Berawal dari tongkrongan. Kini, menjadi forum pemerhati lambang negara dan sejarahnya. Beranggotakan sekitar 20 orang. Tujuannya, mengedukasi masyarakat sekitar.
YANA DWI KURNIYA WATI, Bojonegoro
SUARA lalu lalang kendaraan terdengar menghiasi suasana obrolan tim Jawa Pos Radar Bojonegoro dengan Inisiator Forum Pemerhati Lambang Negara, Fatkhur Rahman di kediamannya. Berlokasi di Desa Ngumpakdalem, Kecamatan Dander.
Tempat tinggal pria kerap disapa Ayik tersebut tidak sebatas rumah biasa. Lokasi depannya dimanfaatkan sebagai warung kopi sekaligus tempat pemuda pemudi, orang tua, hingga anak-anak berdiskusi.
Barulah bagian belakangnya sebagai rumah pribadi. Ketika berkunjung ke lokasi akan tampak berjajar buku-buku di sudut depan tempat pemesanan. Siapa yang berkunjung dengan bebas meminjam.
Tampak juga di area rumahnya banyak koleksi Garuda Pancasila dari berbagai macam ukuran. Sedang hingga besar. Beberapa di antaranya terbuat dari kayu ukiran. Tidak jarang kediaman dan warung kopi milik pria 37 tahun tersebut ramai digunakan untuk berdiskusi dengan balutan santai alias tongkrongan anak muda.
Dari sinilah Ayik mulai menceritakan adanya forum pemerhati lambang negara yang berbasis di rumah Ayik. Forum tersebut ia beri nama Ndalem Garudeyan.
’’Dari nongkrong atau ngopi biasa ini muncul pembahasan yang ternyata memiliki ketertarikan yang sama. Awal mulanya sejarah. Namun, khususnya sejarah Garuda Pancasila itu sendiri,” ungkapnya.
Dia melanjutkan, sebelum membentuk forum pemerhati telah lama menyukai sejarah dan mengoleksi berbagai bentuk Garuda. Dari bahan logam hingga kayu ukiran. Forum dipimpinnya tersebut mulai terbentuk sejak dua tahun lalu.
Kini, telah beranggotakan sekitar 15-20 orang. ’’Banyak orang tahunya hari lahir Pancasila. Tapi, untuk Garuda rerata tidak tahu,” ujarnya. Sehingga, ia dan anggota forum pemerhati lainnya ingin masyarakat lebih mengenal tentang lambang negara.
Terutama terkait sejarahnya. Dia menyampaikan, hari lahirnya Garuda pada 11 Februari 1950. ’’Kami berharap adanya forum ini bisa mengedukasi masyarakat,” harap pria dua anak tersebut.
Dia menambahkan, untuk turut berdiskusi bersama tidak ada hari tertentu periode waktunya. Diskusi dilakukan secara santai di warung kopi miliknya. Anak-anak kecil duduk di bangku Taman Kanak-Kanak (TK) pun tidak jarang ikut serta.
Dia mengungkapkan, meski tidak banyak orang mengetahui forum pemerhati lambang negara Garuda, ia tetap berharap masyarakat tidak acuh tak acuh tentang sejarah. ’’Untuk forum kami saat ini proses pengajuan Etnik (elektronik nomor induk kesenian) di disbudpar (dinas kebudayaan dan pariwisata),” terangnya.
Tidak berhenti di sini, Ayik mengungkapn, untuk terus berkembang forum pemerhati besutannya berencana membuat buku tentang Garuda tahun depan. Tujuannya, agar menjadi referensi banyak orang untuk belajar dan mengenal lebih dekat lambang negara. ’’Tahun depan rencana (membuat buku),” bebernya.
Agus Romadhoni anggota forum pemerhati lainnya menambahkan, pengajuan etnik didasari lantaran masih minimnya komunitas atau perkumpulan kesenian yang memiliki Etnik di Bojonegoro.
Terutama forum yang fokus tentang sejarah. ’’Rerata di kesenian seperti tari tradisional dan oklik. Untuk forum pemerhati seperti sejarah ini kan masih jarang,” katanya. (*/bgs)
Editor : Hakam Alghivari