LAMONGAN, Radar Lamongan - Ayam pelung memiliki ciri khas pada suaranya yang berirama seperti ayam serama. Suara kokokannya juga melengking, dengan mengeluarkan suara vokal U secara panjang dan bercengkok. Khusnul Yaqin, seorang pehobi ayam pelung menunjukkan cara perawatan di rumahnya di Desa Blawi, Kecamatan Karangbinangun, kemarin (15/7). Terdapat ayam yang proses perkawinan, serta ditempatkan di kandang ukuran 170 centimeter (cm) x 80 cm.
Ayam pelung ini juga memiliki ciri khusus. Bulu warna hitam merah, mata yang cekung ke dalam, kemudian jenggernya tegak. Selain itu, ukuran ayam ini lebih besar dibanding ayam Jawa pada umumnya. Meski ukurannya bongsor, ayam pelung bukan tipikal petarung, yang justru kontesnya menekankan pada suaranya.
Khusnul Yaqin menjelaskan, ayam pelung merupakan ras ayam lokal unggul dari daerah Cianjur, Jawa Barat. Awalnya, dia mengetahui ayam tersebut saat bekerja di Jawa Barat, yang kemudian tertarik dan suka karena suaranya indah, melengking, dan berirama. Kini, dia memiliki 10 ayam pelung, namun hanya empat ayam yang siap kontes.
''Alasan kenapa memelihara ayam pelung karena hobi, dari suara kokokan bikin damai, apalagi pagi rutin berkokok,’’ ujar Inul, sapaan akrabnya.
Dalam sebulan, Inul bisa tiga kali mengikuti kontes. Dia menjelaskan, ada tiga kategori dalam kontes ayam pelung.
Tiga kategori kontes ini yakni penampilan, suara, dan bobot. Setiap kategori memiliki klasifikasi berbeda. Seperti kategori suara, yang dibagi menjadi tiga kelas yakni jejangkar, umum, dan bintang.
''Kalau kelas bintang itu ayam yang pernah juara-juara dipertemukan,’’ ucap Ketua Ayam pelung Lamongan (Apel) Megilan.
Salah satu ayamnya bernama Percil, pernah menjadi juara satu seni suara kategori jejangkar di Jombang tahun lalu. Dalam penilaian ini lebih dikhususkan pada ayam yang memiliki irama huruf U, dengan suara pertama hingga akhir menyambung U, yang kemudian bercengkok stabil mengeluarkan U.
‘’Ada juga mengeluarkan suara O, tapi tidak layak kontes suara, hanya masuk kontes hias,’’ ungkap pria 36 tahun ini.
Ayam pelung yang diikutkan kontes diketahui sejak kecil, yang sudah ada bakat dari suara. Tinggal pemilik ayam pelung melatihnya. Dua minggu sebelum kontes ayam, ada settingan tersendiri. Ayam pelung ditaruh di kandang berbeda, dipisah dengan betina, dimandikan dan dijemur, untuk melatih mental. Tujuannya agar suaranya lebih enak. Kemudian dilatih mental dengan dua kandang yang disandingkan. Setiap kandang ditaruh ayam, untuk melatih mental saat kontes agar ayam tidak grogi.
‘’Agar saat dikontes langsung berkokok, biasanya dipanggil namanya saja, pasti berkokok,’’ ujar Inul.
Pola makan juga perlu diatur. Sebelum kontes hanya makan nasi dan dedak, dengan tambahan buah-buahan. Namun tiap ayam memiliki karakteristik berbeda-beda. Misalnya dari empat ayam kontes miliknya, ada yang diberikan makan tomat, beras merah, dan pisang. Terkadang juga diberikan makan belut rebus.
‘’Hal ini untuk mengeluarkan power suara, jadi panjang suaranya dan bercengkok, kokokannya mengeluarkan cengkok,’’ imbuhnya.
Sama seperti manusia, ayam pelung juga bisa terserang sariawan. Hal itu tentunya mengurangi performa suaranya. Antisipasinya dengan memberi minuman larutan penyegar atau minuman daun kalingsir. Inul mengaku penyakit yang ditakuti para pemilik ayam pelung yakni saat terserang pernafasan dan tersedak, seperti pilek.
‘’Saya berikan bawang dengan digerus, kemudian dimasukkan, pengalaman saya setelah diberikan bawang putih, tidak diberi makan dan minum sehari, agar lebih cepat sembuh,'' katanya. (sip/ind)
Editor : Yuan Edo Ramadhana