Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Opini: Kesiapan Psikologis Menikah

M
Penulis: Muhammad Suaeb❯
Ilustrasi nikah muda (AINUR OCHIEM/RDR.BJN)
Ilustrasi nikah muda (AINUR OCHIEM/RDR.BJN)

Advertisement

 

Oleh:
Agus Ari Afandi
Psikolog unit perlindungan perempuan dan anak Bojonegoro

 

Advertisement

Malem Sanga, sebagai waktu di penghujung ramadan adalah waktu yang baik untuk menggelar akad nikah. Tidak heran  penghulu sibuk untuk menikahkan pasangan yang berbahagia.

Perkawinan sebagai acara yang sakral dan ibadah yang panjang memerlukan persiapan dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Bila pasangan sudah siap maka memasuki gerbang rumah tangga akan mengawali kehidupan baru sebagai insan. Namun diantaranya pasangan yang akan menikah itu juga masih kita jumpai mereka yang masih anak-anak.

Berdasarkan data pengajuan dispensasi nikah di pengadilan agama Bojonegoro ada penurunan jumlahnya dari tahun ke tahun. Hal ini adalah upaya bersama yang dilakukan berbagai pihak untuk menurunkan jumlah perkawinan anak. Namun untuk perbandingan dengan wilayah lain di Jawa Timur, jumlah di Bojonegoro masih termasuk tinggi.

Advertisement

Masih berdasarkan data dari pengadilan agama bahwa tiga alasan utama penyebab anak mengajukan perkawinan adalah menghindari zina, kehamilan tidak diinginkan, zina. Tiga faktor ini angkanya cukup tinggi yaitu pada tahun 2025 adalah berturut-turut 184,78, 63. Sementara untuk faktor lain yaitu ekonomi, budaya, putus sekolah sudah banyak berkurang.

Alasan menghindari zina kemudian menikahkan anak bukanlah solusi yang selalu tepat ketika itu dipilih. Justru ini kadang menjadi masalah baru bagi anak ketika sudah menikah dan memiliki keturunan. Ini karena memang mereka sebenarnya belum siap untuk menjalaninya.

Usia anak masih belum siap untuk membina rumah tangga yang dalam praktik hidupnya tidak seindah ketika masih pacaran. Diperlukan kesiapan secara psikologis untuk membina rumah tangga. Memang usia tidak selalu bisa menjadi patokan kesiapan secara psikologis, namun secara umum kematangan usia akan berbanding lurus dengan kematangan psikologis.

Secara fisik dan badan mereka mungkin sudah siap karena sudah menginjak remaja. Namun berbeda dengan kesiapan psikologis. Rasa cinta saja tidak cukup sebagai dasar untuk membina rumah tangga.

Kestabilan emosi adalah aspek psikologis pertama yang harus dimiliki dalam melakukan perkawinan. Kondisi ini akan membuat  seseorang untuk tetap tenang, konsisten, dan terkendali dalam menghadapi  tekanan, atau situasi emosional tanpa bereaksi berlebihan.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar BojonegoroIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Januari-September 2026, Sebanyak 6.154 Pekerja di Jawa Timur Kena PHK

Januari-September 2026, Sebanyak 6.154 Pekerja di Jawa Timur Kena PHK

Jawa Timur masuk tiga besar provinsi dengan jumlah pekerja yang melaporkan terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) terbanyak di Indonesia sepanjang Januari hingga September 2026. Berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker), jumla

63.789 Pekerja Laporkan Kena PHK hingga September 2026, Jawa Timur Masuk Tiga Besar

63.789 Pekerja Laporkan Kena PHK hingga September 2026, Jawa Timur Masuk Tiga Besar

Sebanyak 63.789 pekerja melaporkan mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) sepanjang Januari hingga September 2026. Data Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menunjukkan Jawa Timur berada di posisi ketiga provinsi dengan jumlah laporan P

7 Rekomendasi Makanan Unik Asli Jawa Timur yang Wajib Kamu Coba

7 Rekomendasi Makanan Unik Asli Jawa Timur yang Wajib Kamu Coba

Tidak hanya terkenal dengan rawon, rujak cingur, atau bakso Malang, berbagai daerah di Jawa Timur juga mempunyai makanan khas dengan nama, bahan, hingga cara penyajian yang cukup unik.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer