RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Tak dapat dipungkiri lagi, kecerdasan buatan (AI) telah banyak mengubah tatanan kehidupan manusia modern. Mulai dari sekedar membatu memecahkan masalah hingga mengatur kinerja industri, semua kini sudah bisa diserahkan kepada AI.
Namun tentu, penggunaan AI sama seperti menggunakan pisau atau gunting. Di satu sisi AI dapat digunakan untuk urusan remeh-temeh dan niatan baik, namun di sisi lain AI dapat dengan mudah disalahgunakan, misal untuk penipuan. Selain itu, penggunaan AI juga semakin intens di dunia militer, misal untuk kebutuhan pesawat drone.
Sehingga Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), dalam kongres majelis pada Rabu (24/9) memeringatkan pada ratusan negara anggotanya untuk mengutamakan kemanusiaan dalam penggunaan AI. Yakni dengan menerapkan batasan-batasan moral saat memanfaatkan teknologi tersebut.
“AI sudah bukan lagi angan-angan, dan kini sudah mengubah tatanan hidup manusia dengan sangat cepat. Pertanyaannya sekarang bukan tentang bagaimana AI akan memengaruhi perdamaian internasional, namun bagaimana kita dapat menanamkan pemikiran tersebut untuk AI,” jelas Sekretaris Jenderal (Sekjen PBB), Antonio Guterres, sebagaimana dikutip dari laman PBB.
Guterres secara spesifik menyoroti kemampuan AI untuk merekayasa konten audiovisual. Dirinya khawatir pembuatan konten artifisial tersebut disalahgunakan untuk kebutuhan provokasi.
Contoh paling sederhana sempat terjadi di Indonesia beberapa waktu lalu. Karena foto-foto penggawa Timnas Indonesia banyak digunakan sebagai bahan olahan AI, sebagian dari mereka seperti Rizky Ridho dan Sandy Walsh meminta agar mereka tidak dipakai untuk menghindari kesalahpahaman dalam keluarga mereka.
“Kemampuan AI untuk menciptakan konten audiovisual dapat mengancam integritas, menimbulkan perpecahan dan bahkan menimbulkan krisis diplomatik. Takdir manusia tidak boleh dikendalikan oleh algoritma semata,” jelas Guterres.
Secara lebih luas, Guterres menyebut AI dapat digunakan sebagai alat untuk mendeteksi potensi tindak kekerasan, memeriksa kualitas makanan, dan memulihkan bekas wilayah tambang. Namun tanpa batasan moral yang konkrit, AI dengan mudah dapat menjadi senjata.
Pandangan Guterres bukan omong belaka, dengan makin banyaknya militer berbagai negara memanfaatkan AI untuk kebutuhan pengawasan melalui drone milik mereka. Bahkan beberapa negara, misal Amerika Serikat sudah mulai mengembangkan AI untuk kebutuhan ofensif, misal melalui proyek X62-VISTA yang menanam AI ke dalam jet F-16 milik mereka.
“Sekali lagi saya menyerukan larangan untuk persenjataan nirawak yang bertindak tanpa kendali manusia, dengan rencana membuat instrumen hukum yang mengikat dan sesuai tahun depan. Keputusan untuk penggunaan senjata, termasuk senjata nuklir harus tetap berada di tangan manusia, bukan mesin,” ujar Guterres.
Selain itu Guterres juga memeringatkan agar seluruh negara bertindak segera untuk menyetujui batasan-batasan moral tersebut demi keamanan dan perdamaian peradaban manusia.
“Peradaban internasional dapat menghadapi tantangan-tantangan destabilisasi kehidupan sosial dengan menyetujui peraturan hukum, membentuk badan-badan regulasi, dan mengutamakan harkat dan martabat manusia. Namun waktu yang ada tidak banyak, sehingga kita harus segera bertindak,” tutup Guterres. (edo)
Editor : Yuan Edo Ramadhana