Puisi bagi Devy Cantika Puspitasari tidak hanya sekadar karya sastra. Melainkan, suara hati, kebahagiaan, serta cara untuk menorehkan prestasi.
DEWI SAFITRI, Bojonegoro
RENTETAN kata tertulis indah. Mencipta bait-bait puisi penuh makna. Tidak hanya menjadi koleksi pribadi. Devy Cantika Puspitasari menjadikan karyanya untuk unjuk diri.
Perempuan 19 tahun tersebut kerap mengikuti berbagai kompetisi. Tak jarang juga, ia berhasil monerahkan kemenangan dalam ajang perlombaan yang diikuti.
Beberapa di antaranya, peraih Juara Favorit versi Youtube dalam Lomba Baca Geguritan Virtual Tingkat Nasional oleh TBM Kinanthi Baureno, Bojonegoro 2023; Penulis Terpilih dalam Lomba Cipta Puisi Nasional 2024 tema Luka/Lara oleh penerbit PT Bara Pustaka Group.
Hingga sukses meraih Medali Emas Nasional bidang Bahasa Indonesia dalam Festival Olimpiade Sains dan Bahasa Tingkat Nasional oleh Focus Learning Institut dan Yayasan Al-Mansuriyah.
Di luar bidang bahasa dan sastra Indonesia, Devy juga pernah meraih penganugerahan Tanda Kecakapan Pramuka Penegak Garuda 2024 oleh Kwartir Cabang Bojonegoro.
“Menariknya, saat membuat salah satu puisi bertema luka untuk lomba. Itu saya tulis berdasarkan kenyataan luka saya selama hidup. Saya juga pernah menulis beberapa puisi sambil menangis,” kisahnya.
Perempuan tinggal di Kecamatan Sugihwaras tersebut mulai jatuh hati dunia puisi sejak duduk di bangku SMK. Bermula dari ketidaksengajaan saat praktik berpuisi yang dinilai bagus oleh para guru.
Kemudian sering diminta untuk tampil berpuisi pada acara-acara sekolah, bahkan diikutsertakan dalam berbagai perlombaan.
Keberhasilannya dalam meraih juara dari kompetisi yang diikuti. Menjadi semangat tersendiri bagi Devy untuk terus mengembangkan bakat yang dimiliki.
“Sejak saat itu, saya sering membuat puisi di kala senggang. Beberapa puisi yang saya buat, saya ikutkan lomba,” katanya.
Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP PGRI Bojonegoro tersebut mengatakan, melalui puisi dapat mengungkapkan pikiran dan perasaan.
Selain itu, dapat memotivasi banyak orang sekaligus menjadi suatu keindahan yang bisa dinikmati.
“Semoga ke depan puisi-puisi yang saya ciptakan, semakin baik lagi. Ketika mengikuti perlombaan, bisa mendapat juara,” harapnya.
Devy merasa bangga dengan diri sendiri. Meski jalan hidup yang dilalui tidak mulus. Berbagai permasalahan kerap menghadang jalannya.
Namun, ia bisa tetap fokus dalam pendidikan maupun bakatnya. Hingga, capaian prestasi menjadi hadiahnya.
“Saya ingin menjadi penulis puisi yang mahir nantinya. Dan, karya-karya saya dapat diakui keindahannya oleh orang banyak,” pungkasnya. (*/msu)
Editor : Bhagas Dani Purwoko