Oleh: dr. RR. Anggraeni Indah Ekiyanti, MARS
Apa itu Doctorpreneur?
Mungkin istilah ini masih terdengar asing bagi sebagian orang. Doctorpreneur merupakan gabungan kata doctor dan entrepreneur—yakni dokter yang tak hanya berpraktik secara medis, tetapi juga mengembangkan usaha, khususnya di bidang kesehatan.
Tapi ini bukan semata soal mencari untung. Seorang doctorpreneur berpikir jauh ke depan: bagaimana menciptakan solusi kesehatan yang mudah diakses, membuka lapangan kerja, dan menghadirkan sistem layanan yang lebih efisien, cepat, dan ramah pasien.
Mengapa Peran Ini Semakin Penting?
Dulu, menjadi dokter berarti praktik di rumah sakit atau membuka layanan mandiri. Kini, tuntutan masyarakat berubah—pasien menginginkan layanan yang lebih cepat, praktis, dan mudah dijangkau. Banyak daerah juga masih kekurangan fasilitas kesehatan memadai.
Di sinilah doctorpreneur hadir sebagai agen perubahan. Bayangkan seorang dokter muda di daerah melihat sulitnya akses layanan. Ia tak menunggu jadi PNS, melainkan langsung membuka klinik kecil, mencatat pasien lewat aplikasi, dan rutin mengedukasi lewat media sosial. Beberapa tahun kemudian, klinik tersebut berkembang, membuka cabang, bekerja sama dengan apotek lokal, dan menyediakan layanan konsultasi daring. Ini bukan angan-angan. Ini kenyataan yang sedang terjadi di banyak tempat, termasuk di Bojonegoro.
Apa Saja Bentuk Usaha Doctorpreneur?
Sangat beragam, antara lain: Mendirikan klinik umum atau spesialis, membuat startup teknologi kesehatan (aplikasi booking dokter, rekam medis digital, sistem antrean online), memproduksi suplemen herbal, minuman imun booster, atau skincare medis, menjadi edukator digital dan konten kreator di TikTok, YouTube, dan Instagram, mendirikan pusat pelatihan caregiver, perawat, atau tenaga kesehatan lainnya
Keuntungan Menjadi Doctorpreneur sebagai berikut : Lebih mandiri dan kreatif, tidak terikat birokrasi rumah sakit, dapat menjangkau pasien lebih luas dengan teknologi, memberikan dampak sosial nyata: membuka lapangan kerja, meningkatkan akses layanan kesehatan, serta edukasi publik
Tantangan yang Perlu Diwaspadai
Tentu tak mudah. Tantangan utamanya adalah: Minimnya pengetahuan manajemen dan bisnis, sehingga butuh belajar lintas disiplin, sulitnya membagi waktu antara praktik, keluarga, dan bisnis, menjaga etika dan profesionalisme: tidak boleh melanggar kode etik demi keuntungan, menjaga kejujuran dan selalu mengutamakan keselamatan pasien
Teladan dari Dalam Negeri
Banyak dokter daerah telah membangun sistem layanan terintegrasi dan menciptakan model bisnis sosial yang bermanfaat bagi masyarakat desa. Mereka bukan hanya bekerja—mereka menggerakkan perubahan.
Mari Dukung Doctorpreneur Lokal
Doctorpreneur bukan sekadar profesi baru, tapi gerakan inovatif dalam dunia kesehatan. Mereka melihat masalah, lalu menciptakan solusi. Di era digital ini, kita membutuhkan lebih banyak dokter yang berpikir maju, berani berinovasi, dan tetap menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.
Masyarakat juga punya peran besar: menggunakan layanan yang terpercaya, menyebarkan edukasi yang benar, dan mendukung dokter-dokter muda yang ingin berkontribusi lebih luas.
Kesehatan adalah ladang amal. Inovasi adalah jalannya. Mari tumbuhkan semangat doctorpreneur di Indonesia—demi layanan kesehatan yang lebih adil, mudah diakses, dan bermartabat.(*)
Penulis Adalah Pengurus IDI Cabang Bojonegoro
Anggota Bidang Pelayanan Profesi dan Kegiatan Ilmiah
Editor : M. Nurkhozim