BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Perahu penyeberangan di Bengawan Solo yang menghubungkan Tuban dengan Bojonegoro kembali beroperasi. Dampak dari penutupan akses jalan jembatan Glendeng mulai Kamis lalu (3/8).
Dua perahu beroperasi tepat di bawah jembatan Glendeng Bojonegoro-Tuban, sebagian masyarakat memilih menyeberangi dengan perahu tambang saat jembatan ditutup, terlebih perahu beroperasi 24 jam.
Berdasarkan pantauan di lapangan, terdapat dua perahu penyeberangan di tambangan Desa Simo, Tuban dan Desa Kalirejo, Bojonegoro. Keduanya tak pernah sepi penumpang. Rerata penumpang, merupakan pengendara sepeda, motor, dan pejalan kaki.
Khafun, penarik perahu tambang mengatakan, dua perahu sudah beroperasi dan digunakan untuk menyeberangi sungai, satu perahu yang dioperasikan warga Desa Kalirejo, Kecamatan Bojonegoro.
Sementara perahu lain dioperasikan oleh warga Desa Simo, Kecamatan Soko, Tuban. ‘’Mulai tiga hari lalu (3/8), sejak jembatan mulai ditutup total,” ungkapnya.
Dia menambahkan, per hari perahu yang dioperasikannya dapat menyeberang hingga 100 kali, dan terbagi menjadi dua shift. Sementara dari Tuban yang dioperasikan warga Desa Simo beroperasi selama 24 jam.
Menurutnya, penumpang perahu dipengaruhi akses jembatan yang ditutup untuk seluruh kendaraan dan pejalan kaki. ‘’Khususnya saat pagi, banyak pedagang pasar hingga pelajar,” bebernya.
Bagas, salah satu warga Desa Kalirejo mengatakan, setiap harinya menggunakan perahu tambangan karena bekerja di Kabupaten Tuban. Dirinya merasa terbantu dengan adanya perahu, dibanding harus menempuh jarak lebih jauh untuk sampai di tujuan.
‘’Lebih memilih keluar uang Rp 2 ribu, dibanding harus memutar,” ungkapnya.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Bojonegoro Andik Sudjarwo mengatakan, sejumlah jalan alternatif yang dilalui warga akan terus dipantau, termasuk melalui akses perahu tambangan.
Pengelola penyeberangan diminta wajib mematuhi standar keselamatan. ‘’Wajib menyediakan alat pelampung,” tegasnya. (dan/msu)
Editor : M. Yusuf Purwanto