mudah Lupa
Nyeri Usus Buntu Memiliki Pola yang Perlu Diperhatikan
NIDDK menjelaskan bahwa nyeri akibat apendisitis sering kali bermula di sekitar pusar kemudian berpindah ke bagian kanan bawah perut. Rasa sakit dapat semakin berat dalam beberapa jam dan terasa lebih sakit ketika seseorang bergerak, batuk, bersin atau menarik napas dalam.
Gejala lain yang dapat menyertai antara lain kehilangan nafsu makan, mual, muntah, demam dan pembengkakan perut.
Namun, gejala tidak selalu sama pada setiap orang. Karena itu, seseorang tidak sebaiknya menentukan sendiri bahwa sakit perut yang dialami hanyalah akibat makanan pedas.
Lalu, Apakah Pola Makan Tidak Berhubungan dengan Usus Buntu?
Hubungan antara makanan dan apendisitis ternyata memang masih menjadi perhatian dalam penelitian.
Systematic review dan meta-analysis yang diterbitkan dalam World Journal of Surgery pada 2025 meninjau berbagai penelitian mengenai pola makan dan risiko apendisitis. Hasilnya menunjukkan adanya hubungan antara asupan serat dan risiko apendisitis.
Baca Juga: 8 Tips Memberikan Makanan kepada Anak agar Mendukung Pertumbuhan Tinggi Badan
Namun, peneliti juga memberikan catatan penting. Sebagian besar penelitian yang dianalisis bersifat observasional dan memiliki keterbatasan, sehingga hasil tersebut belum dapat digunakan untuk memastikan bahwa pola makan tertentu secara langsung menyebabkan atau mencegah apendisitis.
Temuan tersebut penting karena menunjukkan bahwa pembahasan mengenai makanan dan usus buntu jauh lebih kompleks daripada sekadar menyalahkan makanan pedas.
Serat Juga Menjadi Perhatian Peneliti
Penelitian lain yang diterbitkan di jurnal Heliyon pada 2023 juga menemukan hubungan antara konsumsi buah dan sayuran yang kaya serat dengan risiko apendisitis yang lebih rendah.
Namun, penelitian tersebut merupakan penelitian observasional. Artinya, hasilnya menunjukkan adanya hubungan, tetapi tidak otomatis membuktikan bahwa konsumsi buah dan sayuran secara langsung mencegah usus buntu.
Baca Juga: 10 Cara Mengatasi Kesehatan Mental Menurut Pandangan Islam, Lengkap dengan Dalil Alquran dan Hadis
Hal serupa berlaku ketika membicarakan makanan pedas. Tidak ditemukannya bukti kuat bahwa makanan pedas merupakan penyebab langsung bukan berarti setiap aspek hubungan antara pola makan dan apendisitis sudah sepenuhnya dipahami.
Jadi, Benarkah Makan Pedas Menyebabkan Usus Buntu?
Belum ada bukti kuat bahwa makanan pedas merupakan penyebab langsung apendisitis.
Penyebab yang lebih dikenal berkaitan dengan penyumbatan saluran apendiks, bukan rasa pedas dari makanan yang dikonsumsi.
Karena itu, seseorang yang mengalami sakit perut setelah makan makanan pedas tidak seharusnya langsung menyimpulkan bahwa dirinya terkena usus buntu. Sebaliknya, perkembangan gejala perlu diperhatikan.
Jika nyeri semakin berat, terutama ketika berpindah atau terpusat di perut kanan bawah, kemudian disertai demam, mual atau muntah, pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.
Menurut World Society of Emergency Surgery (WSES) dalam pedoman yang diperbarui pada 2025, diagnosis apendisitis perlu mempertimbangkan gejala, pemeriksaan klinis dan, bila diperlukan, pemeriksaan penunjang. Artinya, diagnosis tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan makanan terakhir yang dikonsumsi.
Pada akhirnya, makanan pedas tidak tepat dijadikan kambing hitam setiap kali seseorang mengalami sakit perut. Bukti penelitian saat ini lebih mendukung pembahasan mengenai penyumbatan apendiks dan berbagai faktor lain, sementara hubungan pola makan dengan apendisitis masih terus diteliti. (kam/bgs)
Editor : Hakam Alghivari