Aroma khas daun kelor menguar dari segelas wedang celup daun kelor yang tersajikan. Rasa nikmat kaya manfaat menjadi perpaduan sempurna dari produk yang dihasilkan Anita Wahyu Deviani. Selain wedang celup, berbagai produk lain dari daun kelor juga diproduksinya. Mulai dari kapsul, coklat, serbuk, hingga sabun herbal daun kelor.
Anita mulai memproduksi olahan daun kelor sejak 2019 lalu. Tepatnya, ketika mengajar kimia industri tentang pengecilan ukuran. Mengingat, saat itu peralatan di sekolah masih minim dan hanya ada blender.
Memaksanya memutar otak menentukan produk yang bisa dibuat dengan alat sederhana, tapi bahan banyak. Sehingga, diputuskan untuk membuat olahan dari daun kelor.
‘’Awalnya mengajari para murid membuat kapsul daun kelor. Namun, karena terkendala perizinan PIRT, akhirnya beralih membuat teh celup daun kelor,’’ ujar Guru SMKN Ngasem tersebut.
Pada 2020, Anita mulai membuka usaha produksi daun kelor di rumahnya. Saat itu permintaan cukup banyak karena pandemi Covid-19. Sehingga, produk daun kelor banyak dicari masyarakat untuk kekebalan tubuh. Saat itu juga, mulai mengurus segala perizinan. Termasuk sertifikat halal untuk semua produk olahan daun kelornya.
Anita mulai membuka usahanya dengan modal pribadi. Pada awal membuka usaha, ia sempat merasa kesulitan dari segi modal. Namun, tidak menjadi alasannya untuk berhenti. Dengan kegigihannya terus semangat untuk melanjutkan usahanya. Terlebih, mendapat dukungan dari keluarga, terutama sang suami. Sehingga, bisa membeli segala kebutuhan produksi dan terus melanjutkan usahanya.
‘’Alhamdulillah, saat ini usaha berjalan lancar. Dengan dibantu oleh empat karyawan yang kebetulan alumni siswa saya juga,’’ lanjutnya.
Perempuan asal Kecamatan Padangan itu mengaku tidak ada kendala serius dalam proses produksi olahan daun kelor. Namun, ketika musim kemarau terkadang kekurangan bahan baku. Susah mencari daun kelor di musim kering.
Karena pada awalnya masih mencari daun kelor dari tanaman tetangga atau desa lain. Tapi, seiring berjalannya waktu membuat kebun kelor sendiri. Untuk antisipasi kekurangan bahan nantinya.
Tidak semua daun kelor bisa diproduksi. Anita memilih daun kelor yang masih segar, tanpa bintik, ataupun kekuningan untuk produknya. Selain itu, memilih daun kelor tua, tepatnya di tangkai ketiga kebawah. Dengan daun kelor pilihan, tentu akan menghasilkan produk yang lebih berkualitas.
Produk alami kaya nutrisi yang dihasilkan Anita tidak hanya dipasarkan di dalam kota Bojonegoro. Melainkan telah meluas ke beberapa daerah luar Bojonegoro. Seperti, Surabaya, Jakarta, Malang, Medan, hingga Natuna. Selain itu, juga dijual melalui marketplace.
‘’Semoga masyarakat lebih aware dengan produk dari daun kelor karena kaya akan manfaat dan nutrisi,’’ pungkasnya. (*/msu)
Editor : Hakam Alghivari