Tercatat ada 23 lukisan kondisi sosial masyarakat dan bangunan-bangunan tempo dulu yang hilang dan dikembalikan dalam lukisan. Seperti kuliner gogor menjadi destinasi kuliner melegenda. Stasiun Blora yang masih aktif melayani penumpang.
Totok penggerak Blora Tempo Dulu mengatakan, alasan melukis suasana tersebut karena dorongan dari kawan-kawan alumni sekolah. Secara berangsur melukis susana sosial yang diingatnya. Misalnya, penjual arumanis, pedagang kerupuk yang dipikul. ‘’Saya melukis sesuai memori kondisi sosial masih murni melekat zaman dahulu sebelum terkontaminasi teknologi," ujarnya.
Totok mengaku masih terdapat kritik dari masyarakat menikmati lukisannya. Seperti lukisan Tugu Pancasila yang dibangun pada 1974-an. Sebenarnya dahulu terdapat SPBU masih menggunakan sistem manual.
Dari 23 lukisan karyanya, menurut Totok satu karya paling berkesan yakni potret Stasiun Blora. ‘’(Stasiun Blora) kalau pagi jam 4 itu sebagai penanda masyarakat," bebernya.
Mumuk salah satu pembeli lukisan rela merogoh Rp 500 ribu membeli lukisan. Ia merasa senang, karena melihat lukisan dibawa kembali masa mudanya.
Arya salah satu pemuda mengaku tertarik berkunjung untuk melihat suasana Blora tempo dulu. Karena pada zamannya, seperti stasiun dan bangunan-bangunan lama sudah hilang. Lukisan-lukisan itu membawanya lebih paham dengan kondisi masa lalu di tempat kelahiranya. (luk/rij) Editor : M. Yusuf Purwanto