Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

2.794 Anak di Bojonegoro Masih Berstatus ATS

M
Penulis: M. Irvan Romadhon❯
ANAK MENGEMIS: Anak mengemis di Alun-Alun Bojonegoro, terdapat 5.202 anak tidak sekolah di Bojonegoro. (HAKAM ALGHIFARI/RADAR BOJONEGORO)
ANAK MENGEMIS: Anak mengemis di Alun-Alun Bojonegoro, terdapat 5.202 anak tidak sekolah di Bojonegoro. (HAKAM ALGHIFARI/RADAR BOJONEGORO)

Advertisement

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Penurunan jumlah anak tidak sekolah (ATS) di Bojonegoro dari 5.610 menjadi 2.794 anak patut diapresiasi. Namun, capaian tersebut tidak boleh berhenti pada penurunan angka administratif. Pemerintah daerah perlu memastikan berapa anak yang benar-benar kembali mengenyam pendidikan, baik melalui sekolah formal maupun jalur nonformal atau kesetaraan.

Sekretaris Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Orda Bojonegoro Awaludin Ridwan mengatakan, penurunan jumlah ATS menjadi capaian positif. Meski demikian, penanganan anak tidak sekolah harus terus diperkuat sebagai bagian dari komitmen pemerintah daerah dalam mewujudkan program wajib belajar 12 tahun.

Menurut dia, pemerintah kabupaten (pemkab) melalui organisasi perangkat daerah (OPD) terkait perlu melakukan pemetaan ATS secara terperinci. Pemetaan harus mencakup setiap jenjang pendidikan, mulai SD/MI, SMP/MTs, hingga SMA/SMK/MA.

Langkah tersebut penting untuk mengetahui kondisi anak secara lebih spesifik. Mulai anak yang belum pernah mengenyam pendidikan, putus sekolah, hingga tidak melanjutkan ke jenjang berikutnya. Termasuk mengidentifikasi faktor yang menyebabkan mereka tidak bersekolah.

Dengan data yang lebih akurat, intervensi pemerintah bisa dilakukan secara tepat sasaran. Anak yang masih memungkinkan kembali ke sekolah formal dapat difasilitasi untuk melanjutkan pendidikan. Sementara, mereka yang terkendala berbagai faktor bisa diarahkan ke pendidikan kesetaraan Paket A, B, dan C.

Advertisement

Senada, Rektor IKIP PGRI Bojonegoro Ima Isnaini Taufiqur Rohmah menilai, keberhasilan penanganan ATS harus dilihat dari dua indikator. Pertama, keberhasilan dalam mempertajam, memperbarui, dan memvalidasi data. Kedua, keberhasilan mengembalikan anak ke layanan pendidikan sekaligus memastikan mereka tetap bertahan hingga menyelesaikan jenjang pendidikannya. (irv/zim)

 

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar BojonegoroIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Harga Beras di Bojonegoro Masih Mahal, Tembus Rp 16.000 Per Kilogram

Harga Beras di Bojonegoro Masih Mahal, Tembus Rp 16.000 Per Kilogram

Predikat Bojonegoro sebagai daerah penghasil padi terbesar nomor satu di Jawa Timur belum sepenuhnya menjamin harga beras di pasaran tetap terjangkau. Harga beras di tingkat toko justru mengalami kenaikan hingga mencapai Rp 16 ribu per kilo

Ita Nur Faizah, Jadwalkan Hiking Tiap Bulan

Ita Nur Faizah, Jadwalkan Hiking Tiap Bulan

Layaknya Ita Nur Faizah, tak tahu jelas kapan hobi itu muncul, tapi bagi perempuan akrab disapa Ita itu, mendaki dan travelling adalah bagian dari kebahagiaan hidup.

Memasuki Penghujan, Jumlah Kebakaran di Bojonegoro Mulai Berkurang

Memasuki Penghujan, Jumlah Kebakaran di Bojonegoro Mulai Berkurang

Kebakaran di Bojonegoro mulai mereda pada penghujung Oktober 2026. Turunnya hujan di sejumlah wilayah turut menekan kebakaran, terutama pada lahan yang rentan terbakar saat musim kemarau.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer