Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Bappenas dan KNGI Lakukan Pre Assessment Geopark Nasional Bojonegoro Menuju UNESCO Global Geopark 2026

M. Nurcholis • Minggu, 21 Juni 2026 | 07:46 WIB
(ISTIMEWA/RADAR BOJONEGORO)
(ISTIMEWA/RADAR BOJONEGORO)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Komitmen Pemerintah Kabupaten Bojonegoro untuk membawa Geopark Nasional Bojonegoro menuju pengakuan dunia sebagai UNESCO Global Geopark (UGGp) semakin menunjukkan progres yang menggembirakan.

Selama dua hari, 18–19 Juni 2026, tim lintas kementerian yang dipimpin oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) bersama Komisi Nasional Geopark Indonesia (KNGI) melaksanakan kegiatan Pre Assessment Aspiring UNESCO Global Geopark (aUGGp) Bojonegoro.

Kegiatan ini menjadi tahapan penting untuk menilai kesiapan Geopark Nasional Bojonegoro sebelum menghadapi evaluasi resmi UNESCO yang dijadwalkan berlangsung pada 27 Juli 2026.

Baca Juga: Menuju Geopark Dunia, Pokdarwis Kedung Lantung Digembleng Strategi Branding dan Manajemen Wisata

Tim pre assessment terdiri dari perwakilan berbagai kementerian dan lembaga strategis, antara lain Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Pariwisata, Kementerian ESDM, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Pendidikan, Kementerian Kebudayaan, Kementerian Kehutanan, BRIN, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, serta Dewan Pakar KNGI.

Saat ini, Geopark Nasional Bojonegoro memiliki 21 geosite, 3 biosite, dan 8 culture site yang merepresentasikan kekayaan geologi, hayati, dan budaya Kabupaten Bojonegoro.

Namun dalam kegiatan pre assessment ini, tim evaluator mengunjungi sejumlah situs perwakilan yang dianggap mampu menggambarkan keseluruhan nilai geopark Bojonegoro.

Pada hari pertama, tim mengunjungi Pusat Informasi Geologi, Biosite Belimbing Ngringinrejo, Museum 13, Geosite Antiklin Kawengan, Museum Perminyakan Tradisional Wonocolo, Kebun Alpukat Wonocolo, Formasi Wonocolo, Geosite Bulu Beji, serta Culture Site Kampung Samin Margomulyo.

Sementara pada hari kedua, kunjungan difokuskan pada Geosite Kedung Lantung, Sentra Batik Jono, Biosite Hutan Jati Gondang, Negeri Atas Angin, dan ditutup dengan kunjungan malam ke Geosite Kayangan Api.

Perwakilan KNGI, Dr. Ir. Rudy Suhendar, M.Sc. dan Ir. R. Hanang Samodra, M.Si yang bertugas melakukan pre assessment, menyampaikan sejumlah catatan strategis yang perlu menjadi perhatian menjelang evaluasi UNESCO.

Beberapa aspek yang disoroti meliputi peningkatan kapasitas dan kesiapan pemandu, penyempurnaan panel informasi di situs, pengaturan durasi kunjungan yang lebih efektif, peningkatan visibilitas identitas geopark, aspek keselamatan pengunjung (safety), serta kesiapan infrastruktur pendukung di setiap lokasi.

Menurutnya, secara umum Geopark Bojonegoro telah menunjukkan perkembangan yang sangat baik dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.

Perwakilan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian memberikan apresiasi terhadap penyusunan rute kunjungan, khususnya pada hari kedua, yang dinilai telah mampu merepresentasikan tiga pilar utama UNESCO Global Geopark, yaitu geodiversity, biodiversity, dan cultural diversity secara utuh dalam satu rangkaian perjalanan.

Baca Juga: Pelatihan Pemandu Kedung Lantung Siapkan Generasi Muda Penggerak Geopark Bojonegoro

Pandangan serupa disampaikan oleh diganti Aries Kusworo, S.T., M.T., ahli geologi dari Pusat Survei Geologi (PSG), Badan Geologi di bawah Kementerian ESDM. Menurutnya, rangkaian situs yang dikunjungi pada hari kedua sangat kuat dalam menggambarkan tema utama Geopark Bojonegoro, yaitu “Petroleum System on Land” atau Sistem Petroleum Dangkal di Daratan.

Ia menjelaskan bahwa Geosite Kedung Lantung menjadi lokasi yang sangat istimewa karena mampu memperlihatkan elemen-elemen penting sistem petroleum secara lengkap.

