Cerpen Radar Bojonegoro: Pak Mujib dan Istrinya

Bhagas Dani Purwoko • Dipublikasikan Sabtu, 5 September 2026 | 07:10 WIB
Ilustrasi Ainur Ochiem
Ilustrasi Ainur Ochiem

Pak Mujib dan Istrinya


 Oleh Athiful Khoiri


PERNIKAHAN, bagi sebagian besar manusia, adalah bangunan yang ditegakkan di atas janji dan harapan. Tempat dua orang semestinya bernaung ketika hidup datang membawa badai.

Namun bagi Pak Mujib dan Bu Jamilah, pernikahan lebih menyerupai kecelakaan lalu lintas yang berlangsung sangat lambat. Tidak ada tubuh tergeletak di aspal, tidak ada sirene meraung. Hanya dua manusia yang sama-sama gegar batin, berdiri di tengah jalan kehidupan sambil kebingungan menentukan siapa yang lebih dahulu menabrak.

Mereka menikah karena waktu terus bergerak dan keluarga tak pernah berhenti mengingatkan. Umur, dalam percakapan keluarga, seolah bukan lagi angka, melainkan alarm yang berbunyi semakin keras dari tahun ke tahun.

Baca Juga: Cerpen Radar Bojonegoro: Bonar oleh Athiful Khoiri

Ketika Mujib berusia tiga puluh dua tahun, ibunya mulai sering menangis setiap melihat tetangga menimang cucu. Jamilah, yang saat itu berumur dua puluh delapan, sudah lelah menjawab pertanyaan kerabat setiap kali hari raya tiba. Saat keluarga mempertemukan keduanya, mereka tidak benar-benar memilih. Mereka hanya menyerah. Pada malam pertama lima tahun silam, Jamilah duduk kaku di tepi ranjang.

“Menurutmu, apakah kita akan bisa bahagia?”

Mujib berdiri di dekat jendela, menatap langit kota Tuban yang gelap. “Entahlah. Kita jalani saja sebaik mungkin demi keluarga.”

Begitulah penghulu meresmikan dua keterasingan.

***

Lima tahun kemudian, rumah mereka seperti panggung yang setiap hari memainkan lakon absurd. Pada pagi tertentu mereka bisa tertawa bersama menonton acara televisi. Sesaat keduanya merasa kehidupan rumah tangga itu mungkin masih bisa diselamatkan. Menjelang siang, perasaan itu lenyap.

Mujib mendadak muak hanya karena melihat cara Jamilah mengunyah tempe goreng. Pada hari lain, Jamilah naik darah hanya karena mendengar suaminya berdeham dari ruang tengah. Hal-hal remeh berubah menjadi bara. Suatu sore Jamilah membanting majalah ke sofa.

“Mengapa kamu selalu menatapku seolah aku bersalah setiap kali pulang?”

“Aku tidak menyalahkan siapa pun,” jawab Mujib. “Aku hanya lelah melihat wajahmu selalu murung.”

Ada hari-hari ketika lengan mereka bersentuhan tanpa sengaja dan keduanya spontan menjauh. Rumah itu tidak memiliki jeruji, tetapi udara di dalamnya terasa seperti penjara. Mereka sebenarnya hanya dua manusia rapuh yang masuk ke dalam komitmen terlalu besar tanpa kesiapan. Mujib terbiasa memendam kegelisahan, sedangkan Jamilah menyimpan kecewa sampai berubah menjadi kemarahan kecil yang mudah menyala. Setelah menikah, pertanyaan lain datang. Kapan punya anak? Mengapa rumah masih sepi? Siapa yang akan meneruskan keluarga?

Baca Juga: Cerpen Radar Bojonegoro: Senyum Rozali Oleh Athiful Khoiri

Tak pernah keduanya duduk dan bertanya apakah mereka memang sanggup hidup bersama sampai tua. Mereka menutup mata lalu melompat karena masyarakat meyakinkan bahwa pelaminan adalah jalan paling masuk akal menuju kebahagiaan.

Sampai suatu akhir pekan yang diguyur hujan, keduanya memutuskan menginap di sebuah hotel mewah di pusat kota. Mereka berharap suasana baru dapat menyelamatkan sesuatu yang nyaris mati. Kamar itu luas, diterangi lampu kuning temaram. Sebuah ranjang besar berseprai putih terbentang di tengah ruangan.

