Tak ingin berdiam diri di tengah masifnya media sosial (medsos), Komunitas Teater Sagiwon memutuskan jemput bola, menghampiri penonton dan melakukan pementasan langsung di depan rumah warga.
YANA DWI KURNIYA WATI, Bojonegoro
"KONSEP acara sama seperti tahun-tahun sebelumnya, bagaimana kami merasa bahwa kesenian khususnya teater sudah mulai jauh dari masyarakat. Pertunjukan ini sudah mulai ditinggalkan karena munculnya medsos," tutur Sutradara Pentas Blakrakan Dicky Candra Setiawan, pascapertunjukan.
Jadi, lanjut Dicky, mencari hiburan lebih mudah. Tapi, Komunitas Teater Sagiwon memiliki cara, di mana bukan lagi penonton yang menghampiri seperti di gedung-gedung pertunjukan yang eksklusif.
Tapi, pelakon dan komunitas yang menjemput bola. Karena ingin berbaur langsung dengan masyarakat. Menganggap teater muncul dari masyarakat dan akan kembali ke masyarakat.
"Nah, asyik sih sebenarnya, karena mungkin juga kurangnya fasilitas. Akhirnya, mau tidak mau harus putar otak, bagaimana caranya bisa tetap pentas meski tidak di gedung pertunjukan, khususnya di Bojonegoro," ujarnya.
Dia mengaku, rencana ini sudah ada sejak tahun lalu. Tapi, baru realisasi tahun ini. Bahkan, tak sedikit kendala dihadapi. Pentas digelar 14 Februari itu mendekati Ramadan dan dihadapkan cuaca tak menentu hingga sulitnya menentukan jadwal latihan dengan anggota penuh.
Pertunjukan akhirnya ditampilkan pascahujan mereda di depan rumah warga Kelurahan Ledok Wetan, Kecamatan Bojonegoro Kota.
"Anggota kami sekitar 30-an, mungkin karena banyak personel jadi agak ribet ngaturnya (jadwal latihan). Kan dari teman-teman umum, tidak terikat dalam suatu pelajar, kampus, sekolah, atau lainnya. Pure dari umum. Akhirnya, muncullah komunitas agak aneh ini," ucapnya sembari tersenyum tipis.
Dicky menuturkan, pentas perdana dengan setting halaman rumah warga tanpa backdrop itu mengangkat cerita perempuan yang bekerja sebagai ladies companion atau LC.
"Kalau ada LC di kampung-kampung pernah kebayang enggak bagaimana warga sekitar itu menggunjing? Nah, itu akhirnya saat ia bertindak apapun yang sebenarnya sah-sah aja menjadi hal yang salah," gumam dia.
Seperti kerja berangkat malam, pakaian lumayan terbuka tidak seperti umumnya warga kampung, banyak sesama warga menggoda. Dan, sesalnya, lanjut dia, yang disalahkan adalah LC.
Namun, kata dia, kalau berbicara LC lakon dalam Pentas Blakrakan bukan seorang yang dianggap buruk. Karena melakoni pekerjaan itu juga banyak faktor, di antaranya tekanan ekonomi.
"Kami juga beberapa kali tanya teman yang bekerja sebagai LC, ya karena tuntutan ekonomi. Mereka bekerja itu karena sulit mencari pekerjaan lain di kabupaten sempit ini. Ya, mungkin menurutnya, itulah jalannya, kurang lebih begitu," imbuhnya.
Dia melanjutkan, dari cerita ini menunjukkan bagaimana mayoritas akhirnya menyalahkan minoritas. Minoritas tersingkir karena kepentingan-kepentingan terselubung. "Dan, kami berbicara bagaimana suatu kebudayaan yang dibentuk masyarakat mayoritas itu membentuk kebenaran dan sebuah hal-hal kebenaran. Tentang pekerjaan apalagi," ujarnya.
Selain itu, lanjut Dicky, lakon lainnya ada Pak Budi yang istrinya baru meninggal dan hidup bersama anaknya berusia sekitar 25 tahun. Dipaksa menjadi guru untuk mengangkat nama keluarga, padahal ingin menjadi penyanyi. "Dia ingin menjadi seniman, tapi dianggap salah dengan memakai atas nama kebenaran," tuturnya.
Dia menambahkan, pementasan berjalan dengan penuh lika-liku. Hari itu diguyur hujan deras, tapi syukurnya masih banyak warga antusias. Hingga pertunjukan bisa dimulai sekitar pukul 21.00. Menurut Dicky, ini hal luar biasa.
Karena berdasar survei dilakukannya hanya sekitar 30 persen warga pernah menonton teater. Mungkin, tutur dia, ini salah satu goals atau tujuan Komunitas Teater Sagiwon untuk mengenalkan kesenian teater.
"Dan, kami sangat senang ketika ada penonton yang juga senang menyaksikan kami. Jadi, sama-sama enaknya mungkin. Aku menyebutnya Teater Sandiwara Jawa, judulnya Demi Kepentingan Bersama," ucapnya.
Dari judul itu sebenarnya, kata dia, ingin menyampaikan bahwa kita selalu mengatakan demi kepentingan bersama yang akan memengaruhi kelompok besar, mayoritas, sehingga menganggap ini kepentingan bersama.
Hingga akhirnya percaya ini suatu kebenaran. "Kami ingin teater ini bukan lagi hal yang awam bagi masyarakat. Dan, bagaimana yang katanya demi kepentingan bersama memengaruhi mayoritas dan dianggap sebagai kebenaran," tutur dia. (yna/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana