Slamet Widodo
MALAM itu, suasana di Dusun Laraswangi cukup cerah. Langit tampak begitu indah. Gemintang bertaburan, menghiasi malam yang senyap.
Di langit sisi selatan, tampak Lintang Gubug Penceng. Bintang-bintang itu seperti sebuah gubug kecil yang berdiri miring di kejauhan.
Pak Raharjo memandang langit itu cukup lama. Entah mengapa, pandangannya kemudian membawa ingatannya pulang ke masa lalu.
Masa ketika ia masih kecil. Betapa bahagianya masa itu.
Ia bisa berlari-lari bersama teman-temannya. Bermain petak umpet, kejar-kejaran, atau berlari tanpa tujuan sambil menutup kepala dengan sarung, laksana seorang ninja. Tak ada yang mereka pikirkan selain bermain dan tertawa.
Baca Juga: Cerpen Radar Bojonegoro: Meretas Dupa Panas oleh Ahmad Fanani Mosah
Padang mbulan. Begitulah malam-malam itu mereka menyebutnya.
Sementara itu, di tempat lain, para petani usai menunaikan salat Isya berjamaah mulai berbondong-bondong menuju sawah. Mereka hendak menyiram tanaman tembakau yang beberapa hari terakhir mulai tampak kehausan.
Tembakau. Daun emas yang diharapkan menjadi sumber pendapatan.
Dari tanaman itulah mereka menggantungkan banyak harapan. Membayar angsuran BRI. Membeli pupuk untuk musim tanam padi. Membayar kebutuhan sekolah anak-anak. Juga memenuhi berbagai kebutuhan rumah tangga yang tidak pernah benar-benar selesai.
Di antara gemerisik daun tembakau yang tertiup angin malam, Pak Raharjo berdiri seorang diri. Matanya masih menatap Gubug Penceng.
Dulu, bintang-bintang itu menjadi saksi kebahagiaan masa kecilnya.
Kini, bintang-bintang yang sama menjadi saksi kehidupan orang-orang dewasa yang harus menghitung banyak hal sebelum bisa tersenyum.
*
“Bapak saking pundi?” tanya Genduk, anak perempuan Pak Raharjo yang kini sudah masuk kuliah. Usianya delapan belas tahun lewat tiga bulan.
Baca Juga: Cerpen Radar Bojonegoro: Perempuan Bermata Kucing
“Bapak dari jamaah Isya tadi. Terus jagongan di teras Pak Jasrun,” jawab Pak Raharjo sambil menatap wajah putrinya yang bagai pinang dibelah dua dengan ibunya. “Ibuk di mana, Nduk?”
“Ibuk tasik sare kalian Adek, Pak,” jawab Genduk sambil menata baju dan perlengkapan yang akan dibawanya ke ma’had.
Tiga belas Agustus esok, Genduk akan mulai masuk ma’had. Ia telah melakukan daftar ulang UM-PTKIN di salah satu UIN di Jawa Timur.
Pak Raharjo duduk di kursi ruang tamu. Matanya mengamati putrinya yang kini menjadi mahasiswi sekaligus mahasantri.
Lalu, kenangannya berlari jauh ke belakang.
“Nduk, di usia yang hampir sama denganmu, beberapa bulan setelah lulus Aliyah, Ayah menikahi ibumu,” gumamnya.
“Ibumu dulu ingin sekali kuliah. Namun, Kakekmu tidak mengizinkannya karena keadaan ekonomi,” tuturnya dalam hati.
Pak Raharjo terdiam. Dipandanginya kembali Genduk yang sedang sibuk menata pakaian dan perlengkapan untuk dibawa ke ma’had.
“Kamu harus menyelesaikan pendidikanmu, Nduk. Minimal lulus S-1. Tekuni juga ilmu Al-Qur’an yang ada di dalam hatimu.”
Pak Raharjo menyeka air mata yang menetes di pipinya. Kemudian ia menengadah. Pandangannya jatuh pada langit-langit rumah.
