RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - MESKI berdasar data dinas perpustakaan dan kearsipan (dispusip), pengunjung perpustakaan mengalami kenaikan. Namun, tak jarang pengunjung belum menemukan buku dicari. Sehingga, perlu ditambah referensi serta koleksinya.
’’Enggak sering sih, paling sepekan sekali atau dua kali kalau sedang di Bojonegoro,” kata salah satu pengunjung Nurika Manan kemarin (3/8). Menurut Ika, sapaan akrabnya, perpustakaan menjadi alternatif tempat nyaman untuk mengetik atau work from anywhere (WFA) selain warung kopi (warkop).
Bahkan, dia mengaku selain mengetik untuk bekerja juga kerap mencari dan membaca buku yang ada. ’’Enggak selalu menemukan (buku) apa yang aku cari. Misal Avianti Armand, Gunawan Maryanto, atau beberapa buku terbitan lama. Kadang cari buku yang aku enggak punya dan ingin baca, tapi memang ada beberapa penulis yang belum tersedia,” ujarnya.
Menurut dia, secara lokasi sudah nyaman. Hanya, saat banyak anak berkunjung terasa ramainya. Juga, kemudahan mencari koleksi buku perlu ditingkatkan. Kurang efektif jika selalu bertanya ke meja penjaga.
’’Tapi, sepetinya sekarang sudah lebih mudah carinya karena terakhir kali katanya lagi digitalisasi. Dan, untuk koleksi buku sebenarnya enggak begitu mengamati, tapi menarik kalau bisa menambah keragaman buku alternatif atau yang jarang orang punya atau harganya kelewat mahal tapi penting,” tutur jurnalis perempuan itu.
Itu mengapa, kata dia, pengelola perpustakaan perlu dan penting updating bacaan, perkembangan literasi, dan memperkaya referensi baik dari segi buku maupun penulis. Serta, menyisir buku-buku relevan termasuk terbitan lama yang using, tapi penting dibaca.
Seperti terbitan Yayasan Pustaka Obor Indonesia, Komunitas Bambu, Marjin Kiri, Post Press, atau bacaan alternatif dari penerbit lain juga layak dihadirkan atau ditawarkan ke pembaca. Sebab, tutur Ika, literasi kadang bukan perkara minat baca rendah, tapi boleh jadi karena akses yang sulit terhadap keberagaman buku atau bacaan berkualitas.
Selain itu, Ika meresahkan perihal permintaan data pribadi saat berkunjung di perpustakaan. ’’Semenjak diminta nomor kontak dan beberapa data pribadi, jadi merasa kurang nyaman dan aman berkunjung,” ujarnya. (yna/bgs)
Editor : Bhagas Dani Purwoko