Namun kemewahan tidak melahirkan keintiman. Kesunyian kamar justru memaksa mereka mendengar ketakutan masing-masing. Mereka datang membawa harapan bahwa tempat asing dapat mengubah hubungan, tetapi rupanya yang ikut masuk ke kamar itu adalah seluruh luka yang selama ini dibawa dari rumah.

Jamilah masuk ke kamar mandi lalu mengunci pintu. Di depan cermin besar, di bawah cahaya putih yang terlalu terang, perempuan itu menanggalkan pakaian dan menatap tubuhnya sendiri seperti seorang hakim.

Matanya berhenti pada garis halus di sudut mata, kulit yang dianggap semakin kusam, dan perut yang tidak lagi sekencang beberapa tahun lalu. Semakin lama menatap, semakin kejam penilaiannya.

Jamilah merasa dirinya terlalu biasa untuk dikagumi lelaki mana pun. Tidak cukup cantik, tidak cukup menarik, dan barangkali tidak pernah cukup untuk membangkitkan hasrat suaminya. Air mata turun perlahan.

“Tubuhku memuakkan,” bisiknya.

Selama lima tahun, tatapan kosong Mujib telah diterjemahkannya sebagai rasa jijik yang sengaja disembunyikan. Pada saat hampir bersamaan, Mujib berdiri di depan cermin lemari pakaian. Kancing kemejanya dibuka satu demi satu. Rambut di bagian depan kepalanya mulai menipis. Punggungnya tak lagi setegap dahulu. Otot lengannya mengendur. Bayangan di cermin terasa seperti laporan kekalahan.

“Aku bukan pria yang pantas dibanggakan, apalagi dicintai,” gumamnya.

Diam-diam Mujib takut dirinya tidak lagi menarik bagi Jamilah. Selama ini dia menyamarkan kecemasan itu dengan sikap dingin, seolah ketidakpedulian lebih terhormat daripada mengakui ketakutan. Rasa rendah diri itu membuat setiap keinginan untuk menyentuh istrinya selalu mati sebelum diwujudkan. Ia takut ditolak. Lebih takut lagi jika penolakan yang selama ini hanya hidup di kepalanya ternyata benar.

Baca Juga: Cerpen Radar Bojonegoro: Proyektil Kehancuran yang Tertinggal oleh Heri Haliling

Malam itu mereka akhirnya berbaring berdampingan. Tidak ada percakapan. Mujib menatap plafon. Jamilah melakukan hal yang sama. Tubuh mereka hanya berjarak beberapa sentimeter, tetapi terasa dipisahkan benua. Lalu dua layar ponsel menyala hampir bersamaan.

Di bawah selimut yang seharusnya menjadi tempat mencari kehangatan, keduanya justru menemukan jalan pelarian sendiri. Jamilah memasang penyuara kuping, bersembunyi di balik bantal, lalu membuka situs video dewasa. Dari layar kecil itu dia mencari apa yang gagal ditemukannya dalam kehidupan nyata: gairah, afeksi, dan perasaan menjadi seseorang yang diinginkan.

Di sisi lain ranjang, dengan punggung membelakangi istrinya, Mujib melakukan hal serupa. Dunia artifisial di layar memberinya ilusi tentang hasrat tanpa risiko penolakan. Dalam khayalan, dirinya menjadi lelaki kuat, dominan, dan diinginkan.

Malam itu mereka menjadi dua manusia yang sah sebagai suami istri, tetapi lebih memilih bercumbu dengan cahaya piksel ketimbang menyentuh manusia yang bernapas beberapa sentimeter di sebelahnya. Mereka menjelma dua pulau terpencil dalam samudra kesunyian yang dibangun sendiri.

Tiga bulan berlalu.

Kehidupan kembali berjalan seperti biasa. Tidak ada pertengkaran besar. Tidak ada perceraian. Tidak pula rekonsiliasi. Mujib dan Jamilah kembali ke rumah di pesisir Tuban, Jawa Timur, bangun setiap pagi, bekerja, makan, bicara seperlunya, kemudian tidur. Semuanya terlihat normal. Justru karena itu semuanya terasa semakin palsu.

Pada suatu sore berangin, mereka bersiap menghadiri pesta diplomatik berskala lokal di Taman Hutan Kota Abhipraya Tuban. Acara itu dipenuhi pejabat dan kaum elite daerah, tempat orang mempertontonkan keberhasilan, kekayaan, juga keharmonisan rumah tangga.

