BOJONEGORO, Radar Bojonegoro - Sederet bahan pokok di Bojonegoro mengalami kenaikan harga saat ini. Mulai dari beras, cabai, hingga telur.
Pada pertengahan Oktober lalu, harga telur di Bojonegoro masih Rp 23.500 per kilogram. Merangkak naik hingga saat ini menjadi Rp 26.000 per kilogram. Bahkan, di beberapa kecamatan harga telur mencapai Rp 28.000 per kilogram.
Satria, peternak ayam petelur asal Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem mengatakan, sejak awal bulan harga telur sudah merangkak naik.
Sebelumnya, harga paling murah hanya kisaran Rp 20.000 per kilogram. Saat ini mencapai Rp 26.000 per kilogram kalau dijual eceran. Sedangkan kalau dijual grosir atau per ikat kisaran Rp 24.000 per kilogram. ‘’Peternak mengikuti harga pasar,’’ ujarnya.
Berdasar informasi harga dari Dinas Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Mikro Bojonegoro, harga telur tertinggi terdapat di lima pasar.
Meliputi Pasar Baureno, Kedungadem, Kepohbaru, Malo, dan Ngambon. Yakni, dengan harga Rp 28.000 per kilogram. Sedangkan, untuk harga rerata telur dari 28 kecamatan di Bojonegoro, yakni Rp 25.551 per kilogram.
Dia melanjutkan, setiap hari menghasilkan telur sebanyak 130 kilogram. Keuntungan dari kenaikan tersebut sesuai dengan jumlah telur yang dihasilkan. Terlebih, naik atau tidaknya harga telur tidak begitu berpengaruh terhadap pembelian telur.
‘’Minat masyarakat terhadap telur cenderung tetap. Mengingat, telur merupakan kebutuhan protein tinggi yang mudah di dapat,’’ katanya.
Ani, pembeli telur di Pasar Dander mengatakan, tetap membeli telur karena sudah terbiasa mengkonsumsi telur sebagai lauk. Selain karena bergizi, menurutnya, telur merupakan salah satu lauk yang sangat mudah dimasak. Bisa disandingkan dengan makanan apapun.
‘’Semoga harga telur bisa turun. Karena kenaikan sekecil apapun tetap berpengaruh kepada konsumen. Apalagi buat yang terbiasa mengkonsumsinya,’’ harapnya. (ewi/msu)
Editor : Hakam Alghivari