RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah mengusulkan proposal rencana perdamaian 20 poin untuk mengakhiri perang di Gaza antara Israel dan Palestina setelah mengadakan pembicaraan dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada 29 September 2025.
Ringkasan dari 20 poin proposal rencana perdamaian oleh Trump tersebut:
1. Gaza akan menjadi "zona bebas teror yang dideradikalisasi".
2. Gaza akan dibangun kembali untuk meningkatkan kehidupan warganya.
3. Perang segera berakhir setelah kedua belah pihak setuju, dengan penarikan mundur Israel ke garis yang disepakati dan gencatan senjata.
4. Semua tawanan, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal, dikembalikan dalam waktu 72 jam setelah Israel menerima kesepakatan.
5. Israel membebaskan 250 tahanan Palestina yang divonis seumur hidup, 1.700 tahanan lainnya, dan pertukaran jenazah secara proporsional.
6. Anggota Hamas yang melucuti senjata mereka mendapatkan amnesti atau jaminan keamanan untuk pergi ke luar negeri.
7. Bantuan kemanusiaan penuh segera masuk untuk membangun kembali infrastruktur penting.
8. Bantuan mengalir bebas melalui PBB dan Bulan Sabit Merah, perlintasan Rafah dibuka kembali berdasarkan kesepakatan.
9. Gaza untuk sementara diperintah oleh komite teknokratik Palestina di bawah dewan internasional yang mencakup mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair dan dipimpin oleh Trump.
10. Rencana ekonomi Trump untuk membangun kembali Gaza dengan investasi global dan penciptaan lapangan kerja.
11. Zona ekonomi khusus didirikan dengan persyaratan perdagangan yang menguntungkan.
12. Tidak ada pemindahan paksa. Warga bebas untuk tinggal, pergi, atau kembali.
13. Hamas dikecualikan dari pemerintahan, semua senjata dilucuti.
14. Mitra regional menjamin kepatuhan Hamas dan keamanan.
15. Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF) dikerahkan untuk mengamankan Gaza dan melatih polisi.
16. Israel tidak akan menduduki Gaza, menarik diri seiring kemajuan stabilitas dan demiliterisasi.
17. Jika Hamas menolak rencana tersebut, penyerahan wilayah dari militer Israel kepada ISF akan tetap dilanjutkan.
18. Dialog antaragama diluncurkan untuk mempromosikan "nilai-nilai toleransi dan hidup berdampingan secara damai."
19. Reformasi membuka jalan bagi "penentuan nasib sendiri dan status negara Palestina".
20. AS memimpin pembicaraan untuk masa depan politik antara Israel dan Palestina,
Meskipun pengumuman ini disambut dengan optimisme yang hati-hati, para ahli dan pengamat, termasuk yang dikutip oleh Al Jazeera menekankan, bahwa jalan di depan masih sangat terjal dan penuh risiko. Nasib Palestina ke depannya masih dipertanyakan. Akankah Palestina merdeka?
Tantangan Implementasi: Kerangka kerja ini hanyalah sebuah awal. Detail teknis mengenai siapa saja tahanan yang akan dibebaskan, bagaimana verifikasi pembebasan sandera dilakukan, dan mekanisme pengawasan gencatan senjata akan menjadi ujian nyata pertama.
Potensi Oposisi Internal: Di kedua belah pihak, ada faksi garis keras yang dapat menggagalkan kesepakatan ini. Menteri-menteri sayap kanan dalam kabinet Israel mungkin menolak konsesi apa pun, sementara sayap militer Hamas bisa jadi tidak setuju dengan semua persyaratan.
Masa Depan Gaza: Pertanyaan terbesar yang belum terjawab adalah tentang "hari setelah" perang di Gaza. Siapa yang akan memerintah dan bagaimana stabilitas jangka panjang akan dipastikan masih menjadi poin yang sangat kabur. (bgs)
Editor : Bhagas Dani Purwoko