BLORA - Hingga Maret ini, alokasi kuota elpiji bersubsidi 3 kilogram (kg) di Blora masih belum ditetapkan. Sehingga, kuota masih mengacu alokasi tahun lalu. Meski begitu, persediaan elpiji tiga kilogram tetap aman. Staf Bagian Perekonomian Sekda Blora Tulus Prasetya mengatakan, hingga saat ini belum ada rapat Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) terkait penentuan alokasi tabung gas bersubsidi. ''Penetapan itu kewenangannya Kementerian ESDM,'' ujarnya.
Meskipun alokasi kuota 2018 belum ditetapkan, menurut Tulus, ketersediaan tabung gas elpiji masih seperti biasa. Pertamina berkomitmen tetap memenuhi kebutuhan tabung gas 3 kilogram. Sehingga, tidak ada kelangkaan tabung gas elpiji di Blora. Selama ini Pertamina mengacu kuota sesuai alokasi 2017 pada bulan yang sama.
Tahun ini, pemkab mengusulkan kenaikan kuota elpiji 3 kilogram hingga 30 persen. Meski, dia menyadari usulan tersebut tidak mesti disetujui. ''Tapi kami memprediksi kenaikannya paling tidak 4 persen,'' ungkapnya.
Meski diprediksi kenaikan hanya 4 persen, dia mengaku tetap cukup. Karena melihat realisasi 2017 dari kuota 5.593.334 tabung, ternyata masih berlebih. Selain itu untuk pengawasan elpiji 3 kilogram semakin dikuatkan dengan membentuk pangkalan di desa. Pemerataan pangkalan terus dilakukan. Dan, ditargetkan April semua desa sudah memiliki pangkalan.
Setelah semua desa ada pangkalan, tentu akan memudahkan akses penyaluran kepada masyarakat miskin. Dia menambahkan, jika masih ada orang kaya menggunakan tabung gas melon, pangkalan bisa mengingatkan.
Sebab, kalangan orang kaya disarankan memakai tabung Bright Gas 5 kilogram. ''Pangkalan juga diwajibkan menyediakan Bright Gas 5 kilogram,'' ucapnya.