RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Bicara soal presiden, pikiran kita biasanya langsung tertuju pada sosok kuat seperti di Indonesia atau Amerika Serikat, pemimpin tunggal yang memegang kendali penuh eksekutif. Namun, jika Anda mencari sosok "penguasa" di Swiss, Anda mungkin akan sedikit bingung. Di negara yang terkenal dengan jam tangan mewah dan cokelatnya ini, konsep presiden sangatlah berbeda.
Bukan Satu, Tapi Tujuh "Presiden"
Sejak konstitusi federal tahun 1848, Swiss menganut sistem yang disebut Dewan Federal (Bundesrat). Alih-alih satu orang, eksekutif Swiss terdiri dari tujuh anggota yang dipilih oleh parlemen.
Hebatnya, ketujuh orang ini memiliki kedudukan yang benar-benar setara. Tidak ada atasan atau bawahan. Lantas, siapa yang menjadi presiden? Jabatan presiden di Swiss hanyalah peran bergilir dengan masa jabatan singkat selama satu tahun. Presiden di sana adalah seorang primus inter pares atau "yang pertama di antara yang setara."
Baca Juga: "Politik Hijau" di Bumi Angling Dharma: Sebuah Komitmen Ideologis
Jonas Furrer: Sang Pionir di Balik Layar Sejarah
Jika ditanya siapa presiden pertama Swiss, jawabannya adalah Jonas Furrer. Terpilih pada tahun 1848, Furrer adalah seorang politikus liberal dari kanton Zurich.
Namun, Furrer tidak memerintah seperti raja atau diktator. Tugas utamanya saat itu adalah menjadi mediator bagi kanton-kanton yang baru saja bersatu setelah perang saudara singkat (Sonderbund). Warisan terbesarnya adalah membuktikan bahwa kepemimpinan kolektif bisa menciptakan stabilitas jangka panjang.
Fakta Unik yang Bikin Geleng-Geleng Kepala
Sistem di Swiss mungkin terdengar "santai" bagi sebagian orang, namun inilah rahasia stabilitas mereka selama ratusan tahun. Berikut beberapa fakta menariknya:
-
Merangkap Jabatan: Presiden Swiss tidak hanya sibuk berpidato; mereka tetap memimpin departemen (kementerian) masing-masing.
-
Tanpa Gaji Tambahan: Menjadi presiden selama setahun tidak membuat mereka mendapatkan kenaikan gaji khusus. Mereka tetap dibayar sebagai anggota dewan.
-
Dipilih Parlemen, Bukan Rakyat: Rakyat Swiss memilih parlemen, lalu parlemenlah yang memilih tujuh orang anggota Dewan Federal.
Mengapa Sistem Ini Berhasil?
Sistem rotasi tahunan ini dirancang untuk mencegah konsentrasi kekuasaan pada satu individu. Ini adalah mekanisme "anti-diktator" yang sangat efektif. Dalam budaya politik Swiss, konsensus adalah segalanya. Setiap keputusan besar harus disepakati secara kolektif, yang membuat kebijakan negara menjadi sangat stabil meski presidennya berganti setiap tahun.
Menurut data dari Official Portal of the Swiss Government (admin.ch), pergantian kepemimpinan tahunan ini justru menjaga keberlangsungan administrasi negara karena sistemnya tidak bergantung pada ego satu tokoh populer, melainkan pada institusi yang kuat.
Jonas Furrer mungkin adalah nama pertama dalam daftar sejarah mereka, namun esensi kepemimpinan Swiss terletak pada kebersamaan tujuh orang anggota dewan. Swiss mengajarkan kita bahwa untuk menjadi negara yang stabil, Anda tidak butuh satu orang yang "paling berkuasa," melainkan sistem yang menghargai setiap suara secara adil.
Menurut Anda, mungkinkah sistem kepemimpinan kolektif seperti ini diterapkan di negara dengan populasi besar? (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko