RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Memasuki musim kemarau, gairah petani Bojonegoro untuk menanam tembakau mulai meningkat. Hal itu terlihat dari tingginya serapan benih tembakau bersertifikat yang disalurkan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bojonegoro.
Berdasarkan data DKPP, hingga akhir Mei lalu lebih dari 60 persen stok benih yang disediakan pemerintah daerah telah terserap oleh kelompok tani. Dari total ketersediaan 14,5 kilogram benih, yang berasal dari sisa cadangan tahun sebelumnya serta pengadaan baru, sebanyak 8,743 kilogram telah didistribusikan ke berbagai sentra produksi tembakau di Bojonegoro.
Pengawas Mutu Hasil Pertanian Ahli Muda sekaligus Subkoordinator Tanaman Perkebunan DKPP Bojonegoro, Bambang Wahyudi, menjelaskan bahwa stok benih yang tersisa saat ini sekitar 5 kilogram. Sebagian besar merupakan varietas Jawa, seperti Rejep Gagang Sidi, Grompol Jatim, Kasturi 2, dan Jinten Pak Pie.
Menurut Yudi, distribusi benih tersebut difokuskan ke sejumlah wilayah penghasil tembakau, seperti Kecamatan Temayang, Bubulan, Purwosari, dan Tambakrejo.
“Stok yang masih tersedia juga kami siapkan untuk mengantisipasi permintaan petani di wilayah Kedungadem, Baureno, dan Sukosewu,” ujarnya.
Baca Juga: DKPP Bojonegoro Proyeksikan Luas Tanam Tembakau 16.000 Hektare pada 2026
Ia menjelaskan, sejumlah petani di daerah tersebut sengaja menunda pengambilan benih karena masih menyelesaikan masa panen komoditas sebelumnya.
“Petani di wilayah tersebut masih fokus menyelesaikan panen tanaman sebelumnya sebelum memulai musim tanam tembakau,” terangnya.
Yudi menambahkan, DKPP menerapkan formula bantuan benih yang dinilai aman bagi petani. Setiap hektare lahan mendapatkan alokasi sekitar 10 gram benih. Jumlah tersebut mampu menghasilkan sekitar 18.000 hingga 20.000 batang bibit tembakau siap tanam.
“Kebutuhan riil petani sebenarnya hanya sekitar 6 hingga 8 gram per hektare. Namun, jumlah bantuan kami lebihkan sebagai cadangan apabila terjadi kegagalan pada proses persemaian mandiri,” jelasnya.
Di sisi lain, para petani masih mempertimbangkan berbagai faktor sebelum memutuskan menanam tembakau. Salah satunya adalah kondisi cuaca yang sulit diprediksi. (ewi/zim)
Editor : Yuan Edo Ramadhana