Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Teater Gabud, Ruang Ekspresi Dinamika Sosial Keliling Desa, Sulap Rumah Warga Jadi Panggung

Hakam Alghivari • Kamis, 29 Februari 2024 | 20:05 WIB
SEADANYA:Teater Gabud bermain peran di halaman rumah warga dengan fasilitas seadanya.  (WAHYU DHANI ALFIANSYAH/RADAR BOJONEGORO)
SEADANYA:Teater Gabud bermain peran di halaman rumah warga dengan fasilitas seadanya. (WAHYU DHANI ALFIANSYAH/RADAR BOJONEGORO)

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro - Bruakkk.. suara hantaman terdengar dari rumah warga di Desa/Kecamatan Dander, terdengar pasangan suami istri mengalami perselisihan.

Tentu semakin memancing kerumunan warga untuk mendekat. Tampak di depan rumah, sudah disediakan tikar untuk menyaksikan kejadian itu.

Raut wajah serius penonton lantas hilang saat adegan berikutnya, berganti tawa riang saat adegan guyonan. Hingga akhir pertunjukkan yang meminjam tempat di rumah milik Garmi itu, para penonton seakan dibuat naik turun oleh alur cerita dari Teater Gabud.

‘’Sengaja mengambil tempat langsung di rumah warga, agar lebih dekat dengan masyarakat baik secara tempat maupun lakon yang dimainkan,” ungkap Mustakim, Pimpinan Produksi dari Teater Gabud.

Tak hanya latar tempat sekaligus lokasi di tengah-tengah masyarakat, namun seluruh lakon yang bawakan pun begitu dekat dengan realita sosial.

‘’Isu-isu dan budaya yang dekat dengan masyarakat desa. Seperti isu pernikahan dini, utang-piutang, hingga ada yang berperan sebagai tetangga yang kerap ikut campur,” ungkap pria yang menjadi Asisten Sutradara itu. Menurutnya, teater tidak sekadar seni pertunjukan yang menghibur, terkadang muatan ceritanya bisa mengangkat persoalan sosial.

Naskah berjudul ‘’Rumah (te)Tangga” itu berasal dari adaptasi naskah berjudul ‘Sayang Ada Orang Lain’ karya Utuy Tatang Sontani, yang digubah dengan menambahkan dialek dan lokalitas khas Bojonegoro.

Racikan tersebut ternyata mampu membius penonton dan menjadi referensi hiburan desa yang berbeda.

Namun, proses berlangsungnya teater yang berkeliling di desa-desa itu, ternyata tidaklah mudah. Bahkan, dengan modal nekat diiringi latihan giat, Mustakim di punggawa teater Gabud, lebih dulu menjajaki tempat-tempat yang akan digunkan pertunjukan.

‘’Tidak semua bisa menerima, apalagi cerita yang akan dihadirkan sensitif bagi sebagian orang. Namun, yang menerima dan menawarkan ternyata juga banyak,” jelasnya.

Bahkan, meski dengan modal swadaya. Sejauh ini, pertunjukkan yang digelar Teater Gabud telah mengelilingi tiga desa di Kabupaten Bojonegoro, yakni Desa Pejambon, Kecamatan Sumberrejo pada 16 Februari, kemudian Desa/Kecamatan Dander pada 23 Februari, dan Selasa lalu (27/2) di Desa Sukoharjo, Kecamatan Kalitidu. (*/msu)

Editor : Hakam Alghivari
#Sosial #teater #seni #ruang #guyonan #Dinamika #bojonegoro #ekspresi