Keterbatasan tidak menghalangi Evina Sulistya Putri meraih prestasi. Ia berhasil meraih juara FLS2N cabang melukis jenjang SMPLB tingkat kabupaten 2024.
DEWI SAFITRI, Bojonegoro
JARI-JEMARI kecil bergerak lentik di atas kanvas. Goresan kuas menari memberi beragam warna menciptakan karya lukis. Gadis cilik berkerudung tersebut dengan apik menghasilkan karya lukis nan memesona. Dia adalah Evina Sulistya Putri.
Perempuan 14 tahun tersebut mampu menghasilkan karya lukis indah di tengah keterbatasannya. Meski tidak dapat mendengar dunia dengan semestinya. Namun, ia mampu menuangkan keindahan dunia dalam setiap karya lukis yang dihasilkannya.
Siswa tunarungu tersebut telah belajar seni lukis sejak duduk di bangku kelas 4 SD. Ia mendalami seni lukis dari kegiatan ekstrakurikuler yang ada di sekolah. Bahkan, Evina berhasil meraih juara Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) cabang melukis jenjang SMPLB tingkat kabupaten 2024.
Dan, berlanjut mewakili kontingen PK-PLK Kabupaten Bojonegoro untuk lomba FLS2N tingkat provinsi. ’’Di tengah hambatan pendengarannya. Evina tidak hanya bisa melukis, tapi juga bisa menjahit, menari, dan memasak,” ujar Kepala Sekolah Luar Biasa (SLB) PGRI Kalitidu Dewi Rahayu.
Berkat kemampuan luar biasa Evina dan ketelatenan guru mendidiknya, membuat siswi SLB asal Desa Talok, Kecamatan Kalitidu tersebut berhasil menunjukkan kepada dunia. Bahwa, keterbatasan tidak menjadi penghalangnya untuk meraih beragam prestasi.
Prestasi akan selalu mengikuti, di mana tekad terbentuk kuat. Seiring dengan semangat berlatih dan tidak pantang menyerah. Meski tidak mudah, Evina berhasil melewati segala proses tersebut hingga berhasil menemukan bakatnya.
Dewi mengatakan, sekolah termotivasi ingin menggali dan mengembangkan potensi yang dimiliki siswa agar lebih percaya diri. Terkadang, saat mood siswa kurang baik dan merasa capek, tidak akan mau menyelesaikan lukisannya atau selesai namun terlihat kurang bagus.
Di sini menjadi tantangan tersendiri bagi guru untuk bisa membaca situasi emosional siswa. Apabila siswa tidak mood untuk melukis, bisa diajak kegiatan pembelajaran lebih menarik dan menyenangkan terlebih dulu.
Mengingat, dalam melukis membutuhkan konsentrasi dan suasana emosional yang baik. Sehingga, harus pandai mengenali karakteristik siswa terlebih dulu. ’’Dalam membimbing anak berkebutuhan khusus, guru pembimbing harus selalu telaten dan sabar. Juga, mampu menciptakan suasana menyenangkan,” ujar perempuan 33 tahun tersebut. (*/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana