Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Sejak 2023 Angka Pernikahan di Bojonegoro Turun, Kepesertaan KB Meningkat

Yuan Edo Ramadhana • Senin, 22 Juli 2024 | 19:51 WIB
ILUSTRASI ANGKA PERNIKAHAN BOJONEGORO
ILUSTRASI ANGKA PERNIKAHAN BOJONEGORO

ANGKA pernikahan terus mengalami penurunan sejak 2023 hingga Mei 2024. ’’Terjadi tren penurunan angka pernikahan di Bojonegoro saat ini,” ujar Kepala Seksi (Kasi) Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Bojonegoro Zaenal Arifin.

Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, tercatat sebanyak 9.675 pernikahan pada 2020. Kemudian, meningkat menjadi 9.819 pernikahan pada 2021. Dan, kembali mengalami kenaikan menjadi 9.843 pernikahan pada 2022.

Kemudian, berdasar data Kemenag Bojonegoro, tercatat sebanyak 9.566 pernikahan pada 2023. Artinya, angka pernikahan turun sekitar 277 pasangan pada 2023. Kemudian, kembali mengalami penurunan lima bulan pertama di 2024 sebanyak 706 pasangan.

Tepatnya, terdapat sebanyak 3.833 pasangan menikah pada Januari hingga Mei 2023. Turun menjadi 3.127 pasangan menikah pada Januari hingga Mei 2024. ’’Di bulan Juni 2024 terdapat sekitar 240 pernikahan di Bojonegoro. Menurun sedikit dibanding Juni 2023 lalu,” tambahnya.

Sementara, berdasar Satu Data Bojonegoro, angka kelahiran mengalami penurunan sejak beberapa tahun terakhir. Pada 2020 tercatat sebanyak 17,455 kelahiran. Kemudian, di 2021 sebanyak 16.626 kelahiran; 2022 sejumlah 15.480 kelahiran; dan 2023 sejumlah 15.351 kelahiran. 

Di sisi lain, jumlah kepesertaan program keluarga berencana (KB) mengalami peningkatan. Program dua anak cukup itu disebut sebagai penyeimbang angka pertumbuhan penduduk. Angka kepesertaan KB 2020 yakni 76,74 persen; 2021 di angka 77,38 persen; 2022 sebesar 77,41 persen; dan 2023 mencapai 77,62 persen.

’’Angka kepesertaan KB mencapai 77 persen sekian. Sisanya sekitar 23 persen ini tidak mengikuti program disebabkan empat hal,’’ jelas Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Bojonegoro Heru Sugiharto pada Kamis siang (18/7).

Heru melanjutkan, empat hal tersebut meliputi pasangan baru menikah, perempuan atau istri sedang hamil, pasangan yang menunda, dan pasangan yang sudah tidak ingin memiliki anak. Program KB, menurutnya, merupakan penyeimbang laju pertumbuhan jumlah penduduk. Termasuk menekan angka stunting.

Dia menuturkan, dalam program KB ada empat hal perlu dihindari, yakni 4T. Di antaranya terlalu muda, pasangan berumur kurang dari 20 tahun dan terlalu tua, untuk mengurangi risiko kehamilan dan dianjurkan perempuan di kurang dari usia 35 tahun.

Kemudian, terlalu dekat,  jarak kehamilan dari anak sebelumnya idealnya dua tahn setelahnya serta terlalu sering atau banyak memiliki anak. "Ini salah satunya untuk pencegahan stunting," ujarnya. (yna/ewi/bgs)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#Jawa Timur #Program KB #KB #angka pernikahan #pernikahan #kemenag #turun #Bimas #bps #DP3AKB