RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Indonesia diprediksi mengalami musim kemarau panjang seiring tibanya fenomena alam El Nino. Pantauan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika pada Minggu (5/4), El Nino datang secara perlahan dari wilayah timur hingga bulan Juni mendatang, dengan puncak kemarau diprediksi terjadi pada Agustus.
Namun Kementerian Pertanian menjamin pasokan pangan Indonesia bakal mencukupi selama periode kemarau. Hanya saja, mereka tetap memonitor keadaan pasokan pangan, termasuk proses jual beli dan pengawasan harga.
Menurut Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, memasuki musim kemarau keadaan stok pangan Indonesia tergolong aman. “Posisinya sangat aman. Bukan sekadar aman, tetapi sangat aman. Selanjutnya, kita fokus pada langkah menghadapi El Nino,” jelasnya pada awak media pada Selasa (7/4).
Menurut Amran, untuk komoditas beras, Indonesia telah memiliki pasokan sebesar 4,6 juta ton hingga Selasa. Jumlah tersebut naik signifikan dibanding tahun lalu, yang mencatatkan pasokan beras 2 juta pada akhir April.
“Pada April, insya Allah bisa mencapai 5 juta ton. Ini merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah,” papar Amran.
Baca Juga: Produksi Padi Blora Lancar, Bisnis Penggilingan Gabah dan Supplier Beras Serap Ribuan Ton Gabah
Selain itu, stok untuk sektor layanan jasa hotel, restoran dan katering telah mencapai 12,5 juta ton. Akhirnya, diperkirakan masih ada 11 juta tanaman padi dengan status siap panen.
“Totalnya sekitar 28 juta ton. Jumlah tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan selama 10 hingga 11 bulan ke depan,” lanjut Amran.
Dengan prakiraan tersebut, Amran menjamin Indonesia siap menyediakan bahan pangan sepanjang musim kemarau. “Pada musim kemarau sekitar enam bulan, berdasarkan pengalaman saat El Nino, kebutuhan sekitar 2 juta ton per bulan atau total 12 juta ton. Artinya, hingga sekitar Mei ke depan kita masih dalam kondisi cukup,” jelasnya.
Namun Kementan tetap bakal memonitor harga pangan yang beredar di pasar, terutama untuk komoditas strategis seperti kedelai. Sehingga nantinya, dirinya akan mengumpulkan para importir kedelai untuk memeringatkan mereka mengenai stabilitas harga.
“Nanti kami kumpulkan para importir. Jangan menaikkan harga terlalu tinggi,” ujar Amran. (edo)
Editor : Yuan Edo Ramadhana