Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Kekeringan, Warga Kembang Terpaksa Mengais Air

Yuan Edo Ramadhana • Sabtu, 23 September 2023 | 19:00 WIB
KEMARAU: Akibat kekeringan, warga Dusun Kembang, Desa Jurangjero, Kecamatan Jiken harus mengais air di Sendang Duwur untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.  (LUKMAN HAKIM/RDR.BLORA)
KEMARAU: Akibat kekeringan, warga Dusun Kembang, Desa Jurangjero, Kecamatan Jiken harus mengais air di Sendang Duwur untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. (LUKMAN HAKIM/RDR.BLORA)

 

BLORA, Radar Bojonegoro - Warga Dusun Kembang, Desa Jurangjero, Kecamatan Jiken harus bolak-balik mengais air saat musim kemarau melanda. Tiap pagi hingga sore, mereka berbondong-bondong membawa jeriken, bergantian menimba air di sendang untuk kebutuhan sehari-hari.

Satu per satu timba seng diturunkan, menggaruk air yang mulai berangsur habis. Saat Jawa Pos Radar Bojonegoro berkunjung di lokasi pukul 07.15, tampak air menggenang di sendang. Tak berselang lama, air menggenang itu menyusut. Karena saking banyaknya warga mengais air di sendang.

‘’Sudah sekitar tiga bulanan kesulitan air, karena air di rumah habis, sehingga ambil air di sendang sini,” ucap Himawati salah satu warga Dusun Kembang usai jeriken yang ia bawa terisi penuh air.

Gesekan timba dengan permukaan sendang menjadi suara ritmis yang menemani warga. Himawati dengan gigih mengangkat jeriken yang terisi untuk dinaikan ke motornya. Menurutnya, selain laki-laki, perempuan banyak mengambil air untuk kebutuhan sehari-hari. Seperti memasak, mandi, cuci baju hingga minum ternak.

‘’Bolak-balik naik motor bawa jeriken, biasanya kalau pagi airnya masih banyak, tapi siang mulai habis,” ungkap perempuan 31 tahun tersebut.

Sumber air yang dinamakan Sendang Duwur itu menjadi jujugan utama warga mendapatkan air bersih saat musim kemarau melanda. Dalam sekali jalan, ia bisa membawa tiga jeriken berukuran sedang, bolak-balik hingga lima kali untuk mencukupi kebutuhan air dalam sehari.

‘’Sumbernya ya pernah telat. Kalau habis ya kadang nunggu setengah jam baru bisa diambil airnya,” katanya.

Kasdi yang juga sedang mengais air di Sendang Duwur mengatakan, air digunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Dalam sehari, pria 45 tahun itu mengambil air rata-rata sebanyak 10 jeriken. Biasanya warga banyak mengambil air saat pagi dan sore hari, bahkan bisa antre.

‘’Ya begini keadaannya, warga bergantian menimba air saat musim kemarau,” ungkapnya.

Kepala Desa (Kades) Jurangjero Suwoto mengaku, bencana kekeringan yang ada di desanya sudah terjadi sekitar tiga bulan belakangan ini. Sehingga sumur-sumur yang ada di sekitar rumah warga tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari selama musim kemarau.

‘’Banyak sekali, warga Dukuh Kembang kurang lebih 550 KK. Kalau enggak ada sumur di Kembang ini ya kurang sekali,” bebernya. (luk/bgs)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#air bersih #kekeringan #krisis #Kemarau #Air #blora