Pantauan di lokasi, penjual juga banyak yang tutup. Beberapa penjual di Pasar Banjarejo pindah berjualan ke Pasar Sukorejo. Selain karena efek pandemi Covid-19, sepinya itu diduga karena naiknya harga sewa bulanan.
Bertambah baiknya bangunan, tidak membuat kesejahteraan pedagang ikut membaik. Salah satu penjual di pasar Banjarejo mengatakan, kondisi pasar sepi seperti ini, lebih banyak pengeluaran, dibanding pemasukan. “Dulu hanya ditarik Rp 2.000 setiap harinya. Sekarang Rp 160.000 per bulan,” ujar pedagang enggan disebutkan namanya kemarin (21/12).
Menurut sumber yang mewanti-wanti namanya ditulis itu, sekarang sistemnya sewa, jadi harus bayar tiap bulan. ‘’Kalau dulu kami beli, jadi cukup bayar sekali di awal saja,” ujar dia.
https://www.youtube.com/watch?v=m9ZrC09ZWOk
Terpisah, penjual lainnya mengatakan, setelah dibangun pasar menjadi sepi. Padahal, dulu ramai hingga sore dengan pedagang banyak. Hanya pedagang yang kuat saja bertahan di Pasar Banjarejo. “Entah karena lorong-lorongnya kecil, bangunannya yang sempit, atau karena ada hawa gelap di lokasi ini sehingga menjadi sepi,” ujar pedagang juga enggan disebutkan namanya.
Salah satu petugas Pasar Banjarejo mengatakan, kondisi sepinya pasar seperti ini tidak hanya di Banjarejo. Tapi, semua pasar karena dampak pandemi Covid-19. Selain itu karena adanya persaingan dengan pedagang online.
Wakil Ketua DPRD Bojonegoro Sukur Priyanto mendesak pemkab menghapus atau mengratiskan retribusi. Tentu melihat situasi dan kondisi ekonomi belum bagus.
Sukur menilai pasar saat ini kalah dari penjualan online. Sehingga sudah selayakanya pemkab memberi bantuan keringan retribusi kepada pedagang. Terelebih melihat kondisi Pasar Banjarejo yang sepi. (ewi/irv/msu) Editor : M. Yusuf Purwanto