Di kawasan ini, pengunjung dapat memahami hubungan antara batuan induk (source rock), batuan reservoir (reservoir rock), dan batuan penutup (cap rock) yang kemudian menghasilkan rembesan minyak bumi alami melalui rekahan yang terbentuk akibat aktivitas tektonik pada masa lampau.

Sementara itu, Geosite Kayangan Api merepresentasikan sistem migas berupa keluarnya gas alam melalui rekahan batuan yang juga terbentuk akibat proses tektonik. Fenomena api abadi yang menyala secara alami menjadi bukti nyata migrasi hidrokarbon yang masih berlangsung hingga saat ini.

Pada lokasi Negeri Atas Angin, tim memperoleh sudut pandang terbaik untuk mengamati bentang alam Cekungan belakang busur yang menjadi tempat akumulasi cadangan minyak bumi dalam jumlah besar.

Dari lokasi ini, struktur geologi berupa lipatan-lipatan batuan terlihat sangat jelas dan menjadi bukti penting proses pembentukan cekungan migas yang berlangsung selama jutaan tahun.

Tidak hanya aspek geologi, keterkaitan antara geodiversity dan biodiversity juga ditampilkan melalui kunjungan ke Biosite Hutan Jati Gondang.

Kawasan ini menjadi contoh nyata bagaimana kondisi geologi dan karakter lingkungan membentuk habitat unik bagi berbagai spesies penting, termasuk anggrek langka Dendrobium capra yang menjadi ikon konservasi Geopark Bojonegoro.

Sementara itu, kunjungan ke UMKM Batik Jono menunjukkan bahwa konsep geopark tidak berhenti pada aspek konservasi dan edukasi semata, tetapi juga mampu menjadi penggerak ekonomi masyarakat.

Motif-motif batik yang terinspirasi dari kekayaan geologi, hayati, dan budaya Bojonegoro telah berkembang menjadi identitas lokal sekaligus sumber penghidupan bagi masyarakat, khususnya perempuan di Desa Jono.

Salah satu lokasi yang mendapatkan perhatian khusus dari tim pre assessment adalah Geosite Kedung Lantung. Seluruh peserta memberikan apresiasi atas perkembangan signifikan yang terjadi di kawasan tersebut dalam beberapa tahun terakhir.

Berbagai fasilitas edukasi, infrastruktur wisata, serta penguatan kapasitas masyarakat dinilai telah meningkatkan kualitas pengelolaan situs secara nyata.

Keberhasilan pengembangan Kedung Lantung dinilai sebagai hasil sinergi yang kuat antara Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, Badan Pengelola Geopark Bojonegoro, LPPM Universitas Bojonegoro, kelompok masyarakat melalui Pokdarwis, serta dukungan ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) melalui program Corporate Social Responsibility(CSR).

Dukungan tersebut diwujudkan dalam pembangunan infrastruktur, penyediaan sarana edukasi, serta penguatan kelembagaan masyarakat sebagai pengelola wisata.

Dr. Laily Agustina Rahmawati, S.Si., M.Sc., Ketua LPPM Universitas Bojonegoro sekaligus Tim Pendamping Teknis Geopark Bojonegoro, menyampaikan bahwa kegiatan pre assessment memberikan banyak masukan konstruktif untuk penyempurnaan kawasan menjelang evaluasi UNESCO.

Masukan pre assessment ini akan menjadi fokus utama dalam beberapa minggu ke depan. Laily juga berharap Pemerintah Kabupaten Bojonegoro dapat segera merealisasikan bantuan pendanaan yang telah direncanakan baik melalui pemerintah desa atau kelompok sadar wisata (Pokdarwis) di sejumlah situs prioritas, sehingga penguatan visibilitas geopark, penambahan dan perbaikan infrastruktur pendukung dapat segera dilakukan.

Pre assessment ini menjadi momentum penting untuk memastikan seluruh komponen Geopark Nasional Bojonegoro siap menghadapi evaluasi UNESCO pada Juli mendatang.

Baca Juga: Pemkab Bojonegoro Bidik 28 Situs Wisata Geopark

Dengan dukungan pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat, Bojonegoro optimistis dapat menunjukkan bahwa warisan geologi, keanekaragaman hayati, dan kekayaan budaya yang dimilikinya layak mendapatkan pengakuan sebagai bagian dari jaringan UNESCO Global Geopark dunia. (*)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
#Budaya #unigoro #geologi #geopark #unesco