Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Opini: Menelisik MPLS dan Fatherless

M
Penulis: Muhammad Suaeb❯
MPLS : Kepala SMAN 1 Bojonegoro Wiwik Widowati menyambut siswa baru.
MPLS : Kepala SMAN 1 Bojonegoro Wiwik Widowati menyambut siswa baru.

Advertisement

Oleh : Nono Warnono *)

Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) diadakan saban awal tahun ajaran baru dalam rangka memperkenalkan pada siswa agar beradaptasi dengan lingkungan belajar yang baru.  Sebagai sebuah kegiatan strategis, MPLS tak lazim manakala dipandang sebagai kegiatan seremonial, formalitas administratif atau sebatas tradisi tahunan ansich. Namun lebih dari itu MPLS diniscayakan menjadi gerbang mengantarkan murid dalam pembelajaran. untuk bertranspormasi bukan semata masa orientasi.

Tradisi MPLS awalnya diadopsi dari siatem pendidikan warisan Belanda yang disebut sebagai pendewasaan (ontgroening) yang orientasinya identik dengan perpeloncoan yang bertujuan melatih mental dan pendisiplinan fisik yang cenderung kekerasan fisik dan tekanan psikologis. Dalam perkembangannya, adopsi tersebut diselaraskan menjadi Masa Orientasi Sekolah (MOS) yang masih cenderung diwarnai kekerasan fisik dan mental. Secara gradual diadaptasi menjadi kegiatan yang ramah anak dengan terbitnya regulasi  Permendikbud Nomor 18 Tahun 2016 tentang Pengenalan Lingkungan Sekolah Bagi Siswa Baru.

Advertisement

Dalam perspektif Kemendikdasmen, MPLS diimplementasikan berwawasan edukatif, mengedepankan ramah anak, dalam situasi aman, suasana menggembirakan dan bebas dari kekerasan atau perpeloncoan fisik dan mental. MPLS menjadi momentum membangun kesadaran, sebuah revolusi kultural dalam sistem pendidikan nasional sebagai ikhtiar mereduksi kekerasan atau perundungan (bullying).

Kini implementasi MPLS lebih ramah anak, dengan fokus kegiatan membantu siswa baru untuk beradaptasi dengan lingkungan fisik sekolah, memperkenalkan kurikulum belajar di sekolah, memahami hak dan kewajiban, serta menumbuhkembangkan motivasi belajar yang positif dan produktif. MPLS menjadi bukti nyata bahwa mengajar, mendidik dan mendisuplinkan siswa tidak harus dilakukan dengan intimidasi. Sekolah harus menjadi rumah yang aman dan menyenangkan bagi siswa dalam berproses mentransfer pengetahuan (kognitif), menginternalisasi nilai-sikap (afektif) dan gladi ketrampilan (psikomotorik).

Advertisement

 

GEMAS Mereduksi Fatherless

Fenonena minimnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak (fatherless) yang direspon pemerintah daerah Bojonegoro melalui ikhtiar Gerakan Ayah Mengantar Anak Sekolah (GEMAS), menarik untuk didiskusikan. Sebagian praktisi pendidikan dan psikologi memberikan perspektif kritis, bahwa kebijakan yang secara khusus mewajibkan kehadiran ayah pada hari pertama masuk sekolah dipandang kurang efektif. Karena kebijakan tersebut belum mempertimbangkan kondisi riil yang dihadapi setiap anak. (Radar Bojonegoro, 13 Juli 2026).

Mayoritas pakar sepakat bahwa peran ayah lebih dari sekadar pencari nafkah. Ayah adalah pilar utama pembentuk fondasi emosional, karakter, dan mental anak. Keterlibatan aktif ayah secara langsung menumbuhkan rasa aman, melatih ketegasan, dan menyeimbangkan pola asuh ibu, yang terbukti mencegah krisis figur ayah (fatherless). Kehadiran sosok ayah dalam pengasuhan memiliki dampak krusial dalam pembentukan karakter. Para psikolog menilai bahwa relasi positif dengan ayah membuat anak lebih mandiri, berani mengambil keputusan, dan memiliki tingkat kepercayaan diri yang lebih tinggi. Dalam ranah kecerdasan emosional, interaksi dan gaya komunikasi ayah yang khas membantu anak mengelola emosi dan membangun kemampuan bersosialisasi yang lebih baik di masyarakat. Dukungan psikologis keterlibatan ayah dalam rutinitas sehari-hari, seperti mengantar sekolah, mendampingi belajar, bermain, atau sekadar hadir di acara sekolah akan memberikan rasa dicintai dan sangat memotivasi anak.

Indonesia masuk peringkat tiga fatherless country di dunia. Psikolog UGM, Diana Setiyawati, menyampaikan bahwa fatherless country bermakna suatu negara dengan masyarakatnya minim peran/keterlibatan sosok ayah dalam kehidupan anak. Ini jadi fenomena yang cukup lazim, karena pengaruh budaya patriarki yang menempatkan perempuan bertanggung jawab urusan domestik dan mengurus anak. Sementara laki-laki bertanggung jawab pada urusan publik. Selain faktor budaya, anak bisa mengalami fatherless karena orang tua yang terlalu sibuk. Karena kesibukan bekerja, menjadikan ayah sulit untuk terlibat dalam pengasuhan.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar BojonegoroIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

M. Azam Hanung Dewanto, Biasa Pakai Kaus Kaki Hijau

M. Azam Hanung Dewanto, Biasa Pakai Kaus Kaki Hijau

Awalnya tak ada yang menyangka, sebab bukan arahan orang tua. Hanung menginginkannya sendiri hingga berani mengikuti dan bergabung di sekolah sepak bola (SSB) di dekat wilayahnya, yakni SSB Besi Gunungsari. Ia mulai bermain dan menekuni sep

Garuda Cakramandala Swarnaloka: Mengeksplor Imajinasi Lewat Menggambar

Garuda Cakramandala Swarnaloka: Mengeksplor Imajinasi Lewat Menggambar

BERAWAL sering melihat sang ayah melukis, Garuda Cakramandala Swarnaloka jadi mempunyai ketertarikan di dunia seni

Khalid Zaidan Yazid: Suka Pencak Silat   

Khalid Zaidan Yazid: Suka Pencak Silat  

MELIHAT apa yang ada di lingkungan sekitar berpengaruh besar terhadap perilaku dan minat anak.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer