Penebangan seiring proyek drainase dan trotoar. Pohon rindang berada dua di trotoar jalan sudah hampir habis ditebang. Membuat warga melintas sekitarnya tidak nyaman, karena tidak ada yang menghalau sinar matahari.
Berdasar data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) di Jalan Teuku Umar 409 pohon dipangkas, baik sisi utara dan selatan. Sementara, Jalan Basuki Rahmat ada 142 pohon. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menilai penebangan pohon di trotoar selain membuat cuaca panas, juga mengurangi daya resap air.
Wahyu Eka Setyawan aktivis Walhi mengatakan, penebangan pohon tidak berpengaruh secara langsung ke jalan, hanya cuaca menjadi lebih panas. Apalagi membentuk pohon baru untuk teduh membutuhkan waktu lama.
Namun, penebangan pohon bisa menganggu resapan air. ‘’Karena air tidak bisa terserap dengan baik,” ujarnya Jumat (10/6).
Dia menambahkan, tren trotoar saat ini menggunakan lapisan keramik dan bukan paving blok membuat air tidak terserap dengan baik. Karena fungsi pohon di trotoar untuk menambah daya resap tanah. ‘’Agar mengurangi dampak limpasan air,” bebernya.
Penebangan pohon peneduh ini adanya perombakan drainase akan dipasang u-ditch ukuran lebih besar. Tentu, butuh merapikan akar-akar pohon yang dinilai menghambat saluran air. Bila memotong akar saja, tentu berimbas pohon risiko roboh.
Direktur Institut Development Of Society (IDFoS) Indonesia Joko Hadi Purnomo mengatakan, penebangan kayu di trotoar Bojonegoro tidak menganggu resapan air. Menurutnya, akar-akar pohon yang tidak ditata justru mengganggu aliran air.
Sebelumnya, Kabid Prasarana, Sarana, dan Utilitas Dinas PKP Cipta Karya Iwan Maulana memastikan pemangkasan pohon menjadi rangkaian sebelum perbaikan trotoar dan drainase. Tahun ini ada enam titik perbaikan drainase. (dan/rij) Editor : M. Yusuf Purwanto