Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Lembar Budaya: Algoritma dan Secangkir Kopi

Bhagas Dani Purwoko • Sabtu, 11 April 2026 | 09:00 WIB
Ilustrasi (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)
Ilustrasi (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)

 

Karya:
Choirul Anam
Perangkat Desa Margomulyo Kecamatan Balen

 

PAGI itu, seperti biasa, Raka duduk di teras rumahnya sambil menunggu matahari naik sedikit lebih tinggi. Di tangannya ada secangkir kopi hitam yang masih mengepul. Ia menyesap perlahan, lalu memandang jalan kecil di depan rumah yang mulai ramai oleh anak-anak sekolah.

Raka sebenarnya bukan orang yang terlalu tua. Usianya baru empat puluh lima. Tetapi dalam beberapa tahun terakhir ia sering merasa dunia berubah terlalu cepat. Terutama sejak sesuatu yang disebut orang sebagai akal imitasi mulai masuk ke hampir semua ruang kehidupan.

Dulu Raka bekerja sebagai penulis lepas. Ia menulis artikel, cerita pendek, bahkan kadang membantu orang membuat pidato atau sambutan acara. Pekerjaan itu cukup untuk menghidupi keluarganya.

Namun dua tahun terakhir semuanya berubah.

Orang-orang mulai berkata, “Ngapain bayar penulis? Tinggal pakai AI saja.”

Kalimat itu awalnya terdengar seperti lelucon. Tetapi lama-lama Raka menyadari bahwa kalimat itu benar-benar sedang terjadi.

Suatu sore ia pernah menerima pesan dari seorang klien lama.

“Mas Raka, maaf ya. Sekarang saya pakai aplikasi saja. Lebih cepat.”

Pesan itu pendek, sopan, dan jujur. Tetapi entah kenapa rasanya seperti pintu yang ditutup perlahan.

Sejak saat itu pesanan tulisan semakin jarang datang.

Di desa kecil tempat Raka tinggal, teknologi memang datang dengan cara yang unik. Tidak semua orang memahami bagaimana mesin bisa menulis atau menggambar. Tetapi hampir semua orang tahu bahwa mesin itu bisa melakukan banyak hal.

Anak-anak sekolah menggunakan aplikasi untuk mengerjakan tugas. Pedagang membuat iklan dengan bantuan mesin. Bahkan kepala desa pernah meminta bantuan aplikasi untuk menyusun pidato.

Suatu hari Raka sedang duduk di warung kopi ketika ia mendengar percakapan dua anak muda.

“Sekarang gampang,” kata salah satu dari mereka. “Tinggal ketik perintah, langsung jadi tulisan.”

Yang lain tertawa.

“Penulis bisa pensiun semua.”

Raka ikut tertawa kecil, walaupun di dalam hatinya ada perasaan yang sulit dijelaskan.

Ia tidak marah. Ia juga tidak merasa tersinggung. Ia hanya merasa seperti seseorang yang berdiri di stasiun tua sementara kereta masa depan melaju terlalu cepat.

Beberapa hari kemudian anaknya, Nara, pulang dari sekolah.

“Pak, guru menyuruh membuat cerita pendek,” katanya sambil meletakkan tas di kursi.

Raka tersenyum.

“Bagus itu. Mau cerita tentang apa?”

Nara mengangkat ponselnya.

“Teman-temanku pakai aplikasi. Tinggal ketik, langsung jadi ceritanya.”

Raka terdiam sebentar.

“Kalau kamu?”

Nara mengangkat bahu.

“Belum tahu.”

Raka lalu mengambil buku tulis kosong dari rak kecil di ruang tamu.

“Coba tulis sendiri dulu,” katanya.

Nara terlihat ragu.

“Tapi lama, Pak.”

Raka tersenyum.

“Memang. Tapi kadang yang lama justru membuat kita belajar.”

Nara akhirnya duduk di meja makan. Ia memegang pensil dan mulai menulis pelan-pelan.

Sepuluh menit berlalu.

Dua puluh menit berlalu.

Nara menghapus beberapa kalimat lalu menulis lagi.

Raka memperhatikan dari jauh. Ia tahu anaknya sedang berjuang menemukan kata-kata.

Malam itu, ketika cerita pendek itu selesai, Nara menyerahkan buku tulisnya.

“Pak, jelek nggak?”

Raka membaca perlahan. Cerita itu sederhana. Tentang seekor kucing yang tersesat lalu menemukan jalan pulang.

Bahasanya masih polos, kadang kalimatnya terlalu panjang, kadang terlalu pendek.

Tetapi ada sesuatu yang membuat Raka tersenyum.

“Ini bagus,” katanya.

“Serius?”

“Serius.”

Nara tampak lega.

“Teman-temanku bilang pakai aplikasi lebih bagus.”

Raka menutup buku itu.

“Mungkin iya. Tapi cerita ini punya sesuatu yang tidak dimiliki mesin.”

“Apa?”