Baca Juga: Cerpen Radar Bojonegoro: Asap Marbol Oleh Em. Syuhada’
Tiba-tiba ia teringat sebuah pitutur yang pernah disampaikan seorang ustaz yang biasa mengisi majelis taklim malam Rabu di masjid dusun.
“Jika engkau mendidik seorang anak laki-laki, berarti engkau telah mendidik satu individu. Namun, jika engkau mendidik seorang anak perempuan, berarti engkau telah mendidik sebuah umat.”
Pesan itu kembali terngiang-ngiang di kepalanya. Air mata Pak Raharjo semakin deras. Ia meraih sorban yang masih tersampir di sandaran kursi yang didudukinya. Dengan sorban itu, ia mengusap kedua matanya yang mulai basah.
“Ndhuk...” suara Pak Raharjo lirih.
Namun, Genduk mendengarnya cukup jelas. Suara itu memecah keheningan malam.
“Dalem, Pak...” Genduk mendekat, lalu duduk di kursi tepat di depan Bapaknya.
“Dadi wong wedok iku abot, Nduk...” suara Pak Raharjo tetap lirih. Namun, kalimat itu terasa begitu berat.
Belum sempat Genduk menjawab, pintu kamar terbuka. Bu Denok keluar, kemudian duduk bergabung bersama suami dan anak gadisnya.
“Benar kata Bapakmu, Nduk,” sahut Bu Denok sembari merapikan rambutnya.
Rupanya, sejak tadi ia mendengar percakapan suami dan anak gadisnya itu.
Baca Juga: Cerpen Radar Bojonegoro: Pak Mujib dan Istrinya
“Mbah Buyutmu pernah memberi pitutur kepada Ibu, ketika Ibu masih sekolah di madrasah. Pitutur itu masih Ibu ingat sampai sekarang. Bahkan, Ibu menjadikannya sebagai salah satu pedoman dalam menjalani hidup.”
Bu Denok berhenti sejenak. Matanya menatap Genduk.
“Satemene, wong wedok iku dadi soko guru.”
Genduk diam. Menyimak.
“Soko guru itu tiang utama. Penyangga paling besar dalam sebuah bangunan. Memang ada banyak tiang yang menopang sebuah rumah. Tetapi ketika soko guru-nya roboh, tiang-tiang yang lain pun tak akan mampu menyangga bangunan itu.”
Bu Denok menarik napas panjang.
“Begitu pula perempuan, Nduk. Perempuan adalah tiang utama, penyangga utama dalam keluarga. Bukan sekadar pendorong, tetapi penyangga.”
Genduk menunduk. Pitutur itu terasa begitu sederhana. Namun malam itu, untuk pertama kalinya, ia merasakan betapa berat makna menjadi seorang perempuan.
Genduk masih menundukkan kepala. Ia mencoba mencerna setiap kata yang baru saja disampaikan ibunya.
Baca Juga: Cerpen Radar Bojonegoro: Belenggu Upeti Desa Karang Gantung Oleh Suharsono
“Bu...” suaranya pelan.
“Iya, Nduk?”
“Kalau perempuan itu soko guru, apakah berarti perempuan harus selalu kuat?”
Bu Denok tersenyum tipis.
“Tidak, Nduk.”
Jawaban itu membuat Genduk mengangkat wajah.
“Perempuan juga manusia. Bisa capek. Bisa nangis. Bisa takut. Bisa merasa tidak sanggup.”
Bu Denok menggenggam tangan putrinya.
“Sing penting, ojo gampang nyerah. Kalau sedang lemah, istirahatlah. Kalau sedang menangis, menangislah. Tetapi setelah itu, bangkit lagi.”
Pak Raharjo yang sejak tadi diam mengangguk pelan.
“Bapakmu juga tidak pernah meminta kamu menjadi perempuan yang tidak pernah menangis,” katanya. “Bapak hanya ingin kamu punya ilmu. Supaya kelak, ketika menjalani kehidupan, kamu tidak mudah kehilangan arah.”
Baca Juga: Cerpen Radar Bojonegoro: Air Mata Kemarau oleh Choirul Anam
Genduk terdiam.
