Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Cerpen Radar Bojonegoro: Pak Mujib dan Istrinya

Bhagas Dani Purwoko
Ilustrasi Ainur Ochiem
Ilustrasi Ainur Ochiem

Advertisement

Pak Mujib dan Istrinya


 Oleh Athiful Khoiri

Advertisement


PERNIKAHAN, bagi sebagian besar manusia, adalah bangunan yang ditegakkan di atas janji dan harapan. Tempat dua orang semestinya bernaung ketika hidup datang membawa badai.

Namun bagi Pak Mujib dan Bu Jamilah, pernikahan lebih menyerupai kecelakaan lalu lintas yang berlangsung sangat lambat. Tidak ada tubuh tergeletak di aspal, tidak ada sirene meraung. Hanya dua manusia yang sama-sama gegar batin, berdiri di tengah jalan kehidupan sambil kebingungan menentukan siapa yang lebih dahulu menabrak.

Advertisement

Mereka menikah karena waktu terus bergerak dan keluarga tak pernah berhenti mengingatkan. Umur, dalam percakapan keluarga, seolah bukan lagi angka, melainkan alarm yang berbunyi semakin keras dari tahun ke tahun.

Ketika Mujib berusia tiga puluh dua tahun, ibunya mulai sering menangis setiap melihat tetangga menimang cucu. Jamilah, yang saat itu berumur dua puluh delapan, sudah lelah menjawab pertanyaan kerabat setiap kali hari raya tiba. Saat keluarga mempertemukan keduanya, mereka tidak benar-benar memilih. Mereka hanya menyerah. Pada malam pertama lima tahun silam, Jamilah duduk kaku di tepi ranjang.

“Menurutmu, apakah kita akan bisa bahagia?”

Mujib berdiri di dekat jendela, menatap langit kota Tuban yang gelap. “Entahlah. Kita jalani saja sebaik mungkin demi keluarga.”

Begitulah penghulu meresmikan dua keterasingan.

***

Advertisement
Editor : Farhan Reza Ardiansyah
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar BojonegoroIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Cerpen Radar Bojonegoro: Asap Marbol oleh Em Syuhada'

Cerpen Radar Bojonegoro: Asap Marbol oleh Em Syuhada'

"TITIK terendah seorang lelaki itu ketika merek rokoknya sudah mulai aneh-aneh."

Cerpen Radar Bojonegoro: Air Mata Kemarau oleh Choirul Anam

Cerpen Radar Bojonegoro: Air Mata Kemarau oleh Choirul Anam

KEMARAU di Bojonegoro selalu datang dengan caranya sendiri.

Cerpen Radar Bojonegoro: Sebuah Kisah ‘’Pindang Berjalan’’ di Jalur Pantura

Cerpen Radar Bojonegoro: Sebuah Kisah ‘’Pindang Berjalan’’ di Jalur Pantura

Awalnya suasana bus cukup manusiawi. Penumpang duduk rapi. Ada pegawai kantor dengan kemeja licin, pelajar dengan tas ranselnya, ibu-ibu pedagang yang membawa barang dagangan, hingga bapak-bapak yang sejak berangkat suda

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer