Mitos atau Fakta, Minum Teh Setelah Makan Tidak Baik bagi Tubuh?

Andhika Feriawan • Dipublikasikan Minggu, 6 September 2026 | 19:15 WIB
Minum teh setelah makan tidak baik untuk tubuh, benarkah? (MAGNIFIC/ANDHIKA FERIAWAN/RADAR BOJONEGORO)
Minum teh setelah makan tidak baik untuk tubuh, benarkah? (MAGNIFIC/ANDHIKA FERIAWAN/RADAR BOJONEGORO)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Minum teh setelah makan sudah menjadi kebiasaan bagi banyak orang. Teh hangat kerap disajikan sebagai pelengkap makanan karena dianggap dapat membantu menyegarkan mulut dan memberikan rasa nyaman setelah menyantap hidangan.

Namun, muncul anggapan bahwa minum teh setelah makan tidak baik bagi tubuh, terutama karena kandungan tanin dalam teh disebut dapat menghambat penyerapan zat besi dari makanan. Lantas, apakah anggapan tersebut merupakan mitos atau fakta?

Teh Setelah Makan, Mitos atau Fakta?

Anggapan tersebut tidak sepenuhnya mitos. Teh memang mengandung senyawa polifenol, termasuk tanin, yang dapat mengurangi penyerapan zat besi non-heme, yaitu zat besi yang terutama berasal dari makanan nabati seperti sayuran, kacang-kacangan, dan biji-bijian.

Efek tersebut menjadi lebih diperhatikan apabila seseorang terbiasa mengonsumsi teh dalam jumlah banyak bersamaan dengan makanan atau segera setelah makan, terutama jika asupan zat besinya memang rendah.

Baca Juga: Mitos atau Fakta? Bawang Putih Tunggal Bisa Menurunkan Kolesterol

Meski demikian, bukan berarti minum teh setelah makan otomatis berbahaya bagi semua orang.

Mengapa Teh Bisa Memengaruhi Penyerapan Zat Besi?

Zat besi memiliki peran penting dalam pembentukan hemoglobin yang membantu membawa oksigen ke seluruh tubuh. Penyerapan zat besi dari makanan dapat dipengaruhi oleh berbagai komponen dalam makanan dan minuman.

Polifenol dalam teh dapat berikatan dengan zat besi non-heme di saluran pencernaan sehingga jumlah zat besi yang diserap tubuh dapat berkurang.

Karena itu, orang yang membutuhkan asupan zat besi lebih tinggi perlu memperhatikan waktu mengonsumsi teh, khususnya jika teh diminum bersamaan dengan makanan yang menjadi sumber utama zat besi.

Apakah Harus Berhenti Minum Teh Setelah Makan?

Tidak selalu. Bagi orang yang sehat dan memiliki pola makan seimbang, sesekali minum teh setelah makan umumnya bukan berarti langsung menimbulkan masalah kesehatan.

Namun, jika ingin mengoptimalkan penyerapan zat besi, teh sebaiknya tidak dikonsumsi bersamaan dengan makanan yang kaya zat besi. Memberikan jeda antara waktu makan dan minum teh dapat menjadi pilihan sederhana.

Selain itu, konsumsi makanan yang mengandung vitamin C, seperti jeruk, jambu biji, tomat, atau paprika, dapat membantu meningkatkan penyerapan zat besi non-heme.

Siapa yang Perlu Lebih Memperhatikan Kebiasaan Ini?

Perhatian lebih diperlukan bagi orang yang memiliki risiko kekurangan zat besi atau membutuhkan asupan zat besi lebih tinggi. Mereka sebaiknya tidak menjadikan teh sebagai minuman pendamping utama setiap kali mengonsumsi makanan kaya zat besi.

Baca Juga: Mitos atau Fakta, Terlalu Banyak Makan Kacang Goreng Bisa Menyebabkan Jerawat?

Bagi kelompok tersebut, mengatur waktu minum teh dapat menjadi salah satu cara untuk membantu menjaga penyerapan zat besi dari makanan.

Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan diatas mitos atau fakta bahwa minum teh setelah makan tidak baik bagi tubuh? Jawabannya adalah tidak sepenuhnya mitos.

Teh memang dapat mengurangi penyerapan zat besi non-heme, terutama ketika dikonsumsi bersamaan atau berdekatan dengan waktu makan. Namun, hal tersebut tidak berarti teh harus dihindari sepenuhnya setelah makan.

Kuncinya adalah memperhatikan jumlah konsumsi, pola makan, serta kebutuhan nutrisi masing-masing orang. Jika seseorang memiliki risiko kekurangan zat besi, mengatur jarak antara waktu makan dan minum teh bisa menjadi langkah yang lebih bijak. (*)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
kandungan zat besi makan kesehatan teh