Dimulai dari rasa penasaran tinggi dalam cita rasa kopi, Anang Ma'ruf memutuskan menekuni dunia barista. Membuka kafe dan meracik kopi dengan memadukan unsur khas jajanan tradisional Bojonegoro.
YANA DWI KURNIYA WATI, Bojonegoro
BAGI warga Bojonegoro mendengar kata ‘ledre’ mungkin sudah tak asing. Ya, ledre sebagai salah satu makanan dan oleh-oleh kabupaten ujung Jatim ini.
Namun, siapa sangka ledre saat ini tidak hanya dimaknai sebagai makanan, tapi bisa diinovasikan.
Seperti ledre di tangan Anang Ma'ruf, pemuda yang menekuni dunia barista sejak 2014. Laki-laki kerap disapa Anang itu berimprovisasi dan membuat inovasi di bidang kopi yang khas Bojonegoro, yakni Kopi Ledre.
Satu-satunya kopi dengan cita rasa ledre, bisa dinikmati secara langsung di Deulleuda Coffee.
Memadukan kopi dan ledre menjadi seni dalam media ekspresi budaya serta identitas daerah. Anang mengungkapkan alasannya menciptakan kopi ledre.
Ia berharap karya ini bisa menjadi inspirasi bagi generasi muda lainnya untuk terus menggali dan mengembangkan potensi lokal daerah.
Sebab, Bojonegoro memiliki banyak hal yang bisa diangkat. ’’Kopi ledre saya ciptakan bukan hanya menjadi menu andalan, tapi juga menjadi bagian dari narasi baru bahwa tradisi dan modernitas bisa berjalan beriringan. Sekaligus membuktikan bahwa kekayaan lokal jika dikembangkan dengan kreatif dapat bersaing dan diterima luas di tengah tren globalisasi,” tuturnya.
Dia bercerita, ide kreatifnya tak muncul seketika, namun melalui proses panjang. Dari rasa penasaran tinggi dalam segi rasa kopi yang ternyata tidak pahit, tapi memiliki rasa unik hingga belajar secara otodidak dan melalui mentor.
’’Dari situ saya tak henti belajar sampai detik ini masih belajar terus menerus," ucapnya. Belajar tentang kopi kali pertama di Balikpapan hingga sempat membuka coffeeshop di Bogor dan akhirnya kembali ke Bojonegoro membuktikan tekad Anang dalam dunia kopi dan membanggakan tanah kelahirannya.
Menurutnya, banyak peluang di kota kecil ini asal mau berkarya dengan sabar dan bertahan. Dia yakin industri kopi di Bojonegoro bisa berkembang.
’’Tinggal kita para pelaku usaha F&B (food and beverage) khususnya bidang kopi mau sabar dan konsisten atau tidak,” ujarnya.
Karena, lanjut dia, Bojonegoro mempunyai sejarah tentang kopi. Jika dipadukan dengan unsur khas atau tradisional Bojonegoro bisa membuat lebih dikenal.
Tentu dengan rasa yang unik dan khas. ’’Seperti kami mengusung tema inovasi jajanan khas tradisional dijadikan minuman yang ada unsur kopinya seperti kopi susu atau mocktail coffee,” katanya.
Setelah membuat kopi ledre, pria 33 tahun itu mengatakan sedang mempersiapkan kopi dengan unsur jajanan tradisional lainnya.
Yakni, kopi nogosari dan getuk lindri. ’’Mungkin launching dua mingguan lagi kalau prosesnya tidak terhambat. Rencana mau ekspansi di Madiun dan Kota Malang,” tutur guru ekstrakurikuler barista di SMAN 1 Dander itu. (*/bgs)
Editor : Bhagas Dani Purwoko