Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Alasan Mengapa Sound Horeg Bisa Picu Ketulian Permanen

Hakam Alghivari
Penulis: Hakam Alghivari❯
Ilustrasi kuping berdengung. (MAGNIFIC)
Ilustrasi kuping berdengung. (MAGNIFIC)

Advertisement

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Suara menggelegar dari sound horeg bukan sekadar persoalan kenyamanan. Jika intensitasnya sangat tinggi dan seseorang berada di dekat sumber suara dalam waktu lama, paparan tersebut dapat meningkatkan risiko kerusakan pendengaran, bahkan berujung pada gangguan yang bersifat permanen.

Lantas, seberapa keras suara sound horeg dan mengapa bisa membahayakan telinga?

Dikutip dari detikHealth, Kamis (31/7/2025), tingkat suara yang dihasilkan sound horeg disebut dapat mencapai 120–135 desibel (dB). Angka tersebut jauh di atas tingkat suara yang direkomendasikan untuk paparan dalam waktu lama.

Namun, angka tersebut tidak berarti seluruh sound horeg selalu menghasilkan suara pada level yang sama. Peneliti BRIN, Hana Arisesa M.Eng, mengatakan kepada detikINET, tingkat keluaran suara harus diukur secara langsung karena besarnya desibel bergantung pada perangkat dan kondisi pengukuran.

Mengapa suara sangat keras bisa merusak telinga?

Advertisement

Di dalam telinga terdapat koklea atau rumah siput. Di dalam struktur tersebut terdapat sel-sel sensorik yang berperan mengubah getaran suara menjadi sinyal listrik untuk diteruskan ke otak.

Ketika telinga terus-menerus menerima suara dengan intensitas tinggi, sel sensorik tersebut dapat mengalami kelelahan dan kerusakan.

Pakar Otologi dan Neurotologi Universitas Airlangga, dr Rosa Falerina, SpTHT BKL Subsp NO K, menjelaskan kepada detikJatim bahwa suara sound horeg yang dapat mencapai lebih dari 120 dB berisiko bagi telinga. Menurutnya, suara yang sangat keras dapat membuat sel rambut di dalam koklea bekerja terlalu berat hingga akhirnya mengalami kerusakan.

Masalahnya, sel sensorik pendengaran yang sudah mengalami kerusakan berat tidak selalu dapat pulih. Inilah yang membuat gangguan pendengaran akibat kebisingan bisa bersifat permanen.

WHO menjelaskan, paparan suara keras dalam jangka waktu tertentu dapat menyebabkan kelelahan sel sensorik yang memicu gangguan pendengaran sementara atau tinnitus. Namun, paparan yang keras, berkepanjangan, atau terjadi berulang dapat menyebabkan kerusakan permanen dan menghasilkan noise-induced hearing loss atau gangguan pendengaran akibat kebisingan.

Semakin keras suara, semakin singkat batas paparannya

Risiko kerusakan pendengaran tidak hanya ditentukan oleh seberapa keras suara, tetapi juga berapa lama seseorang terpapar.

Advertisement
Editor : Hakam Alghivari
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar BojonegoroIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Memicu Polemik Masyarakat, Regulasi Sound Horeg Butuh Intervensi

Memicu Polemik Masyarakat, Regulasi Sound Horeg Butuh Intervensi

Aktivitas penggunaan sound horeg atau pengeras suara berkapasitas tinggi menyita perhatian publik.

Pemerintah Buka Rekrutmen CPNS di November 2026, Ternyata Ini Dua Alasan Utamanya

Pemerintah Buka Rekrutmen CPNS di November 2026, Ternyata Ini Dua Alasan Utamanya

Pemerintah menyiapkan rekrutmen calon pegawai negeri sipil (CPNS) 2026 untuk memenuhi kebutuhan aparatur negara. Ada dua alasan utama di balik keputusan tersebut, yakni menggantikan PNS yang memasuki masa pensiun dan memenuhi kebutuhan.

Tinggalkan Persis Solo, Muhammad Riyandi Ungkap Dua Alasan Tak Bisa Menolak Dewa United

Tinggalkan Persis Solo, Muhammad Riyandi Ungkap Dua Alasan Tak Bisa Menolak Dewa United

Dewa United FC resmi memperkenalkan Muhammad Riyandi sebagai rekrutan anyar untuk memperkuat sektor penjaga gawang menghadapi kompetisi musim 2026/2027.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer