Kekhawatiran mahasiswa yang berkuliah di luar kota karena biaya hidup. Terlebih mahasiswa kurang mampu, karena biaya hidup di tanah rantauan berlipat. Mulai kos, transportasi, makan, hingga biaya praktik.
‘’Beasiswa hanya membiayai UKT (uang kuliah tunggal) saja. Mungkin kalau untuk kuliah di Bojonegoro cukup. Makan masih ikut orang tua,” tutur Khoyrul Anam mahasiswa Universitas Airlangga Surabaya.
Mahasiswa asal Kecamatan Temayang tersebut berharap lebih baik beasiswa dari Pemkab Bojonegoro ada living cost atau tunjangan tambahan selain UKT. Jika tidak mencakup biaya hidup, takutnya masyarakat kelas menengah yang justru memanfaatkan beasiswa.
‘’Saya berharap proses serta administrasinya dipermudah. Seleksinya diperketat biar tepat sasaran,” tambahnya.
Sekretaris Dinas Pendidikan (Disdik) Bojonegoro Suyanto mengatakan, kebanyakan siswa memutuskan tidak lanjut kuliah berasal dari kecamatan pinggiran. ‘’Faktor kemiskinan tidak begitu memengaruhi karena beasiswa banyak. Mulai sekolah dasar (SD) hingga kuliah ada beasiswa,” ujarnya.
Menurut Suyanto, semuanya kembali ke personal, juga faktor lingkungan. Kalau di lingkungannya banyak yang kuliah, tentu tumbuh keinginan belajar di perguruan tinggi. ‘’Dinas pendidikan selalu memberi sosialisasi. Bahkan hingga mencetak informasi-informasi perkuliahan dan menempelnya di tempat-tempat umum,’’ klaimnya.
Pemkab melalui disdik memberi tiga beasiswa kuliah. Meliputi beasiswa jalur prestasi, beasiswa satu desa dua sarjana, dan beasiswa akhir. Beasiswa prestasi ini jurusan ditentukan, sesuai kebutuhan. Terdapat 134 mahasiswa mendapatkan beasiswa prestasi saat ini.
Berbeda, beasiswa satu desa dua sarjana, kampus dan jurusannya bebas memilih. Sasaran masyarakat kurang mampu. Saat ini terdapat 155 mahasiswa mendapat beasiswa ini.
‘’Kalau beasiswa akhir khusus mahasiswa tinggal menyelesaikan skripsi. Beasiswa hanya keluar satu kali Rp 2,5 juta. Ada 200 mahasiswa mendapat beasiswa akhir,” jelasnya. (ewi/rij) Editor : M. Yusuf Purwanto