BOJONEGORO, Radar Bojonegoro - Masyarakat kawasan hutan Kecamatan Margomulyo masih mengonsumsi ulat. Karena dinilai memiliki cita rasa gurih, ulat hanya dikonsumsi ketika jelang musim hujan.
‘’Maklum orang tengah hutan. Kadang ulat mahoni hingga kelapa kami konsumsi,” tutur Kepala Desa (Kades) Meduri, Kecamatan Margomulyo Hariyono.
Tengah beredar video siswa membawa bekal makanan dengan lauk ulat. Diketahui lokasinya berada di Desa Meduri, Kecamatan Margomulyo.
Kades setempat yakni pria kerap disapa Sarko tersebut mengonfirmasi, bahwa benar rerata masyarakat di desanya masih mengonsumsi ulat. Mulai dari ulat walikukun dari sejenis pohon kecil, ulat kelapa, ulat pisang, hingga kepompong ulat jati.
‘’Bisa dimasak dengan diberi bumbu seperti masakan lain dan digoreng. Kalau dibuat sayur belum pernah,” lanjutnya.
Baca Juga: Sensasi Oseng Kepompong Ulat Jati
Menurut dia, ulat langsung dimasak yakni jenis walikukun. Untuk ulat jati menunggu menjadi kepompong. Ulat-ulat ter sebut memiliki cita rasa gurih. Dia menyampaikan, konsumsi ulat tidak dilakukan setiap hari atau minggu.
Melainkan di waktu tertentu seperti awal musim hujan. Berlangusng sekitar satu hingga dua minggu, pengambilannya dilakukan serentak oleh masyarakat. ‘’Selain dikonsumsi pribadi juga dijual. Hargganya lumayan,” jelasnya.
Yakni 200 cc atau satu gelas air mineral dijual seharga Rp 7.000 per gelas. Dan Rp 30 ribu per kilogram. ‘’Konsumsi ulat musiman. Namun, biasanya ketika musim ulat apa saja setelah hujan tiba kami konsumsi,” bebernya.
Kepala Desa/Kecmatan Margomulyo Nuryanto menambahkan, masyarakat di wilayahnya masih mengonsumsi ulat. Namun, bagi yang suka dan hanya ketika musimnya. ‘’Terkait video beredar itu kalau tidak salah ulat pohon gude atau turi namanya ulat gendon. Sudah jaman dulu ketika saya masih kecil,” terangnya. (yna/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana