
Pak Mujib dan Istrinya
Oleh Athiful Khoiri
PERNIKAHAN, bagi sebagian besar manusia, adalah bangunan yang ditegakkan di atas janji dan harapan. Tempat dua orang semestinya bernaung ketika hidup datang membawa badai.
Namun bagi Pak Mujib dan Bu Jamilah, pernikahan lebih menyerupai kecelakaan lalu lintas yang berlangsung sangat lambat. Tidak ada tubuh tergeletak di aspal, tidak ada sirene meraung. Hanya dua manusia yang sama-sama gegar batin, berdiri di tengah jalan kehidupan sambil kebingungan menentukan siapa yang lebih dahulu menabrak.
Mereka menikah karena waktu terus bergerak dan keluarga tak pernah berhenti mengingatkan. Umur, dalam percakapan keluarga, seolah bukan lagi angka, melainkan alarm yang berbunyi semakin keras dari tahun ke tahun.
Ketika Mujib berusia tiga puluh dua tahun, ibunya mulai sering menangis setiap melihat tetangga menimang cucu. Jamilah, yang saat itu berumur dua puluh delapan, sudah lelah menjawab pertanyaan kerabat setiap kali hari raya tiba. Saat keluarga mempertemukan keduanya, mereka tidak benar-benar memilih. Mereka hanya menyerah. Pada malam pertama lima tahun silam, Jamilah duduk kaku di tepi ranjang.
“Menurutmu, apakah kita akan bisa bahagia?”
Mujib berdiri di dekat jendela, menatap langit kota Tuban yang gelap. “Entahlah. Kita jalani saja sebaik mungkin demi keluarga.”
Begitulah penghulu meresmikan dua keterasingan.
***
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!