“Ilmu itu bukan hanya untuk mendapatkan pekerjaan, Nduk,” lanjut Bu Denok. “Ilmu membuatmu bisa membedakan mana yang benar dan mana yang keliru. Mana yang harus dipertahankan dan mana yang harus dilepaskan.”
“Dan yang paling penting,” sambung Pak Raharjo, “jangan sampai ilmu yang kamu dapatkan membuatmu jauh dari Gusti Allah.”
Genduk mengangguk.
“Makanya Bapak senang kamu kuliah sekaligus mondok. Kuliah untuk membuka cakrawala pikiranmu. Ma’had untuk menjaga hatimu.”
Ruangan kembali hening. Dari kejauhan terdengar suara sepeda motor melintas di jalan dusun. Setelah itu, sunyi kembali. Bu Denok menatap putrinya cukup lama.
“Dulu, Ibu juga punya keinginan kuliah.”
Genduk terkejut.
“Serius, Bu?”
Bu Denok tersenyum.
Baca Juga: Cerpen Radar Bojonegoro: Ritus Penghancuran Berhala Diri oleh Suharsono
“Serius. Dulu Ibu ingin sekali kuliah. Tetapi keadaan tidak memungkinkan.”
Pak Raharjo menunduk. Ia tahu persis kisah itu.
“Waktu itu, Ibu hanya bisa menerima keputusan Mbah Kungmu. Tidak kuliah bukan berarti Ibu berhenti belajar. Ibu belajar dari kehidupan. Belajar menjadi istri. Belajar menjadi ibu. Belajar mengurus rumah. Belajar mendampingi anak-anak.”
Bu Denok menarik napas panjang.
“Tapi sekarang zaman sudah berbeda, Nduk.”
Ia mengusap kepala Genduk.
“Kalau dulu Ibu tidak punya kesempatan, bukan berarti kamu juga harus kehilangan kesempatan.”
Mata Genduk mulai berkaca-kaca.
“Jadi, kuliahlah dengan sungguh-sungguh. Jangan hanya mengejar gelar. Kejarlah ilmu. Karena suatu hari nanti, entah kamu menjadi seorang ibu, guru, pegawai, pengusaha, atau apa pun yang menjadi jalan hidupmu, ilmu itu akan tetap menjadi bekal.”
Pak Raharjo menyeka sudut matanya.
“Dan kalau suatu hari kamu menikah dan menjadi seorang ibu,” katanya perlahan, “ingat pitutur Mbah Buyutmu tadi.”
Baca Juga: Cerpen Radar Bojonegoro: Ritus Penghancuran Berhala Diri oleh Suharsono
Genduk menatap ayahnya.
“Jadilah soko guru yang kuat. Tetapi jangan merasa harus berdiri sendirian.”
Kalimat terakhir itu membuat Bu Denok tersenyum.
“Karena rumah yang baik bukan hanya punya soko guru,” lanjut Pak Raharjo. “Ada suami yang harus menjadi pasangan dalam menopang. Ada anak-anak yang harus belajar menghormati. Ada keluarga yang harus saling menguatkan.”
Genduk menggenggam tangan kedua orang tuanya.
“Insyaallah, Pak. Insyaallah, Bu.”
Pak Raharjo mengusap kepala putrinya.
“Bapak tidak tahu akan seperti apa hidupmu nanti, Nduk. Bapak juga tidak bisa menjanjikan hidupmu akan selalu mudah.”
Baca Juga: Cerpen Radar Bojonegoro: Sebuah Kisah ‘’Pindang Berjalan’’ di Jalur Pantura
Ia berhenti sejenak.
“Tapi Bapak dan Ibu akan selalu mendoakanmu.”
Genduk tak mampu lagi menahan air matanya.
Malam semakin larut. Di luar rumah, angin bergerak perlahan menyentuh daun-daun mangga. Dan jauh di langit selatan, Lintang Gubug Penceng masih tampak. Seolah menjadi saksi percakapan sebuah keluarga kecil yang sedang melepas seorang anak perempuan menuju masa depannya.
*Guru MTsN 3 Bojonegoro
Editor : Farhan Reza Ardiansyah