Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

73 Desa di Bojonegoro Terancam Kekeringan: Tersebar di 20 Kecamatan, Warga Masak dengan Air Galon

Yana Dwi Kurniya Wati • Senin, 13 April 2026 | 19:32 WIB
LANGGANAN KEKERINGAN: Desa Meduri, Kecamatan Margomulyo langganan kekeringan, tahun ini diprediksi kekeringan meluas di 73 desa yang tersebar di 20 kecamatan. (YANA DWI KURNIYA WATI/RADAR BOJONEGORO)
LANGGANAN KEKERINGAN: Desa Meduri, Kecamatan Margomulyo langganan kekeringan, tahun ini diprediksi kekeringan meluas di 73 desa yang tersebar di 20 kecamatan. (YANA DWI KURNIYA WATI/RADAR BOJONEGORO)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Meski sepekan terakhir ini daetrah Kabupaten Bojonegoro dan sekitarnya masih turun hujan. Namun, sekitar 73 desa di 20 kecamatan terancam kekeringan tahun ini. Angka ini meningkat dibanding tahun sebelumnya.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro mengklaim, tiga kecamatan tak lagi rawan kekeringan, karena ada instalasi perusahaan daerah air minum (PDAM) dari Bendungan Gongseng. Meliputi Kecamatan Kedungadem, Kepohbaru, dan Sugihwaras. 

Berdasar data BPBD, wilayah terdampak bencana kekeringan di 2024 sebanyak 93 desa tersebar di 24 kecamatan dengan korban jiwa 60.429 orang atau 19.695 KK. Sementara, pada 2025 mengalami penurunan menjadi 14 desa di 13 kecamatan dengan korban jiwa terdampak sebanyak 4.928 orang atau 1.030 KK.

Baca Juga: DKPP Bojonegoro Petakan Potensi Kekeringan di 8.843 Hektare Sawah

Namun, di 2026, BPBD memprediksi wilayah terdampak kekeringan mengalami kenaikan menjadi 73 desa di 20 kecamatan. Yakni Desa Bakulan dan Papringan, Kecamatan Temayang; Desa Donan, Tinumpuk, Ngrejeng, Kecamatan Purwosari; Desa Meduri, Kecamatan Margomulyo; dan Desa Sumberjokidul, Pacing, Purwoasri, serta Sidodadi, Kecamatan Sukosewu.

Disusul Desa Kolong, Butoh, Sendangharjo, Jelu, Tengger, Bareng, Dukohkidul, Jampet, Ngasem, dan Sambong, Kecamatan Ngasem; Desa Gamongan, Jatimulyo, Kalisumber, Malingmati, dan Bakalan, Kecamatan Tambakrejo; Desa Sugihwaras dan Nganti, Kecamatan Ngraho; Desa Clebung, Ngorogunung, dan Sumberbendo, Kecamatan Bubulan; serta Desa Sengon, Nglampin, Bondol, dan Ngambon, Kecamatan Ngambon. 

Baca Juga: Jelang Musim Kemarau, DKPP dan PU SDA Bojonegoro Antisipasi Kekeringan Lahan Pertanian

Kemudian, Desa Miyono, Bareng, dan Bobol, Kecamatan Sekar; Desa Kanten, Kecamatan Trucuk; Dess Simbatan dan Semambung, Kecamatan Kanor; Desa Sraturejo dan Banjaran, Kecamatan Baureno; Desa Gondang, Senganten, Pajeng, Sambongrejo, dan Pragelan, Kecamatan Gondang; Desa Beji, Hargomulyo, dan Kedewan, Kecamatan Kedewan; dan Desa Sambeng serta Kasiman, Kecamatan Kasiman. 

Juga, Desa Penganten, Sobontoro, Balenrejo, dan Margomulyo, Kecamatan Balen serta Desa Sumberharjo, Margoagung, Deru, Banjarejo, Tlogohaji, Kayulemah, Teleng, Karangdowo, Kedungrejo, Wotan, Karangdinoyo, dan Ngampal, Kecamatan Sumberrejo. "Update informasi dari BMKG (badan meteorologi, klimatologi, dan geofisika) untuk 2026 diperkirakan kemarau panjang yang diprediksi mulai April sampai Oktober," jelas Plt Kalaksa BPBD Bojonegoro Heru Wicaksi. 

Baca Juga: Pemkab Bojonegoro Wanti-Wanti Masyarakat Waspada Kemarau Panjang

Heru melanjutkan, mengacu prediksi tersebut, desa terdampak kekeringan sebanyak 73 desa di 20 kecamatan. "Karena di tiga kecamatan meliputi Kecamatan Kedungadem, Kepohbaru, dan Sugihwaras sudah ada instalasi PDAM dari Bendungan Gongseng," beber dia. 

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Desa (Kades) Meduri, Kecamatan Margomulyo Hariyono membenarkan, wilayahnya menjadi langganan bencana kekeringan. Setiap tahun meminta kiriman air dari BPBD. 

"Sudah sumber, kalaupun ada, rasanya asin. Bendungan Karangnongko tidak mungkin bisa membantu karena jauh dan di atasnya," katanya terpisah.

Baca Juga: BMKG Peringatkan Musim Kemarau Tahun Ini Berpotensi Lebih Panjang Akibat El Nino, Bakal Tiba Perlahan

Bahkan, menurutnya, saat musim hujan pun untuk titik-titik tertentu termasuk huniannya selalu mahal air karena sumbernya asin. "Untuk konsumsi dan masak selalu beli air isi ulang dari Gunung Lawu. Isi ulang saat ini Rp 5.000 per galon dan Aqua Rp 22 ribu per galon," ungkapnya. (yna/msu)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
#pdam bojonegoro #kekeringan #bpbd bojonegoro #Musim Kemarau #Bendungan Gongseng