“Cerita ini punya kamu.”

Nara tampak berpikir sebentar, lalu tersenyum kecil.

Hari-hari berikutnya Raka mulai memikirkan sesuatu yang selama ini ia hindari: belajar menggunakan teknologi yang dulu membuatnya khawatir.

Awalnya terasa aneh.

Ia seperti seorang nelayan tua yang tiba-tiba harus belajar mengemudikan kapal modern.

Ia membuka laptop, mencoba berbagai aplikasi, membaca panduan, dan kadang tertawa sendiri ketika hasilnya tidak sesuai harapan.

Namun perlahan ia mulai memahami.

Mesin itu sebenarnya tidak berpikir.

Ia hanya menyusun kata berdasarkan data yang pernah dipelajarinya.

Suatu malam Raka mencoba meminta mesin membuat cerita.

Beberapa detik kemudian muncul cerita yang cukup rapi. Strukturnya jelas, bahasanya halus, bahkan konflik ceritanya terasa dramatis.

Raka membaca sampai selesai.

“Bagus,” gumamnya.

Tetapi setelah beberapa saat ia menyadari sesuatu.

Cerita itu terasa benar, tetapi tidak terasa hidup.

Ia seperti membaca lukisan yang sangat sempurna tetapi tidak memiliki jejak tangan pelukisnya.

Di situlah Raka mulai menemukan cara baru untuk bekerja.

Ia tidak lagi melihat teknologi sebagai pesaing. Ia mulai melihatnya sebagai alat.

Ketika membutuhkan ide awal, ia berdiskusi dengan mesin. Ketika membutuhkan data atau referensi, ia meminta bantuan teknologi. Tetapi ketika menulis cerita yang sesungguhnya, ia tetap menggunakan pengalamannya sendiri.

Perlahan-lahan Raka mulai menulis lagi.

Ia menulis tentang kehidupan desa yang berubah. Tentang anak-anak yang tumbuh bersama teknologi. Tentang orang-orang yang mencoba memahami dunia baru tanpa melupakan cara hidup lama.

Tulisan-tulisan itu ia kirimkan ke berbagai media.

Awalnya tidak banyak yang merespons.

Namun suatu hari sebuah situs literasi menerbitkan cerpennya.

Judulnya sederhana: “Manusia dan Mesin di Beranda Rumah.”

Cerita itu ternyata dibaca cukup banyak orang.

Beberapa pembaca meninggalkan komentar.

“Ceritanya hangat.”

“Ada rasa yang tidak bisa dibuat mesin.”

Raka membaca komentar-komentar itu sambil tersenyum.

Suatu sore ia kembali duduk di warung kopi yang sama seperti dulu.

Dua anak muda yang pernah ia dengar bercanda tentang AI juga ada di sana.

Salah satu dari mereka berkata, “Mesin memang pintar. Tapi kadang tulisannya terasa datar.”

Yang lain mengangguk.

“Iya. Kayak kurang rasa.”

Raka menyeruput kopinya pelan-pelan.

Ia tidak ikut dalam percakapan itu. Ia hanya menikmati suara obrolan yang terdengar lebih bijaksana daripada beberapa bulan lalu.

Ketika matahari mulai tenggelam, Raka pulang ke rumah.

Di meja ruang tamu, Nara sedang menulis lagi.

“Kamu nulis apa?” tanya Raka.

“Cerita baru,” jawab Nara tanpa mengangkat kepala.

“Pakai aplikasi?”

Nara menggeleng.

“Enggak. Aku mau coba sendiri dulu.”

Raka duduk di kursi seberang meja.

“Kenapa?”

Nara berpikir sebentar sebelum menjawab.

“Karena menulis sendiri rasanya seperti petualangan.”

Raka tertawa kecil.

“Petualangan?”

“Iya. Kadang bingung, kadang seru.”

Raka memandang anaknya dengan perasaan hangat.

Di luar rumah, malam mulai turun perlahan. Lampu-lampu di sepanjang jalan desa menyala satu per satu.

Dunia memang sedang berubah.

Mesin akan semakin pintar. Teknologi akan semakin canggih. Akal imitasi mungkin suatu hari mampu meniru banyak hal yang dulu hanya bisa dilakukan manusia.

Tetapi di meja kecil itu, seorang anak sedang menulis cerita dengan tangannya sendiri.

Dan Raka tahu satu hal.

Selama manusia masih menikmati proses berpikir, berimajinasi, dan bercerita, teknologi tidak akan pernah benar-benar menggantikan manusia.

Karena di balik setiap cerita yang hidup selalu ada sesuatu yang tidak bisa ditiru mesin.

Sesuatu yang sederhana, tetapi sangat manusiawi.

Pengalaman.

Perasaan.

Dan keberanian untuk terus belajar beradaptasi dengan dunia yang selalu berubah. (*)

 

Lemahbang, 02 April 2026 18.30

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#kisah #karya #Algoritma #Cerita #ai