Mbah Harjo merupakan generasi keempat Samin atau Sedelur Sikep Bojonegoro. Mbah Harjo Kardi dikenal memiliki dedikasi tinggi dalam mengajarkan ajaran Samin hingga patut diteladani.
‘’Beliau sakit sekitar tujuh bulan yang lalu. Meninggal karena sakit dan usia,” kata Camat Margomulyo Dyah Enggarini Mukti.
Mbah Jo sapaannya sempat dirawat di rumah sakit dan mengalami operasi benjolan di dada. Kondisi Mbah Jo memburuk setelah dilakukannya operasi. ‘’Sempat drop setelah operasi. Namun, kondisi berdasar cek lab bagus,” ujarnya.
Menurut Enggar, Mbah Jo sosok tokoh teladan sesuai ajarannya. Tidak hanya mengajarkan ucapan, tapi dengan tindakan. Mbah Jo juga dikenal sebagai pribadi sederhana dan rela berkorban untuk orang lain.
Ajaran Samin disampaikan Mbah Jo meliputi hidup harus jujur, tidak iri dengki, hingga menerima apa diberi Tuhan dengan melibatkan usaha. ‘’Mbah Jo dan anak cucnya menekuni dan melakukan ajaran itu,” katanya.
Enggar sapaan akrabnya menjenguk Mbah Jo, dua minggu lalu. Sebelum tutup usia, Mbah Jo berpesan, jangan melakukan hal tidak baik, ibarat dicubit sakit, maka jangan menyubit. Bumi sudah tua, harus rukun sesama keluarga. ‘’Beliau juga berpesan dalam pemerintahan itu banyak orang jadi (menjabat). Apa yang disampaikan akan menjadi teladan,” tutur Enggar.
‘’Mbah Jo tokoh Samin Bojonegoro, termasuk tokoh modern dalam pandangan saat ini,” kata JFX Hoery, budayawan sastra Jawa.
Menurut Hoery, Mbah Jo menyampaikan ajaran dan tindakan yang baik dalam kehidupan bermasyarakat. Mulai kejujuran terhadap sesama, saling menghormati, hingga tidak boleh iri dengki.
Hoery mengatakan, generasi muda perlu menekuni dan mempelajari ajaran Samin. Terutama sikap kejujuran yang diajarkan. ‘’Masyarakat umum, khususnya Bojonegoro perlu meneladani tokoh Mbah Harjo Kardi,” ujar budayawan tinggal di Kecamatan Padangan tersebut. (yna/rij) Editor : M. Yusuf Purwanto