RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Sekitar 400 hektare tanaman padi di Bojonegoro terancam mengalami gagal panen akibat kekeringan. Lahan tersebut merupakan areal tanam Musim Tanam (MT) III yang berada di Kecamatan Kedungadem dan Sukosewu.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bojonegoro Zaenal Fanani mengatakan, seluruh tanaman padi pada MT II dipastikan selamat dari ancaman kekeringan sehingga dapat dipanen dengan baik.
Namun, masih ada sebagian petani yang tetap menanam padi pada MT III meski Pemerintah Kabupaten Bojonegoro telah menerbitkan surat edaran (SE) yang mengimbau agar tidak menanam padi di daerah yang tidak memiliki kecukupan sumber air.
"Kurang lebih ada 400 hektare yang berada di Kecamatan Kedungadem dan Sukosewu," ujarnya.
Zaenal menjelaskan, DKPP telah menyiapkan langkah antisipasi apabila tanaman padi tersebut mengalami gagal panen akibat kekeringan.
Baca Juga: Tembakau Tertanam di 10.409 Hektare Lahan di Bojonegoro
Petani yang tanaman padinya berusia kurang dari satu bulan per 20 Juli 2026 akan didaftarkan dalam program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP).
Sementara itu, bagi tanaman yang usianya telah melebihi satu bulan, DKPP akan mengupayakan bantuan benih padi.
"Bila usia tanam masih di bawah satu bulan per 20 Juli, petani akan didaftarkan ke AUTP. Jika sudah lebih dari satu bulan, kami akan mengupayakan bantuan benih padi," katanya.
Memasuki musim kemarau, Zaenal juga mengimbau petani agar beralih menanam komoditas yang lebih tahan terhadap minimnya pasokan air, seperti tanaman palawija atau tembakau. Menurutnya, kedua komoditas tersebut memiliki prospek pasar yang jelas.
"Musim kemarau tahun ini diperkirakan cukup baik. Sehingga kualitas tembakau, insya Allah, juga akan bagus," tambahnya.
Sementara itu, Munaji, petani asal Kecamatan Dander, mengaku tetap menanam padi pada musim kemarau.
Pasalnya, sawah yang dikelolanya memiliki pasokan air dari sumur bor sehingga masih memungkinkan untuk bercocok tanam, meski debit air lebih kecil dibandingkan saat musim hujan.
"Saya tetap menanam padi pada musim kemarau karena sawah08 memiliki sumber air dari sumur bor," tuturnya. (ewi/zim)
Editor : Bhagas Dani Purwoko