RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Kantor Kementerian Agama (Kankemenag) Bojonegoro mencatat angka pernikahan mengalami penurunan dua tahun terakhir. Kalangan muda berpendapat, faktor ekonomi menjadi pertimbangan terbesar. Harus aman finansial dan mental baru menikah.
Kepala Seksi (Kasi) Bimbingan Masyarakat (Bimas) Kankemenag Bojonegoro Sun'an menyampaikan, berdasar data Kankemenag Bojonegoro, angka pernikahan mengalami penurunan. "Iya, betul. Semakin turun," katanya.
Dia memaparkan, pada 2023 tercatat sebanyak 9.566 pernikahan. Namun, turun sebanyak 600 pencatatan pernikahan di 2024 menjadi 8.966 pernikahan. Sementara itu, kembali turun sejumlah 66 pencatatan pernikahan di 2025, menjadi 8.900 pernikahan.
Dari data tersebut, pencatatan pernikahan terkecil selama 2025 berasal dari Kecamatan Ngambon sejumlah 73 pernikahan dan Kecamatan Bubulan sebanyak 113 pernikahan. Sedangkan, terbesar berangkat dari Kecamatan Dander sebanyak 614 pernikahan dan Kecamatan Baureno sejumlah 595 pernikahan. Luas wilayah dan jumlah penduduk memengaruhi angka tercatat.
Sementara itu, Anggun Sofia Ardila pemuda asal Kecamatan Kasiman mengaku, belum ada rencana menikah dalam waktu dekat. Menikah baginya masih terasa jauh. Apalagi dalam kondisi finansial yang belum stabil.
"Niatku nanti menikah itu buat hidup bersama, bukan numpang hidup dan mempersulit pasangan," ujar perempuan 24 tahun itu. Sehingga, lanjut dia, paling tidak harus aman terlebih dahulu baik secara mental dan finansial. "Baru setelah itu menikah," katanya.
Sedangkan, Eka Fitria Mellinia mengatakan, ada niat menikah dalam waktu dekat, agar saat punya anak masih muda dan bisa menemani. Tapi, menurutnya, kembali ke kesiapan individu. Sebab, beda generasi beda budaya. "Dulu mbahku (nenek saya, red) usia belasan sudah menikah, sekarang enggak. Trennya umur 20 ke atas baru memulai hidup," ujar perempuan 25 tahun itu.
Dia melanjutkan, meski sempat ada pikiran nikah muda, tapi itu mulai bergeser. Karena, kata dia, dunia dewasa tak semudah itu. Masih banyak hal yang bisa dilakukan, seperti melanjutkan pendidikan hingga S-2 maupun S-3.
"Apalagi juga banyak berita tentang kekerasan terhadap pasangan seperti mutilasi, pembunuhan kapan hari itu. Makanya orang mau nikah juga mikir-mikir dulu, bakal bahagia atau enggak. Menurutku ini sih yang buat jadi alasan pergeseran atau pertimbangan enggak cepat nikah," kata perempuan asal Kecamatan Sumberrejo itu. (yna/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana