RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Peternak kambing mulai mendulang pundi-pundi rejeki jelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, Rabu (27/5). Penjualan kambing naik signifikan pada pertengahan minggu ini.
Salah satu peternak kambing di Desa Geneng, Kecamatan Jepon, Qodam Maulana mengaku optimistis penjualan masih akan terus bertambah hingga mendekati Hari Raya Kurban.
Saat ini, sebanyak 40 ekor kambing miliknya telah laku terjual. Padahal, waktu penjualan masih cukup panjang.
“Tahun kemarin total terjual 45 ekor. Sekarang sudah 40 ekor dan saya masih optimistis bisa bertambah karena masih ada waktu,” ujarnya.
Qodam mengatakan, pembeli tidak hanya lokal tapi juga dari luar daerah, seperti Jakarta dan Gresik. Harga jual kambing bervariasi mulai Rp 3,5 juta hingga Rp 4 juta per ekor. Namun, pembeli paling banyak mencari kambing pada kisaran harga Rp 3 jutaan.
Baca Juga: Transaksi Penjualan Sapi Jelang Idul Adha di Blora Capai Rp 9 Miliar
Menurutnya, meski harga kambing tahun ini cenderung mahal, minat masyarakat untuk berkurban tetap tinggi. “Permintaan dari Jakarta satu dan Kabupaten Gresik satu. Untuk Harga memang masih mahal, tapi peminat menjelang Iduladha masih banyak,” katanya.
Untuk menarik pembeli, dirinya juga memberikan sejumlah fasilitas tambahan. Diantaranya biaya perawatan hingga pengiriman kambing menjelang hari H penyembelihan. Sistem pembayaran pun dibuat fleksibel. Pembeli bisa membayar uang muka terlebih dahulu maupun langsung melunasi sesuai kesepakatan.
Qodam mengaku sebagian besar kambing diperoleh langsung dari petani. Sisanya diambil dari pasar hewan. Ia sengaja tidak mengisi kandang terlalu awal agar tidak terbebani biaya pakan yang membengkak.
“Kalau isi kandang dari awal terlalu lama, rugi di ongkos pakan,” ucapnya.
Lebih lanjut Setiap hari, dirinya harus mengeluarkan biaya pakan sekitar Rp 150 ribu untuk 30 ekor kambing. Pakan yang diberikan berupa polar, ampas tahu, serta beri obat-obatan agar sehat. Meski demikian, ia tetap mengambil keuntungan minimal Rp 300 ribu per ekor, karena mempertimbangkan risiko selama pemeliharaan.
“Kalau ada apa-apa di kambing, risikonya di kami. Jadi ketika menjelang hari H kambingnya sakit atau apa, kita harus siap ganti,” tandasnya. (ozi/ind)
Editor : Yuan Edo Ramadhana