Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Infrastruktur Irigasi di Blora Dikucuri Rp 38 Miliar, Menyasar 168 Titik

Achmad Syaeroyzi • Senin, 13 Juli 2026 | 19:40 WIB
REHABILITASI JARINGAN: Salah Satu proyek pembangunan jaringan irigasi aliran Bengawan Solo di Kecamatan Jati. (ACHMAD SYAEROZI/RADAR BOJONEGORO)
REHABILITASI JARINGAN: Salah Satu proyek pembangunan jaringan irigasi aliran Bengawan Solo di Kecamatan Jati. (ACHMAD SYAEROZI/RADAR BOJONEGORO)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Rehabilitasi jaringan irigasi di Kabupaten Blora mulai dipersiapkan. Tahun ini, total anggaran yang berputar mencapai Rp 38 miliar lebih melalui program swakelola tipe IV, yang melibatkan kelompok tani sebagai pelaksana kegiatan.

Kepala Bidang Sumber Daya Air DPUPR Blora Surat menjelaskan, di wilayah irigasi Bengawan Solo terdapat 28 Perkumpulan Petani Pemakai Air Irigasi (P3AI) yang tersebar di 20 desa di enam kecamatan. Meliputi Jiken, Randublatung, Jati, Kradenan, Kedungtuban, dan Cepu.

Sementara itu, pada wilayah kewenangan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pamali Juana, rehabilitasi akan menyasar 168 titik jaringan irigasi. Setiap titik mendapat alokasi anggaran sekitar Rp 195 juta, termasuk biaya pelaksanaan pekerjaan.

‘’Jadi total perputaran uang mencapai sekitar Rp 38,22 miliar,’’ kata Surat.

Baca Juga: Pembangunan 103 Jalan di Wilayah Blora Telan Anggaran Rp 430 M

Ratusan titik tersebut tersebar di berbagai kecamatan. Paling banyak berada di Kecamatan Ngawen dengan 70 titik, disusul Blora 26 titik, Jepon 21 titik, Todanan 16 titik, Banjarejo 11 titik, Kunduran 10 titik, Jiken dan Tunjungan masing-masing 4 titik, serta Bogorejo dan Japah masing-masing 3 titik.

Surat menjelaskan, seluruh pekerjaan akan dilaksanakan melalui swakelola tipe IV. Dengan mekanisme itu, dana kegiatan langsung ditransfer ke rekening kelompok tani. Selanjutnya, kelompok tani mengelola pembelian material sekaligus melaksanakan pekerjaan di lapangan.

Menurut dia, skema tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan kualitas infrastruktur irigasi, tetapi juga mendorong perekonomian masyarakat. ‘’Harapannya infrastruktur irigasi bisa berfungsi lebih baik untuk menunjang ketahanan pangan. Selain itu, karena dikerjakan secara padat karya oleh masyarakat, program ini juga membuka lapangan kerja dan membantu mengurangi pengangguran di masing-masing wilayah,’’ pungkasnya. (ozi/ind)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
perekonomian rakyat DPUPR Blora bbws blora Pembangunan Jalan