Jamilah mengenakan kebaya marun gelap dengan brokat mahal. Wajahnya dirias sempurna, menutup kelelahan yang berdiam di balik mata. Mujib memakai kemeja batik tulis berlengan panjang. Rambut tipisnya disisir rapi. Malam itu mereka tampak seperti pasangan sempurna. Setidaknya bagi orang lain.

Pakaian mahal, riasan, dan senyum yang terukur telah menyelesaikan pekerjaan yang gagal dilakukan lima tahun pernikahan, yaitu membuat mereka terlihat selaras di depan dunia.

Baca Juga: Cerpen Radar Bojonegoro: Air Mata Kemarau oleh Choirul Anam

Mereka turun dari mobil dan berjalan berdampingan memasuki taman. Lampu-lampu kuning menyapu wajah keduanya. Musik instrumental mengalun lembut di udara pesisir. Begitu bergabung dengan kerumunan, mereka sadar harus memakai topeng itu lagi. Seorang tamu bertubuh tambun menghampiri.

“Luar biasa. Kalian terlihat bahagia sekali. Pernikahan kalian benar-benar menginspirasi banyak pasangan muda.”

Jamilah tersenyum dengan senyum yang terlalu terlatih. “Terima kasih, Pak. Kami selalu berusaha menjaga harmoni.”

Mujib ikut tertawa dan merangkul pinggang istrinya dengan luwes. Dari kejauhan, gerakan itu tampak penuh kasih. Tidak seorang pun tahu bahwa tiga bulan sebelumnya dua orang itu berbaring saling membelakangi di sebuah kamar hotel, masing-masing mencari pelarian dari pasangannya sendiri.

Setelah cukup lama berbasa-basi, mereka duduk di meja bundar. Kemewahan pesta mendadak hambar. Mujib menoleh ke samping. Jamilah sedang memandang kerumunan dengan tatapan kosong. Wajah perempuan berkebaya marun itu tampak hadir, tetapi jiwanya seperti berada di tempat lain.

Mujib terus menatap. Jamilah kemudian menoleh. Tatapan mereka bertemu. Hanya satu detik, tetapi cukup panjang untuk membongkar kebohongan selama lima tahun. Tidak ada lagi cinta yang tersisa. Anehnya, tidak ada pula kebencian yang menuntut pembalasan. Bahkan rasa jijik yang bertahun-tahun membuat mereka saling menjauh telah lenyap.

Semua perasaan seperti habis. Yang tertinggal hanya kekosongan. Mereka saling memandang seperti dua cermin yang memantulkan kehampaan. Dalam detik singkat itu, malam di hotel tiga bulan sebelumnya kembali terasa dekat. Masing-masing menyimpan rahasia yang sama-sama memalukan tanpa mengetahui bahwa pasangannya telah melakukan hal serupa.

Di tengah pesta gemerlap itu, mereka memahami sesuatu yang sederhana sekaligus menyakitkan. Mereka hanyalah dua orang asing yang kebetulan terikat oleh stempel, dokumen hukum, keluarga, dan kewajiban sosial. Semua kertas bermeterai itu ternyata tidak memiliki daya gaib untuk menjembatani jurang di antara dua jiwa.

Baca Juga: Cerpen Radar Bojonegoro: Calak Limbung oleh Anggalih Bayu Muh Kamim

Pesta terus berlangsung. Musik dimainkan. Gelas-gelas beradu. Tamu tertawa dan hidangan mahal datang bergantian. Mujib dan Jamilah memutus tatapan. Keduanya kembali melihat lurus ke depan.

Beberapa saat kemudian, mereka mengambil alat makan dan menyantap hidangan di atas meja bertaplak putih. Sesekali tersenyum kepada orang yang menyapa. Dari kejauhan mereka masih tampak seperti pasangan yang berhasil menjaga cinta.

Mereka terus memainkan sandiwara itu dengan begitu sempurna sampai dunia tidak mempunyai alasan untuk mencurigai apa pun. Sementara jauh di dalam tubuh masing-masing, sesuatu yang pernah mereka sebut kehidupan perlahan membusuk dalam kesunyian yang mereka ciptakan sendiri.[]

 

*) Tinggal di akun Instagram @athiful_khoiri93.

Editor : Farhan Reza Ardiansyah
dua jiwa cerpen pernikahan