RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Pemerintah Amerika Serikat (AS) menyatakan menggencarkan diri untuk mengurangi angka kasus autisme pada anak mulai Senin (22/9). Temuan mereka, penggunaan obat Tylenol untuk ibu hamil memiliki kaitan dengan meningkatnya kasus tersebut, sehingga mereka bakal mengeluarkan himbauan melalui Kementerian Kesehatan mereka (HHS) serta Departemen Makanan dan Obat-Obatan (FDA).
“Kedua lembaga akan memberikan himbauan kepada para dokter agar membatasi dosis tylenol pada ibu hamil, kecuali memang sangat dibutuhkan. Tylenol yang dikonsumsi saat hamil dapat berhubungan dengan peningkatan risiko autisme yang sangat signifikan,” jelas Presiden AS, Donald Trump dalam rilis resmi HHS dari konferensi pers mereka.
Karena itu Trump juga berpesan kepada para ibu hamil untuk tidak mengkonsumsi obat tersebut, setidaknya sementara waktu. “Pesan saya jangan minum tylenol. Untuk saat ini, kami rekomendasikan agar janin Anda tidak ikut mengkonsumsi obat tersebut,” tambah Trump.
Sebagai catatan samping, mengutip dari Halodoc dan CNN, tylenol merupakan nama dagang AS dan Kanada untuk obat asetaminofen, atau lebih umum dikenal sebagai parasetamol di Indonesia. Asetaminofen atau parasetamol umum digunakan sebagai obat demam dan nyeri yang aman dikonsumsi untuk ibu hamil, dibanding obat serupa seperti aspirin dan ibuprofen.
Menurut Menteri Kesehatan AS, Robert F. Kennedy Jr., kasus spektrum autisme pada anak meningkat hingga 400 persen sejak tahun 2000. Sederhananya, saat ini 1 dari 31 anak di AS memiliki spektrum austime.
“Sekian lama keluarga di AS tidak memiliki pilihan seiring dengan meningkatnya angka autisme. Kini kami mengambil langkah tegas dengan menyetujui pengobatan sesuai anjuran FDA, dan memberitahu dokter dan keluarga tentang resiko pengobatan tersebut,” jelas Robert Jr.
Bersamaan dengan himbauan tersebut, HHS juga mulai menguji coba metode pengobatan baru untuk anak yang mengidap autisme. Yakni menggunakan leucovorin, atau lebih umum dikenal sebagai asam folat untuk membantu meningkatkan kadar folat dalam otak sehingga membantu tumbuh kembang anak. Metode ini dicetuskan oleh dua dokter anak asal negara bagian Arizona, yakni Daniel Rossignol dan Richard Frye.
Namun sehari setelah Trump membuat pernyataan tersebut, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) membantah kaitan tylenol dengan autisme. Menurut WHO, bukti ilmiah yang dikumpulkan terhadap temuan tersebut kurang kuat.
“Bukti ilmiah yang ada masih kurang konsisten dan belum teruji secara lebih luas dengan hasil serupa. Sehingga bahaya jika langsung ditarik kesimpulan secara cepat, terlebih sains telah membuktikan bahwa pengobatan vaksin tidak menyebabkan autisme,” jelas Juru Bicara WHO, Tarik Jašarević dalam pernyataan resmi organisasi, sebagaimana dikutip dari Reuters.
Uni Eropa melalui Agensi Obat-obatan Eropa (EMA) juga berpendapat serupa. “Bukti yang ada belum dapat menunjukkan korelasi antara tylenol dan autisme. Selain itu parasetamol aman dikonsumsi oleh ibu hamil jika dibutuhkan, namun hanya dalamn dosis kecil dan penggunaan jarang,” bunyi pernyataan organisasi.
FDA sendiri juga telah mengeluarkan klarifikasi atas pernyataan Trump. “Meskipun hubungan antara tylenol dan autisme telah banyak diteliti, masih belum ada sebab-akibat konkret yang dapat dibentuk, serta ada pula penelitian yang menangkis hubungan tersebut,” bunyi pernyataan badan tersebut sebagaimana dikutip dari BBC.
Berbeda dengan hampir seluruh belahan dunia yang mengandalkan parasetamol sebagai pereda nyeri, pusing dan demam, AS dan Kanada lebih sering menggunakan obat aspirin yang lebih dulu diperkenalkan. Parasetamol baru pertama kali dijual bebas di AS pada era 1970-an, tujuh dekade setelah aspirin dijual secara umum di AS oleh Bayer. (edo)
Editor : Yuan Edo Ramadhana